Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Kesehatan Mental Remaja dari Perspektif Bidang Psikologi, Konstruksi, dan Teknologi Puspa Ningrum; Khairunnisa' Syarif; Abdullah Adhha; Aqil Farras; Husni Mubarak
Lumbung Ngabdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): April
Publisher : Pusat Kajian dan Pengembangan Publikasi Ilmiah Institut Agama Islam Hamzanwadi Nahdlatul Wathan Lombok Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51806/d0918k63

Abstract

Kesehatan mental remaja merupakan isu global yang semakin mengkhawatirkan, terutama akibat stres, perundungan, dan dampak perkembangan teknologi. Data WHO menunjukkan 14% anak usia 10-19 tahun mengalami gangguan mental tanpa penanganan yang memadai. Oleh karena itu, tim pengabdi melaksanakan program pengabdian masyarakat di Panti Asuhan Takdir Ilahi Pekanbaru dengan sasaran kalangan remaja. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi tentang kesehatan mental dengan mengaitkan tantangan remaja dengan tekanan pekerjaan konstruksi, guna untuk meningkatkan motivasi belajar, serta membantu remaja mengembangkan potensi dan kepercayaan diri. Metode pelaksanaan kegiatan melibatkan tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan. Tahapan pelaksanaan terdiri dari metode ceramah, diskusi interaktif, serta simulasi dan pemutaran video edukasi yang relevan dengan kehidupan remaja. Peserta pengabdian diajak memahami hubungan tekanan mental dalam pekerjaan konstruksi dengan tantangan remaja sehari-hari, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan terhadap jumlah partisipasi, keaktifan, dan tingkat kepuasan serta pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi berbasis dari perspektif bidang psikologi, konstruksi, teknologi ini membantu peserta memahami pentingnya kesehatan mental secara kontekstual. Adanya peningkatan motivasi belajar dan pemahaman peserta terkait pentingnya menjaga kesehatan mental. Untuk tingkat kepuasan peserta diperoleh sebesar 94% sangat puas dan 6% puas terhadap kegiatan pengabdian yang dilaksanakan.
Behind the Mask of Achievement: How Perfectionism Fuels Impostor Syndrome in Collage Student Wita Indah Purnama; Khairunnisa' Syarif; Nurul Aiyuda
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2333

Abstract

Mayoritas mahasiswa mendambakan lingkungan akademik yang positif dan kompetitif. Namun, banyak mahasiswa menghadapi tekanan besar untuk mencapai standar tinggi dalam studi mereka. Sebagian individu merasa pencapaian prestasinya merupakan hasil keberuntungan daripada keterampilan yang dimiliki, fenomena ini dikenal sebagai impostor syndrome. Salah satu faktor yang mempengaruhi impostor syndrome adalah perfeksionisme, dimana individu memiliki kecenderungan untuk menetapkan standar yang tinggi dan berusaha untuk mencapainya disertai dengan ketidakpuasan terhadap hasil yang dicapai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menguji hubungan impostor syndrome dengan perfeksionisme khususnya pada kalangan mahasiswa. Metode pengambilan data diambil menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster sampling dan subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa di Indonesia dengan rentang usia 18-25 tahun. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara perfeksionisme dengan impostor syndrome dengan p>0,05 dan r=0,698. Semakin tinggi perfeksionisme, maka semakin tinggi tingkat impostor syndrome. sebaliknya, semakin rendah perfeksionisme, maka semakin rendah pula impostor syndrome pada mahasiswa. Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala impostor syndrome dan perfeksionisme. Validitas instrumen dipastikan melalui professional judgement, Content Validity Index (CVI), Aiken's V, dan analisis korelasi item total. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami hubungan perfeksionisme dengan Impostor Syndrome dalam diri mereka, sehingga mahasiswa dapat mengelola tekanan akademik, mengurangi keraguan diri, dan membangun kepercayaan diri yang lebih sehat.