Kanker tetap menjadi tantangan kesehatan global utama dengan opsi terapeutik yang seringkali dibatasi oleh resistensi obat dan efek samping yang merugikan. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi senyawa alam sebagai kandidat obat antikanker melalui pendekatan in silico komprehensif. Metode yang diimplementasikan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan analisis terhadap literatur ilmiah terkini (2020-2025) dari database bereputasi. Temuan menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dari tanaman seperti Babandotan (Ageratum conyzoides L.) dan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) memiliki afinitas pengikatan yang signifikan terhadap target molekuler kanker. Kaempferol dan stigmasterol teridentifikasi sebagai inhibitor potensial terhadap reseptor estrogen dan progesteron, sementara Squalene dan 19-hydroxycinnzeylanol-19-glucoside menunjukkan interaksi yang menjanjikan dengan reseptor kanker payudara. Simulasi dinamika molekuler mengkonfirmasi stabilitas kompleks ligan-reseptor ini, dengan analisis RMSD dan RMSF yang mengindikasikan konformasi yang konsisten selama simulasi. Integrasi teknik penambatan molekuler dengan evaluasi farmakokinetik memfasilitasi karakterisasi komprehensif kandidat obat dari perspektif interaksi molekuler dan profil ADMET. Residual asam amino spesifik seperti PHE 98 dan VAL 157 teridentifikasi sebagai determinan krusial dalam pengikatan ligan, menyediakan wawasan berharga untuk optimasi struktur lebih lanjut. Meskipun prediksi komputasional ini menjanjikan, validasi eksperimental tetap merupakan imperatif untuk konfirmasi aktivitas biologis dan karakterisasi mekanistik. Pendekatan terintegrasi yang menggabungkan kimia medisinal berbasis komputasi dengan eksplorasi sumber alam menawarkan strategi efisien untuk pengembangan agen antikanker dengan selektivitas yang ditingkatkan dan toksisitas yang diminimalkan, sekaligus mengatasi keterbatasan terapi konvensional.