Pinontoan, Odie
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN TINGKAT PENGETAHUAN DBD DAN SIKAP SERTA TINDAKAN PENCEGAHANNYA ANTARA MASYARAKAT DI DAERAH ENDEMIS DAN DAERAH SPORADIS DI MANADO Marpaung, Zusi Lourentine; Tatura, Suriadi N.N.; Pinontoan, Odie
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.27664

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah kesehatan global begitu pula di Indonesia. Kasus DBD di Kota Manado mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir termasuk di wilayah kerja Puskesmas Paniki Bawah. Data kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Paniki Bawah dalam beberapa tahun terakhir termasuk kategori tinggi antara lain Kelurahan Paniki Bawah dan Kelurahan Lapangan. Berdasarkan stratifikasi endemisitas, Kelurahan Paniki Bawah masuk dalam kategori endemis dan Kelurahan Lapangan tergolong sporadis. Kegiatan pencegahan dan pengendalian yang dilakukan oleh petugas kesehatan belum optimal, pengetahuan, sikap dan tindakan yang baik dari masyarakat terhadap upaya pencegahan DBD sangat diperlukan guna meminimalkan angka kesakitan dan kematian akibat DBD. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalissi perbandingan tingkat pengetahuan DBD dan sikap serta tindakan pencegahaannya antara masyarakat di daerah endemis dan daerah sporadis di Manado. Penelitian ini menggunakan analitik komparatif dengan pendekatan croos sectional, sampel pada penelitian ini adalah kepala keluarga di Kelurahan Paniki Bawah dan Kelurahan Lapangan pada bulan November- Desember 2023 dengan teknik pengambilan sampel bersifat sensus berjumlah 271 responden. Peneliti menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap dan tindakan. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada sikap pencegahan DBD (p-value=0,037). Seementara pada pengetahuan dan tindakan tidak ada perbedaan yang bermaknsa (p-value= 0,995 dan p-value-0,206). Kesimpulan terdapat perbandingan sikap pencegahan DBD pada masyarakat daerah endemis (Kelurahan Paniki Bawah) dan daerah sporadis (Kelurahan Lapangan)
Faktor Determinan Kelelahan Kerja pada Tenaga Kesehatan di Ruang Operasi: Studi Cross Sectional di Indonesia Liando, Frisca Pricilia; Doda, Diana Vanda Daturara; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Pinontoan, Odie; Sinolungan, Jehosua S. V.
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 6 (2025): Desember 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i6.2484

Abstract

Kelelahan kerja merupakan masalah penting pada tenaga kesehatan di ruang operasi karena berdampak pada keselamatan pasien, kualitas pelayanan, dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Ruang operasi memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi, durasi kerja panjang, serta pengaturan shift yang berpotensi meningkatkan risiko kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan kelelahan kerja pada tenaga kesehatan di ruang operasi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di ruang operasi sebanyak 62 orang dijadikan sampel penelitian. Variabel independen meliputi usia, shift kerja, masa kerja, dan beban kerja, sedangkan variabel dependen adalah kelelahan kerja. Analisis data dilakukan secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia (p=0,033), shift kerja (p=0,045), masa kerja (p=0,037), dan beban kerja (p=0,005) berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja. Variabel yang paling dominan berpengaruh adalah shift kerja (p=0,036; OR: 6,056) dan usia. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada tenaga kesehatan ruang operasi dipengaruhi oleh faktor individual dan faktor pekerjaan, sehingga diperlukan pengelolaan beban kerja dan pengaturan shift yang lebih optimal untuk menurunkan risiko kelelahan kerja.