Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potensi Logam Tanah Jarang pada Fly Ash dan Bottom Ash Endapan Batubara Peringkat Rendah Formasi Muara Enim Zahar, Wahyudi; Yulanda, Yudi Arista; Wiratama, Jarot; El Hakim, Muhammad
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 2 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/wffpht91

Abstract

Logam tanah jarang (LTJ) merupakan komoditas strategis saat ini seiring dengan perkembangan teknologi. Penggunaan LTJ banyak diaplikasikan pada industri pertahanan, kesehatan, mobil listrik, turbin, handphone, laptop, dan teknologi maju lainnya. Keterdapatan LTJ pada umumnya berasosiasi sebagai mineral-mineral aksesoris pada batuan berkomposisi granitoids seperti pada monasit, xenotim, allanit, titanit, dan zircon. Akan tetapi berdasarkan beberapa penelitian ditemukan adanya pengkayaan LTJ pada abu sisa pembakaran PLTU FABA (fly ash dan bottom ash). Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterdapan LTJ pada kondisi batubara Peringkat Rendah di Formasi Muara Enim pada endapan insitu dan pengkayaan pada FABA. Sampel batubara diambil secara grab sampling pada lokasi tambang sedangkan sampel FABA diambil secara grab sampling di PLTU Mulut Tambang. Pengujian Laboratorium dilakukan melalui Uji XRF untuk melihat kandungan oksida mineral dan Laboratorium BRIN untuk dilakukan analisis ICP OES. Hasil analisis XRF menunjukkan elemen oksida utama penyusun batubara pada endapan batubara insitu terdiri atas Fe2O3, MgO, dan SO3. Hasil analisis ICP-OES memperlihatkan terjadi pengkayaan konsentrasi LTJ pada FABA. Pengkayaan paling besar terjadi pada unsur Cerium (Ce) dimana pada Fly Ash terjadi peningkatan 19 kali menjadi 40,12 Ppm dan pada Bottom Ash 17 kali menjadi 37,15 Ppm. Selanjutnya pada Lantanum (La) terjadi pengkayaan 27 kali pada fly ash menjadi 19,02 Ppm dan 24 kali pada bottom ash menjadi 16,86 Ppm. Secara umum pengkayaan terjadi lebih besar pada fly ash dibandingkan dengan bottom ash.
Karakterisasi Pasir Silika Sebagai Bahan Baku dalam Pembutan Panel Surya Berdasarkan Analisis Geokimia di Desa Teluk Rendah, Jambi El Hakim, Muhammad; Zahar, Wahyudi; Yulanda, Yudi Arista; Wiratama, Jarot
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 4 No. 4 (2026): Edisi April
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v4i4.1638

Abstract

Indonesia sebagai negara tropis menjadikannya sebagai negara yang mendapatkan penyinaran matahari yang lama dan konsisten setiap harinya. Oleh sebab itu potensi pemanfaatan panel surya di Indonesia juga cukup besar, di samping bahan bakunya juga tersedia di Indonesia. Pasir silika memiliki sumberdaya yang berlimpah, stabil digunakan sebagai penyimpan panas, dan memerlukan biaya yang rendah sebagai penyimpan panas dengan temperatur hingga 1.2000C. Penelitian ini menggunakan metoda kuantitatif, yaitu dengan cara melakukan pengujian dan pengukuran secara geokimia pada sampel pasir silika yang ada di Desa Teluk Rendah, Jambi. Sampel diuji menggunakan motede Atomic Absorption Spectrometry (AAS) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui dan melakukan analisis terhadap karakterisasi sampel pasir silika yang telah diambil. Kualitas pasir silika sebagai bahan baku panel surya sebaiknya mengandung kadar unsur Silicon Dioxide lebih dari 99,7%, Iron Oxide kurang dari 85 ppm, Titanium Dioxide kurang dari 140 ppm, Aluminium Oxide kurang dari 500 ppm. Dari hasil pengujian AAS didapatkan karakteristik pasir silika di daerah penelitian tidak memenuhi syarat dengan kadar Silicon Dioxide sebesar 95,78%, Iron Oxide 17.200 ppm, Titanium Dioxide 13.700ppm, dan Aluminium Oxide 8.900ppm. Namun jika dilihat dari kandungan silika yang cukup tinggi pada sampel, maka kemungkinan pemanfaatan pasir silika pada daerah penelitian perlu dikaji lebih lanjut. Dari hasil uji SEM-EDS didapatkan unsur yang paling banyak terdeteksi berupa Carbon dengan massa konsentrasi 40,86%, Oksigen dengan massa konsentrasi 30% dan Silikon 25,22%. Kehadiran Silikon (Si) dan Oksigen (O) dalam jumlah yang banyak mengindikasikan mineral yang paling banyak pada daerah ini adalah mineral Silikat (SiO2) dengan total massa konsentrasi 53,97%.