AbstrakKarya tari kontemporer di Bali kerap menjadi ruang negosiasi antara tradisi ritual dan inovasi artistik. TanjungSambuk lahir dari inspirasi prosesi pengantin Hindu setelah upacara mekala- kalaan dan sebelum natab mewidi-widana, tepat pada momen intim di bilik pengantin ketika pasangan berbagi rasa bahagia, haru, dan keraguan.Latar belakang ini menegaskan urgensi penelitian, yakni bagaimana ritual sakral dapat direinterpretasi dalambentuk tari kontemporer yang tetap berpijak pada nilai estetika Hindu. Permasalahan utama yang diangkat adalahbagaimana simbolisasi emosi dan ritus pengantin divisualkan melalui medium tari sehingga relevan dengankonteks seni pertunjukan masa kini. Penelitian ini menggunakan metode Angripta Sesolahan (menciptakan tari-tarian), dengan pendekatan kualitatif berbasis praktik artistik. Teori yang digunakan meliputi etnoestetika(Kaeppler), performativitas (Schechner), dan simbolisme ritual (Turner), sehingga analisis mencakup aspek prosespenciptaan, bentuk, serta makna simbolik pertunjukan. Eksperimen artistik diwujudkan melalui koreografiberkelompok (4 penari laki-laki, 4 perempuan) dengan iringan teknologi musik digital (Musical Instrument DigitalInterface [MIDI]) berdurasi 12 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanjung Sambuk berhasil menghadirkanruang estetis yang memadukan ekspresi emosional pengantin dengan inovasi kontemporer tanpa kehilangan akarritus Hindu. Novelty penelitian ini terletak pada integrasi praktik ritual ke dalam koreografi kontemporer berbasisMIDI, yang sekaligus membuka perspektif baru tentang estetika tari Bali modern sebagai medium transformasinilai religius dan emosional.Kata kunci: Tanjung Sambuk; Ritual Hindu; Estetika Tari; Kontemporer; Etnoestetika.