Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Okultisme Perdukunan: Kajian Praktek Okultisme Penggunaan Jeruk Purut di Batak Toba Deke, Imanuel Umbu Zawila; Takaliuang, Jammes Juneidy
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 4 No 2 (2025): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v4i2.386

Abstract

Dalam kalangan orang Batak Toba bahwa dalam praktek okultisme perdukunan dengan penggunaan jeruk purut sebagai alat/media yang disebut dengan istilah “Marpangir atau Unte pangir”. Dalam prakteknya penggunaan jeruk purut dapat dipercayai memberikan kekuatan, membersihkan diri, dapat menyembuhkan orang sakit maupun dapat mengusir roh jahat dari manisfestasi. Praktek okultisme perdukunan dengan penggunaan jeruk purut adalah praktek yang bertentangan dengan Alkitab. Alkitab menolak dengan tegas praktek perdukunan, karena praktek tersebut merupakan tipu daya, kejahatan dan segala musuh dari kebenaran firman Tuhan dan bertentangan dengan kehendak Allah (Kisah 13:10). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif melalui teknik observasi dan wawancara untuk pengumpulan data. Hasil dari penelitian berdasarkan temuan adalah bahwa, okultisme perdukunan dengan penggunaan jeruk purut adalah praktek yang dipercayai sebagai media dapat menyembuhkan orang sakit, membersihkan diri dari roh jahat. Praktek demikian adalah praktek yang salah dengan konsep berpikir yang keliru dan tidak dikehendaki oleh Allah. Praktek ini sangat bertentangan dengan Alkitab yang adalah kebenaran, maka dengan demikian praktek okultisme perdukunan tidak dapat terima sebagai suatu kebenaran, yang diterima hanya Alkitab sebagai kebenaran yang berbicara bahwa Allah satu-satu sumber kesembuhan ilahi.
Eksegetis Yudas 1:20-21: membangun diri dalam iman dan implikasinya terhadap Against Heresies Deke, Imanuel Umbu Zawila
Davar : Jurnal Teologi Vol 6, No 2 (2025): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v6i2.212

Abstract

ABSTRACTThis paper explains the importance of strong faith as a foundation for defending oneself and resisting false teachings. Jude advises believers to build themselves on the foundation of their most holy faith. This study uses a library research method by combining various journal and book sources and a hermeneutic system to discover the meaning of Jude 1:20-21. The results of the study show that Jude 1:20-21 is relevant in the lives of believers today. First, believers must build themselves in a solid faith in Christ as a foundation for opposing and resisting false teachings. Second, believers in building faith must be under the guidance of the Holy Spirit as the nurse of their faith. Third, believers must maintain their faith in God's love and not distance themselves from God's love. The identity of a believer is seen from a strong faith so that it is not influenced by false teachings that threaten the believer's life. Believers must continuously build faith in Christ. Keywords: Jude 1:20-23, faith, believer, Againts Heresies. ABSTRAKTulisan ini menjelaskan pentingnya iman yang kuat sebagai fondasi dalam mempertahankan diri serta melawan pengajaran sesat. Yudas menasehati orang percaya untuk membangun diri di atas dasar iman yang paling suci. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan memadukan berbagai sumber jurnal dan buku serta sistem hermeneutik untuk menemukan makna dari Yudas 1:20-21. Hasil penelitian menunjukkan Yudas 1:20-21 relevan dalam kehidupan orang percaya masa kini. Pertama, orang percaya harus membangun diri dalam iman yang kokoh di dalam Kristus sebagai fondasi untuk menentang dan melawan pengajaran sesat. Kedua, orang percaya dalam membangun iman harus di bawah pimpinan Roh Kudus sebagai perawat iman dari orang percaya. Ketiga, orang percaya harus memihara imannya dalam kasih Allah dan tidak menjauhkan diri dari kasih Allah. Identitas orang percaya adalah dilihat dari iman yang kuat sehingga tidak dipengaruhi oleh pengajaran sesat yang mengancam kehidupan orang percaya. Orang percaya harus membangun iman kepada Kristus secara terus-menerus. Kata Kunci: Yudas 1:20-23, iman, orang percaya, Against Heresies.
KRISTEN PROGRESIF: ANALISIS KRITIS TEOLOGIS DARI SUDUT PANDANG PERJANJIAN LAMA Deke, Imanuel Umbu Zawila
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 1 (2025): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i1.48

Abstract

Pengajaran Kristen Progresif adalah pengajaran yang sudah lama ada namun dikemas dengan ideologi atau paradigma konteks masa kini dan muncul kembali di tahun 2024, pengajaran ini sangat bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Penulis ingin kemukakan mengenai pengajaran Kristen Progresif terhadap pemahaman dari penganutnya tentang dosa, keselamatan dan konsep Tritunggal ditinjau sudut pandang Perjanjian Lama. Kristen Progresif mengganggap dosa bukan suatu pelanggaran terhadap hukum Allah, Kristen Progresif mengklaim bahwa keselamatan dapat diperoleh melalui perbuatan baik, dan Kristen Progresif menyatakan bahwa konsep Tritunggal dianggap sebagai suatu batu sandungan dan bukan lagi sesuatu yang penting dalam tatanan Kekristenan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penggunaan metode literatur (Library Research) kepustakaan yang merujuk analisa teks dan wacana dengan pengggunakan sumber primer dan sekunder yang sesuai dengan pokok penelitian. Tujuan penelitian ini adalah mengemukakan sudut pandang Teologi Perjanjian Lama terhadap pengajaran Kristen Progresif. Hasil penelitian menemukan beberapa hal penting. Pertama, bahwa dosa sebagai pelanggaran terhadapa Allah, pemberontakan terhadap Allah, maupun ketidakberimanan kepada Allah yang telah menciptakan manusia itu sendiri. Kedua, Keselamatan Anugerah Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus diterima melalui iman percaya bukan perbuatan baik. Ketiga, Tritunggal Perjanjian Lama dinyatakan dalam bentuk keesaan Allah, dan Tritunggal menjadi tatanan penting dalam kehidupan Kekristenan masa kini.