Penelitian ini membahas peranan Pelabuhan Natal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di wilayah Residentie Tapanoeli pada masa kolonial Belanda antara tahun 1850 hingga 1937. Sebagai pelabuhan yang terletak strategis di pesisir Samudera Hindia dan berdekatan dengan jalur distribusi komoditas dari Mandailing dan Angkola, Pelabuhan Natal menjadi simpul utama dalam perdagangan regional, khususnya pada masa booming kopi pertengahan abad ke-19. Melalui kajian historis dengan menelaah arsip kolonial, laporan resmi pemerintahan, serta literatur sejarah maritim dan ekonomi, penelitian ini menunjukkan bahwa Pelabuhan Natal berfungsi sebagai pusat pengumpulan dan pengangkutan kopi menuju Pelabuhan Padang. Infrastruktur jalan dan jaringan sungai yang mendukung turut memperkuat posisi pelabuhan ini dalam dinamika perdagangan Tapanoeli. Namun, sejak tahun 1882 peran Pelabuhan Natal mengalami kemunduran akibat perubahan jalur transportasi, pemindahan pusat pemerintahan Residentie Tapanoeli, serta kebijakan kolonial yang memusatkan ekspor komoditas ke Sibolga. Reorganisasi administratif tahun 1918 dan 1937 menandai semakin merosotnya kedudukan Natal sebagai pusat pelabuhan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun mengalami kemunduran pada awal abad ke-20, Pelabuhan Natal memiliki kontribusi signifikan dalam pembangunan ekonomi Tapanoeli, khususnya dalam jaringan perdagangan kopi pada masa kolonial Belanda. Penulisan artikel ini menggunakan Metode Sejarah lewat tahapan Heuristik, Verifikasi, Interpretasi dan Historiografi, penulisan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan studi arsip dengan menggunakan arsip-arsip kolonial Belanda.