Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENOLAKAN MASYARAKAT TERHADAP VAKSIN COVID 19 DI WILAYAH KECAMATAN SINDANG DATARAN, KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU Eka Putri, Vahlufi; Martha, Evi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.28055

Abstract

Menurut laporan Our World in Data, lebih dari setengah penduduk Indonesia atau 57,93% telah menerima dua dosis vaksin Covid-19 hingga April 2022. Walau demikian, angka tersebut menempatkan Indonesia berada di urutan ke tiga terbawah dengan capaian vaksinasi penuh di Asia Tenggara. Dari data survey yang sudah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group On Immunization (ITAGI), didapatkan bahwa Provinsi Sumatera memiliki tingkat penerimaan lebih rendah dibandingkan Provinsi Papua Barat. Capaian vaksinasi di Provinsi Bengkulu pada  Oktober 2022: vaksinasi Dosis 1 sebanyak 85,31 %,dosis 2 (67,97 %),dosis 3 (25,29 %) dosis 4 (25,29 %).Capaian vaksinasi pada November 2022 di wilayah Kabupaten Rejang Lebong: vaksinasi Dosis 1 sebanyak 83,81 %, dosis 2 (66,83%), dosis 3 (28,31%), dosis 4 (34,31%). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus dengan menggunakan metode wawancara mendalam pada 2 informan kunci dan 5 informan utama. Hasil menunjukkan bahwa Attitude toward behavior (Perasaan dan Kecenderungan Bertindak) merupakan pendorong terbesar bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong untuk melakukan penolakan terhadap vaksinasi covid 19.Kemudian Perceived Control Behavior (Kemudahan dan Kesulitan) merupakan pendorong selanjutnya yang menyebabkan masyarakat di wilayah Kecamatan Sindang Dataran melakukan penolakan terhadap vaksinasi covid 19. Subjective Norm (Keyakinan Normatif dan Motivasi untuk memenuhi) adalah pendorong terakhir yang merupakan pendorong bagi masyarakat untuk melakukan vaksinasi covid 19. Subjective Norm (Keyakinan Normatif dan Motivasi untuk memenuhi) dalam penelitian ini tidak ada penekanan dan tidak memberikan dampak positif terhadap Intention dan Behavior, dibandingkan Attitude toward behavior dan Perceived Control Behavior.
ANALISIS PELAKSANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUALITAS PADA SISWA REMAJA DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL DI SLB X DAN SLB Y KOTA DEPOK Eka Putri, Vahlufi; Martha, Evi; Erwandi, Dadan
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37763

Abstract

Jumlah penyandang disabilitas usia sekolah (5-19 tahun) berkisar 2.197.833 jiwa. Sementara, yang terdata di Pusat Data dan Informasi Kemendikbudristek ada sekitar 269.398 anak yang mendapatkan pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah inklusi artinya baru sekitar 12 % anak yang dilayani kebutuhan pendidikannya. Siswa remaja dengan disabilitas intelektual membutuhkan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas dalam konteks pendidikan formal di SLB sebagai bekal pengetahuan dan untuk merespons dengan tepat situasi bahaya kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas, kesulitan yang dialami guru dan siswa remaja dengan disabilitas intelektual di SLB X dan SLB Y Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus yang dilakukan selama bulan Januari-Februari 2024 di SLB X dan SLB Y Kota Depok. Penentuan informan wawancara mendalam dilakukan secara purposive sampling. Metode penelitian ini menggunakan model CIPP. Hasil analisis variabel Context ; sebagian besar komponen kebijakan sudah terpenuhi, analisis variabel Input ; sebagian besar komponen sudah terpenuhi dengan baik, analisis variabel Process; dilaksanakan dengan maksimal di SLB X sedangkan di SLB Y belum maksimal, analisis variabel Product Dampak program di SLB X sudah ada dampak dari hasil pelaksanaan sedangkan di SLB Y belum ada dampak dikarenakan belum adanya program. Kesulitan yang dialami guru adalah waktu pelaksanaan dan kompetensi guru. Kesulitan yang dialami siswa adalah lingkungan dan dukungan orangtua/pengasuh.