Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Covid-19 Rawat Inap Dengan Pneumonia Menggunakan Metode Atc/Ddd Nugraha Putra, Oki; Purwaningtyas, Mida; Sofia, Sofia; Ramadhani, Sylvia Rizki
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 10 No 1 (2023): Jurnal Farmasi Galenika Vol 10 No 1
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v10i1.281

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu infeksi sekunder yang sering ditemukan pada pasien COVID-19 dan memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Penggunaan antibiotik yang tepat pada pasien COVID-19 dengan pneumonia akan mempercepat proses kesembuhan dan menurunkan mortalitas. Penggunaan antibiotik yang berlebihan akan berisiko menimbulkan resistensi antibiotik, oleh karena itu diperlukan suatu evaluasi tingkat penggunaan antibiotik demi terwujudnya penggunaan antibiotik yang rasional. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik untuk pasien COVID-19 dengan pneumonia yang dirawat di unit perawatan non-ICU rumah sakit H.S Samsoeri Mertojoso, secara kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD. Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif menggunakan data rekam medik pasien COVID-19 pneumonia yang dirawat pada bulan Januari hingga Maret 2021. Data diambil pada bulan Desember 2021 hingga Maret 2022. Data antibiotik ditampilkan sebagai DDD/100 patient-days dan diklasifikasikan yang masuk dalam Drug Utilization 90% (DU 90%). Diperoleh 71 pasien COVID-19 dengan pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan metode ATC/DDD didapatkan tiga antibiotik dengan tingkat penggunaan terbanyak yaitu levofloksasin, moksifloksasin, dan azitromisin sebesar 66,42; 15,73; dan 13,55 DDD/100 patient-days, secara berturut-turut. Antibiotik dengan tingkat penggunaan yang paling sedikit yaitu seftazidim sebesar 0,18 DDD/100 patient-days. Antibiotik yang masuk dalam klasifikasi DU 90% yaitu levofloksasin, moksifloksasin, dan azitromisin. Tingkat penggunaan antibiotik terbanyak dalam tatalaksana pasien COVID-19 dengan pneumonia ialah levofloksasin, moksifloksasin, dan azitromisin. Diperlukan evaluasi secara berkala penggunaan antibiotik yang disesuaikan dengan peta kuman, profil resistensi, dan luaran klinis pasien untuk terwujudnya penggunaan antibiotik yang rasional. Kata Kunci: COVID-19, Pneumonia, Antibiotik, ATC/DDD, non-ICU
Genetic Polymorphism of N-acetyltransferase 2 (NAT2) among Patients with Tuberculosis: A Scoping Review of the Indonesian Studies Putra, Oki Nugraha; Ramadhani, Sylvia Rizki; Yulistiani, Yulistiani; Julaeha, Julaeha; Hidayatullah, Affan Yuniar Nur
Sciences of Pharmacy Volume 5 Issue 2
Publisher : ETFLIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58920/sciphar0501599

Abstract

The distribution of N-acetyltransferase-2 (NAT2) genetic polymorphisms varies across ethnic groups among Indonesian TB patients. This review aimed to provide a comprehensive understanding of the prevalence of NAT2 genetic polymorphisms and their association with DILI and isoniazid pharmacokinetics in Indonesian TB patients. A scoping review was conducted by searching Google Scholar, Scopus, and PubMed in accordance with PRISMA guidelines for scoping review (PRISMA-ScR). We retrieved 668 studies from three databases and we enrolled 12 studies for final analysis. Eleven studies reported on adult TB patients and one study on pediatric TB patients. Overall, the available evidence suggests that the slow acetylator phenotype is relatively common among TB patients in Indonesia, although its distribution varies across regions and ethnic groups. The NAT2*6 polymorphism was frequently observed among TB patients with a slow acetylator phenotype. TB patients with slow acetylation exhibited higher serum concentrations of isoniazid, which were significantly associated with an increased risk of DILI. No studies reported an association between NAT2 genetic polymorphisms or acetylation status and treatment outcomes among TB patients. This review confirms substantial variation in NAT2 genetic polymorphisms across studies in Indonesia. TB patients with a slow acetylator phenotype appear to have a greater risk of developing DILI compared with those with intermediate or fast acetylator phenotypes. Information on acetylator status may identify patients at higher risk of hepatotoxicity, particularly those with the slow acetylator phenotype. Therefore, integrating NAT2 pharmacogenetics into clinical practice may predict hepatotoxicity and optimize tuberculosis therapy.