Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peranan Guru Berdasarkan Amsal 23:19-2 Dalam Mengatasi Kenakalan Peserta Didik Di SMP Bhakti Insani Bogor Suy, Ina Naomi; Mujiono, John Gershom; Setiawan, Yusak Agus
Jurnal Silih Asah Vol. 2 No. 2 (2025): Agustus : Jurnal Silih Asah
Publisher : LPPM - STT Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/silihasah.v2i2.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan guru menurut perspektif Alkitab, khususnya Amsal 23:19–29, dalam mengatasi kenakalan peserta didik di SMP Bhakti Insani Bogor. Fenomena kenakalan remaja di sekolah menjadi tantangan serius yang memerlukan pendekatan holistik, baik dari aspek pendidikan formal maupun nilai-nilai iman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan guru dalam perspektif Amsal mencakup tiga dimensi utama. Pertama, guru berperan sebagai pengarah jalan yang benar, yakni memberikan bimbingan moral, spiritual, dan sosial agar peserta didik menghindari perilaku yang merugikan diri dan lingkungan. Kedua, guru berperan sebagai pendidik dengan dedikasi, yang diwujudkan melalui perhatian, pengajaran yang membangun karakter, dan keteladanan hidup. Ketiga, guru berperan sebagai penasihat yang mendorong peserta didik menghindari pertengkaran, melatih pengendalian diri, serta membangun relasi yang sehat dengan sesama. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Amsal 23:19–29 relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan modern, khususnya dalam pembinaan perilaku siswa. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip biblis dalam peranan guru dapat menjadi strategi efektif dalam mencegah dan mengatasi kenakalan peserta didik, serta membentuk karakter yang takut akan Tuhan, bertanggung jawab, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat.
Strategi Pedagogis Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen: Transformasi Konsep Teologis Pada Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Markus 4:1–33 Ulina, Febriani; Setiawan, Yusak Agus
Jurnal Silih Asuh : Teologi dan Misi Vol. 3 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Silih Asuh: Teologi dan Misi
Publisher : LPPM - STT Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/silihasuh.v3i1.129

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dalam menerjemahkan konsep-konsep teologis yang abstrak agar sesuai dengan perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya penanaman iman sejak dini dalam keluarga sebagai ecclesia domestica, yang kemudian dilanjutkan secara sistematis dalam pendidikan formal. Namun, pada jenjang sekolah dasar, pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menghadapi tantangan karena materi teologis yang bersifat abstrak tidak selalu selaras dengan kemampuan berpikir anak. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia 7–12 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika-pedagogis untuk menganalisis strategi pengajaran Yesus dalam Injil Markus 4:1–33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus menerapkan strategi pembelajaran yang efektif melalui pengelolaan ruang belajar (spasial), penggunaan perumpamaan sebagai media naratif, serta pendekatan dialogis-partisipatif. Strategi ini memungkinkan terjadinya jembatan antara konsep abstrak Kerajaan Allah dengan realitas konkret kehidupan pendengar. Dengan demikian, integrasi antara pemahaman teks Alkitab dan pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan kognitif menjadi kunci dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen perlu mengembangkan strategi kreatif dan kontekstual agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.