An’asy, Zaharil
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cultural Content Analysis of English Textbook “Bahasa Inggris 2” for Senior High School Grade XI Iranta Purba, Agnes Dwi; Azkiya, Siti Nurul; Qadri, Asri Nurul; An’asy, Zaharil
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 10 NO. 2 2023
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v10i2.38221

Abstract

AbstractThis research aims to discover what and how culture is represented in the "Bahasa Inggris 2" textbook. A qualitative descriptive method was employed in this paper, focusing on documents as the primary data, in which nine chapters were analyzed utilizing a checklist of content analysis. The findings reveal three aspects of culture: cultural categories, elements, and senses. First, following the concept of Cortazzi & Jin (1999), three cultural categories, i.e., source culture, target culture, and international culture, were found in the textbook. Second, cultural elements based on Yuen (2011), i.e., products, persons, perspectives, and practices were observed. Finally, referring to Adaskou et al. (1990), the senses of culture included in the textbook were aesthetic, sociological, semantic, and pragmatic. Concerning the frequency of occurrence, the research results show that the cultural categories were mostly present through source culture (42.75%), whereas the cultural element was dominated by products (48.31%). Lastly, the sociological sense was found to occur the most (44.44%). These findings imply the need to have a balanced representation of the three mentioned cultural aspectAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan apa dan bagaimana budaya direpresentasikan dalam buku ajar “Bahasa Inggris 2”. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam makalah ini, dengan fokus pada dokumen sebagai data primer, sembilan bab dianalisis menggunakan checklist analisis isi. Temuannya mengungkap tiga aspek yang merepresentasikan budaya, yakni kategori budaya, elemen, dan penalaran. Pertama, mengikuti konsep Cortazzi & Jin (1999), tiga kategori budaya, yaitu budaya sumber, budaya target, dam budaya internasional, ditemukan dalam buku ajar. Kedua, elemen budaya berdasarkan Yuen (2011), yaitu produk, orang, perspektif, dan praktik yang diamati. Terakhir, mengikuti Adaskou dkk. (1990), Penalaran budaya yang dimuat dalam buku ajar tersebut bersifat estetis, sosiologis, semantik, dan pragmatis. Dilihat dari frekuensi kemunculannya, hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori budaya paling banyak hadir melalui budaya sumber (42,75%), sedangkan unsur budaya didominasi oleh produk (48,31%). Terakhir, penalaran sosiologis ditemukan paling banyak (44,44%). Temuan-temuan ini menyiratkan perlunya representasi yang seimbang dari tiga aspek: kategori budaya, elemen budaya, dan penalaran budaya.
MARRIAGE EDUCATION PRACTICES AT RECONCILIATION SCHOOLS Hadiyansyah, Dhuha; Hunaida, Wiwin Luqna; An’asy, Zaharil
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 02 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.112.05

Abstract

Abstract This study explores community-based marital education practices implemented by the Reconciliation School (SR), an initiative designed to help individuals heal emotional wounds caused by dysfunctional family systems. Employing a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis. The SR program adopts therapeutic frameworks developed by John Bradshaw and Virginia Satir, emphasizing family systems theory, inner child healing, and identity reconstruction. Data analysis was conducted using thematic coding and triangulation to ensure validity. Findings reveal significant improvements in participants’ interpersonal relationships and self-perception after completing the program. Participants reported enhanced emotional awareness, improved communication skills, and greater resilience in managing family dynamics. These results underscore the potential of community-based marriage education as a strategic alternative for strengthening family systems in Indonesia, particularly amid rising divorce rates, which currently range between 15–20 percent annually. Furthermore, SR’s hybrid model—integrating psychotherapy principles, adult learning theory, and spiritual reflection—creates a safe and transformative space for personal growth without requiring formal clinical intervention. The study recommends scaling similar programs through policy support and cross-sector collaboration to broaden accessibility. Ultimately, community-based family education offers a preventive approach to mitigating family dysfunction and its social consequences, fostering healthier relationships and sustainable family well-being. Abstrak Penelitian ini mengkaji praktik pendidikan perkawinan berbasis komunitas yang dilaksanakan oleh Sekolah Rekonsiliasi (SR), sebuah inisiatif yang bertujuan membantu individu memulihkan luka emosional akibat keluarga disfungsional. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Program SR mengadopsi metode terapeutik dari John Bradshaw dan Virginia Satir yang menekankan pemahaman sistem keluarga, penyembuhan luka batin, serta penguatan identitas diri. Analisis data dilakukan melalui pengkodean tematik dan triangulasi untuk menjamin validitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif pada hubungan interpersonal dan persepsi diri peserta setelah mengikuti program. Peserta melaporkan peningkatan kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, serta keterampilan membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan perkawinan berbasis komunitas dapat menjadi alternatif strategis untuk memperkuat sistem keluarga di Indonesia, khususnya di tengah meningkatnya angka perceraian yang mencapai 15–20 persen per tahun. Selain itu, model SR yang mengintegrasikan pendekatan psikoterapi, pembelajaran orang dewasa, dan refleksi spiritual menunjukkan efektivitas dalam menciptakan ruang aman bagi proses transformasi personal. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan program serupa dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan demikian, pendidikan keluarga berbasis komunitas berpotensi menjadi solusi preventif terhadap disfungsi keluarga dan dampak sosial yang ditimbulkannya.