Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Yuridis Putusan Hakim Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang Studi Kasus Putusan Nomor 1656/Pid.Sus/2023/PN Mdn Nuriswandi, Iqbal
Jurnal Kajian Hukum Dan Kebijakan Publik | E-ISSN : 3031-8882 Vol. 2 No. 1 (2024): Juli - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/w089hv49

Abstract

Human trafficking is a serious crime involving the exploitation of human beings through deception, coercion, or violence for purposes such as forced labor, slavery, or sexual exploitation. Human trafficking often involves organized criminal networks that operate across national borders, targeting vulnerable individuals such as women, children, and migrants. In the legal context, various international and national laws have been implemented to combat and prevent human trafficking, such as the Palermo Protocol and Law Number 21 of 2007 in Indonesia. Law enforcement efforts include investigation, prosecution, and providing protection to victims. Eradication of human trafficking requires cooperation between the government, non-governmental organizations, and the wider community to create awareness, reduce risk factors, and support victim rehabilitation.The criminal activity that is considered rampant in Indonesia, human trafficking, threatens people's lives. The problems discussed are how the laws and regulations regarding human trafficking in Indonesia, especially the Law on Human Trafficking and the Criminal Code, are regulated and how perpetrators of human trafficking are given criminal sanctions. This study aims to analyze the basis for judges' considerations regarding the crime of human trafficking and the application of sanctions in the legal system. A normative legal approach is used in this study. This approach looks at the problem of legal literature studies, such as books or articles on human trafficking, as primary legal materials and secondary legal materials. The results of this study indicate that human trafficking is increasing in various countries, including Indonesia, and in developing countries, thus attracting the attention of the world, especially the UN. Human trafficking is included in the category of criminal acts or more precisely special criminal acts. Indonesian criminal law regulates it with various provisions. The provisions include prohibitions and eradication as stated in the Criminal Code, Legislation and Draft Criminal Code Articles 546-561 concerning human trafficking. The application of these sanctions is threatened by criminal law with imprisonment and fines. People involved in human trafficking have personal or group interests to seek profit with an organized and systematic mode of operation.
Perlindungan Hukum Merek Dagang Oleh Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham: Studi Kasus Pembatalan Merek Nuriswandi, Iqbal; Amanda, Kiki Rizki; Devano Putra, Andreas Doklas Denieliandra; Ganefi
Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan Vol. 2 No. 1 (2025): Oktober - Desember
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dalam memberikan perlindungan hukum terhadap merek dagang melalui mekanisme Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dengan fokus pada studi kasus pembatalan merek MS Glow vs PS Glow. Perlindungan hukum terhadap merek merupakan bagian penting dalam menjamin kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan hak ekonomi pelaku usaha. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dengan analisis deskriptif kualitatif, menggunakan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kemenkumham melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) berperan sentral dalam mengatur, memeriksa, dan menegakkan hukum merek. Implementasi digitalisasi sistem pendaftaran melalui Intellectual Property Online (IPROLINE) telah meningkatkan efisiensi dan transparansi proses administrasi. Namun demikian, masih ditemukan sejumlah kendala, seperti lemahnya verifikasi substantif terhadap kemiripan merek, rendahnya kesadaran hukum pelaku UMKM, dan lamanya proses penyelesaian sengketa di pengadilan niaga. Studi kasus MS Glow vs PS Glow menegaskan pentingnya penerapan prinsip keadilan prosedural dan substantif oleh Kemenkumham dalam menjaga netralitas hukum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perlindungan hukum merek oleh Kemenkumham tidak hanya berfungsi secara administratif, tetapi juga berperan strategis dalam memperkuat sistem hukum nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas di Indonesia.