Sjahrul Meizar Nasri
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluasi Hasil Pengukuran Faktor Fisika Lingkungan Kerja di PT. X Tahun 2018, 2019 & 2021 : Evaluations the Results of Measuring Physical Factors of the work Environment at PT. X years 2018, 2019 & 2021 Edo Nur Yusuf; Sjahrul Meizar Nasri
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 4 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i4.5173

Abstract

Latar belakang: Higiene adalah usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia atau suatu upaya untuk mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan. Tujuan: Mengevaluasi data yang diperoleh tentang besarnya paparan yang dijumpai dan menyarankan tindakan pengendalian yang dapat memberikan perlindungan terhadap kesehatan kerja Metode: Studi ini dilakukan secara statistik deskriptif yang bertujuan untuk mengevaluasi hasil pengukuran faktor-faktor fisika di lingkungan kerja dengan parameter pengukuran sinar-UV, cahaya, kebisingan dan iklim kerja Tahun 2018, 2019 dan 2021. Adapun pengukuran yang dilakukan secara direct reading dengan menggunakan UV Radiation Meter, Lux Meter, Noise Dosimeter, Sound Level Meter dan Thermal Environmental Monitor. Hasil: Laporan pengukuran lingkungan kerja yang didapat menunjukan ada beberapa hasil yang melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) yang mengacu pada regulasi Permenakertrans No. 5 Tahun 2018 yaitu pengukuran di sinar-UV, cahaya, kebisingan dan iklim kerja Kesimpulan: Dari pemantauan higiene industri ditemukan beberapa hasil yang perlu mendapatkan perhatian karena menunjukan intensitas/ kadar yang cenderung melebihi regulasi yang berlaku dan perlunya tindakan evaluatif seperti penyesuaian SOP / penggunaan APD yang sesuai, mempersingkat dan memperjauh kontak dengan sumber bahaya serta penyesuaian kebutuhan cahaya yang diperlukan sesuai jenis pekerjaan demi menjaga kesehatan dan keselamatan kerja baik kepada lingkungan kerja maupun pekerja.
Analisa Penerapan Kartu Observasi Bahaya sebagai Penilaian K3 Karyawan di Perusahaan Jasa Inspeksi PT. EA Jakarta: Analysis of the Application of Hazard Observation Cards as an Employee K3 Assessment at the Inspection Services Company PT. EA Jakarta Hayu Weka Prasetya; Sjahrul Meizar Nasri
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 4 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i4.5195

Abstract

Latar belakang: Penyebab kecelakaan kerja secara umum adalah unsafe act (perilaku tidak aman) dan unsafe condition (kondisi tidak aman). Program penerapan Kartu Observasi Bahaya sebagai salah satu leading Indikator K3 Karyawan merupakan bentuk fokus yang diamati adalah faktor manusia. Dalam beberapa kasus kecelakaan besar yang pernah terjadi, akar permasalahan yang menjadi penyebab kecelakaan adalah berasal dari faktor manusia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari penerapan program Kartu Observasi Bahaya sebagai Indikator Penilaian K3 Karyawan Di Perusahaan Jasa Inspeksi PT. EA Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan bentuk penelitian observasional dengan menggunakan analisis penelitian bersifat deskriptif yang menggambarkan, mendeskripsikan dan menguraikan objek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian cross-sectional adalah suatu penelitian yang seluruh variabel diukur dan diamati dalam satu waktu (one point in time). Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari hasil observasi lingkungan kerja dan data sekunder perusahaan. Hasil: Berdasarkan data yang diperoleh diketahui masih ditemukan tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman pada tahun 2023 yaitu 30% untuk tindakan tidak aman dan 80.95% kondisi Tidak aman. Kondisi tidak aman didominasi dengan kurangnya kerapihan para karyawan saat bekerja. Program Kartu Observasi bahaya dilakukan oleh seluruh pekerja dengan adanya komunikasi dua arah. Data yang dianalisa adalah data yang diambil selama tahun 2023. Dan setiap Kartu Observasi Bahaya yang masuk ke departemen K3 akan dengan segera dilakukan tindakan wawancara dan closing temuan. Kartu Observasi Bahaya digunakan sebagai indikator besarnya kepedulian pekerja terhadap K3, mengingat banyak dan kompleksnya potensi bahaya Di lingkungan perkantoran Perusahaan Jasa Inspeksi PT. EA Jakarta. Kesimpulan: Pelaksanaan penerapan kartu observasi bahaya Di lingkungan perkantoran Perusahaan Jasa Inspeksi PT. EA Jakarta sudah sesuai dengan Undang- Undang No. 1 Tahun 1970 Pasal 9 Ayat 3 mengenai pembinaan terhadap tenaga kerja untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja. Program Kartu Observasi bahaya pada perusahaan jasa inspeksi PT. EA Jakarta sudah berjalan cukup baik, dimana terdapat 88.88% karyawan turut serta berpartisipasi mengamati dan mengisi kartu observasi bahaya di tahun 2023. Penerapan Kartu Observasi bahaya merupakan Leading Indicator dalam Pemantauan dan Evaluasi Kinerja K3.
Enhancing Noise-Induced Hearing Loss Detection through Air-BoneGap Assessment in Oil and Gas Workers Dewi Nata Rina; Sjahrul Meizar Nasri; Jenny Bashiruddin
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): The 4th MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) remains a major occupational health problem in the oil and gas industry. Conventional surveillance methods, such as air conduction (AC) thresholds or Standard Threshold Shift, are limited in distinguishing NIHL from other types of hearing loss, leading to potential underestimation of prevalence. The Air-Bone Gap (ABG) parameter compares air and bone conduction thresholds, enabling the detection of sensorineural hearing loss that reflects inner ear damage specifically attributable to noise exposure. This makes ABG a more effective tool for early detection of NIHL and for supporting targeted hearing conservation programs Objective : This study evaluated the role of ABG in improving NIHL identification accuracy. Research Methods/ Implementation Methods : A cross-sectional design was applied using secondary data from audiometric examinations of 495 oil and gas workers purposively selected from Similar Exposure Groups (SEG) routinely exposed to occupational noise. NIHL was defined based on audiometric screening criteria, with AC thresholds classified as normal or impaired, and ABG categorized into conductive, sensorineural, and mixed. Chi-square tests assessed associations at p < 0.05. Results : Results showed 14 cases (2.8%) of NIHL, all among workers with impaired AC thresholds, indicating a significant association between AC impairment and NIHL (p < 0.05). Moreover, all NIHL cases clustered exclusively in the sensorineural group of ABG classification, confirming a strong association between ABG and NIHL (< 0.05). Conclusion/Lesson Learned : These findings highlight that ABG provides greater specificity in distinguishing NIHL from other disorders. Incorporating ABG into routine audiometric surveillance may enhance