Penuaan adalah proses alami yang melibatkan perubahan fisik, psikologis, dan sosial pada individu. Namun, seringkali proses ini disertai dengan risiko malnutrisi, terutama pada lansia. Malnutrisi pada lansia tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik mereka, tetapi juga dapat berdampak pada fungsi kognitif dan interaksi sosial mereka. Pentingnya peran keluarga dalam mencegah dan mengatasi masalah malnutrisi pada lansia tidak dapat dipandang remeh. Dalam banyak kasus, keluarga menjadi sumber utama dukungan dan perawatan bagi lansia yang mengalami masalah gizi. Oleh karena itu, pendekatan dokter keluarga yang holistik dan komprehensif sangatlah penting dalam menangani masalah ini. Sebagai contoh, dari kasus Ny. R, seorang wanita berusia 66 tahun dengan kondisi sosio-ekonomi rendah dan kurangnya pengetahuan tentang gizi. Dalam kasus ini, dokter keluarga tidak hanya fokus pada penanganan medis langsung, tetapi juga melakukan pendekatan edukasi dan intervensi yang melibatkan keluarga Ny. R. Edukasi tentang nutrisi yang seimbang, demonstrasi cara memasak makanan bergizi, serta pemberian bahan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi Ny. R dilakukan untuk meningkatkan status gizinya. Pendekatan ini berbasis pada Evidence Based Medicine (EBM), yang memastikan bahwa intervensi yang dilakukan didasarkan pada bukti ilmiah terkini. Melalui pendekatan ini, tidak hanya terjadi peningkatan berat badan dan status gizi Ny. R, tetapi juga peningkatan pengetahuan keluarga tentang pentingnya gizi dan cara memenuhi kebutuhan gizi yang sesuai. Pemantauan secara berkala juga penting untuk memastikan perubahan yang diinginkan telah tercapai dan untuk menyesuaikan intervensi jika diperlukan. Dengan pendekatan yang holistik dan komprehensif seperti ini, secara efektif mengatasi masalah malnutrisi pada lansia dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.