Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FILM TARI SUMBANG SEIMBANG: REFLEKSI ZAPIN PENYENGAT DALAM KONSEP KESEIMBANGAN Tampubolon, Rines Onyxi
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 12 No. 1 (2023): Gesture: Jurnal Seni Tari (April)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v12i1.44735

Abstract

Film tari œSumbang Seimbang adalah karya film tariyang digagas lewat proses penerjemahan makna dan simbol zapin penyengat dalam merepon kondisi keterbatasan ruang gerak (pandemi) sebagai media refleksi dari nilai tradisi. Zapin Penyengat yang telah mengarungi perjalanan berkeseniannya selama 100 tahun lebih, tentunya memiliki penghayatan yang dalam bagi masyarakat Pulau Penyengat sebagai identitas kehidupan masyarakat pesisir dalam meyakini hal yang mereka percayai sebagai nilai kehidupan. Berangkat dari penghayatan terhadap identitas daerah dan nilai kehidupan dalam Zapin Penyengat tersebut, tercuat sebuah ideologi refleksi diri melalui konsep keseimbangan. Konsep keseimbangan hadir dari pemaknaan akan nilai sejarah, motif, dan gerak zapin penyengat yang menghubungkan tiga unsur kehidupan yaitu, Ketuhanan, Alam, dan Manusia. Memaknai nilai keseimbangan hubungan fungsional antara manusia, alam, dan sang pencipta, œSumbang Seimbang ditransformasikan dari ide menjadi wujudkarya film tari lewat metode penciptaan seni yaitu, Metode Awalan (Body Knowing dan Body Transfering), Metode Lanjutan (metode penciptaan dan pengembangan kreatif Alma M.Hawkins) dan Metode Akhir (teknik dasar pemahaman sinematografi). Karya ini bertujuan sebagai media refleksi untuk mengingat kembali akan nilai kehidupan, pedoman dan pembelajaran hidup lewat pemaknaan kesenian tradisi yang dialih wujudkan ke dalam bentuk film tari. 
Peningkatan Kemampuan Teknik Tari Condong lewat Loka Karya kepada Mahasiswa di Lingkungan Program Studi Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Jakarta Santi Sukma Melati, Ni Ketut; Tampubolon, Rines Onyxi; Guntaris, Endik; Gayatri, Ratu Sekar Kumala; Gunawan , Nazla Fahira
Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat) Vol 5 No 6 (2025): Jurnal Pustaka Mitra (Pusat Akses Kajian Mengabdi Terhadap Masyarakat)
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakamitra.v5i6.1392

Abstract

Loka karya dalam konteks seni tari berarti sebuah kegiatan pelatihan praktis dan pembelajaran mendalam yang melibatkan interaksi langsung antara peserta dengan para ahli atau praktisi seni. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan teknis, penghayatan, serta pemahaman terhadap seni tari tertentu melalui praktik langsung dan diskusi. Kurangnya akses langsung terhadap praktik dan pengalaman lapangan yang autentik membuat pemahaman mahasiswa terhadap nilai estetika dan filosofi tari Condong menjadi kurang optimal. Tari Condong yang merupakan bagian penting dari tradisi tari Bali ini juga memiliki ciri khas gerak dan ekspresi yang sangat spesifik, yang memerlukan pembelajaran intensif agar dapat dipahami dan diaplikasikan dengan benar. Keberagaman pola gerak yang terdapat pada tari condong menuntut seorang penari harus mampu melakukan tekniknya dengan tepat. Tidak hanya menjadi salah satu tarian iconic, tari Condong juga menjadi patokan tari dasar putri karena hampir seluruh gerak tari bali putri terangkum dalam tari Condong. Hal ini menyebabkan setiap penari wajib menuntaskan pemebelajaran mengenai teknik dari tari Condong sebelum berpindah pada tari Bali yang lain seperti tari kekebyaran maupun tari palegongan. Permasalahan yang dihadapi mahasiswa antara lain kurangnya pemahaman mendalam terhadap teknik dasar, serta keterbatasan praktik langsung dengan pengajar ahli. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pelaksanaan loka karya sebagai strategi utama. Kegiatan ini melibatkan praktisi tari sebagai narasumber dan pelatih utama. Hasil dari loka karya menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan teknik mahasiswa, baik dari segi ketepatan gerak, ekspresi, maupun pemahaman terhadap struktur tari. Kesimpulannya, loka karya terbukti efektif sebagai sarana alternatif pembelajaran yang mampu mendukung pengembangan kemampuan teknis tari tradisional secara optimal. Setelah lokakarya diselenggarakan, 80% mahasiswa menunjukkan peningkatan presisi teknis dan ekspresifitas dalam pendalaman tari Condong serta telah mampu mengaplikasikan pengalamannya di masyarakat seperti sanggar tari maupun sekolah.
ANALISIS KONSEP NGUNDA BAYU PADA TARI REJANG DESA, DI DESA TISTA, KECAMATAN ABANG, KABUPATEN KARANGASEM, BALI Santi Sukma Melati, Ni Ketut; Tampubolon, Rines Onyxi; Maharani, Lissa; Radiana Putra, I Gede; Bang Sada Graha Saputra, I Putu Bagus
Jurnal Pendidikan Tari Vol 6 No 1 (2025): Inovasi dan Penguatan Metode Pembelajaran Seni Tari yang Berorientasi Pada Keterl
Publisher : Program Studi Pendidikan Tari FBS UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPT.616

Abstract

The Rejang Desa dance has become an important cultural heritage in Tista Village, Abang District, Karangasem Regency. This dance is characterized by its distinctive and classical makeup and costume design, which continue to uphold local wisdom as the central element of their aesthetic arrangement. Rejang Desa can only be performed and appreciated during the Kuningan and Manis Kuningan ceremonies, making it distinct from Rejang Dewa, which may be performed in various religious ceremonies across different villages. The term dance is inseparable from the concept of movement technique, as every dance composition employs movement as its primary medium of expression. In dance movements, the control of breath and energy is essential to maintain the integrity and fluidity of motion. This understanding is commonly referred to as the Ngunda Bayu technique, which is an inherent practice among Balinese dancers across various dance forms. Therefore, this study aims to examine and understand the application of the Ngunda Bayu concept in the Rejang Desa dance of Tista Village. The presence of this concept can be observed through the duration of the performance and the structure of the presentation. To explore this issue, a qualitative research method is employed, supported by the theory of form. It is expected that the findings of this research will reveal and substantiate the use of the Ngunda Bayu concept within the Rejang Desa dance of Tista Village. In line with this objective, the author seeks to develop a scientific discussion that examines the embodiment of Ngunda Bayu in the performance of Rejang Desa in Tista Village.