Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Penggunaan Lahan dan Pola Ruang Berbasis Koefisien Regim Aliran (KRA) pada DAS Air Bengkulu Izzatuddinillah, Iffah
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.25.2.56-63

Abstract

Daerah aliran sungai merupakan sebuah ruang yang memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan kestabilan hidrologi suatu wilayah. Penyebab-penyebab yang kerap terjadi adalah konversi lahan dalam bentuk vegetasi menjadi non vegetasi sehingga menurunkan fungsi idrologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan, kestabilan fungsi hidrologi DAS Air Bengkulu dan arahan pengelolaan DAS Air Bengkulu. Metode analisis yang digunakan adalah interpretasi visual citra, perhitungan statistik KRA dan arahan pengelolaan DAS. Berdasarkan hasil analisis perubahan penggunaan lahan pada tahun 2010-2015 terjadi peningkatan luas didominasi lahan permukiman 674.97 ha, perkebunan 606.98 ha dan penurunan dominan pada lahan hutan 1,177.25 ha. Pada periode 2015-2020 peningkatan signifikan pada lahan tegalan/ladang 1,383.09 ha, serta penurunan dominan pada lahan perkebunan dengan luas 1,202.91 ha. Karateristik hidrologi dilihat dari hasil analisis koefisesn regim aliran (KRA), hasil analisis KRA pada tahun 2012 dengan nilai 33.03 kelas rendah, tahun 2015 dengan nilai 25.91 kelas rendah dan tahun 2020 dengan nilai 313.49 kelas sangat tinggi. Berdasarkan skenario penggunaan lahan, kelas rendah pada tahun 2012 dan 2015, termasuk klasifikasi baik sehingga hidrologi DAS berjalan sesuai dengan fungsinya dengan penggunaan lahan dominan perkebunan yang mengalami peningkatan pada tahun 2010 sebesar 62.65 % dan tahun 2015 dengan nilai 63.82%, namun kondisi KRA tahun 2020 tergolong buruk, penggunaan lahan yang menyebabkan nilai KRA sangat tinggi, disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan hutan yaitu 19.77% dan perkebunan 61.51% mengalami penurunan luas, sedangkan permukiman, ladang/tegalan, semak belukar, dan tambang meningkat. Berdasarkan analisis keselarasan, kelas KRA, penggunaan lahan dan pola ruang, Skenario RTRW menghasilkan nilai selaras yaitu 65%, transisi 16% dan tidak selaras 19%. Mayoritas penggunaan lahan yang tidak selaras dengan pola ruang adalah berasal dari hutan, pertambangan dan perkebunan. Maka perlu dilakukan pengelolaan DAS Air Bengkulu terhadap lahan yang tidak selaras dengan arahan penggunaan lahan dan konservasi.
Potential of local Trichoderma in bioremediation of degraded soil Ghifari, Bima Iqbal; Ridho, Muhammad Rasyid; Putri, Reggina Sonia; Wagino, Syahwa Fitria Maharani; Azizah, Wanda Zahra; Husna, Muhimmatul; Izzatuddinillah, Iffah; Arraudah, Rahayu
Journal of Earth Kingdom Vol. 3 No. 2: January (2026)
Publisher : Institute for Advanced Science, Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/jek.v3i2.2026.2749

Abstract

Background: Soil degradation in Indonesia is a serious challenge, impacting agricultural productivity and environmental quality. One potential ecological solution is bioremediation using soil microorganisms such as Trichoderma spp. This study aims to identify local Trichoderma isolates from various regions in Indonesia along with their biological and functional characteristics in the bioremediation process. Method: This study uses a narrative literature review to synthesize conceptual and empirical evidence from academic journals, scientific articles, and policy reports. This review focuses on assessing the biological and functional characteristics of local Trichoderma isolates and their effectiveness in addressing unsustainable soil management and environmental degradation. Finding: The results of the literature study indicate that species such as Trichoderma harzianum, Trichoderma viride, Trichoderma asperellum, and Trichoderma koningiopsis can degrade organic and inorganic pollutants, suppressing pathogens, and improving soil fertility. The potential of each isolate is strongly influenced by its environmental origin and type of pollutant, with high effectiveness recorded in ex-mining soil, agricultural land, and pesticide-contaminated areas. Further research and policy support from research institutions or relevant parties are needed so that local Trichoderma can be developed as a bioremediation agent in sustainable agricultural systems in Indonesia. Conclusion: Local Trichoderma species offer a significant and sustainable solution for restoring soil health in Indonesia, provided that challenges related to technology adoption and isolate data can be overcome. Future success depends on cross-sector collaboration to bridge the gap between laboratory research and field application, ensuring that these biological agents are optimized through farmer education and regulatory support. Novelty/Originality of this article: This study presents a comprehensive synthesis of native Indonesian Trichoderma isolates, identifying a direct relationship between their geographic origin and their specific multifunctional effectiveness.