Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendekatan Holistik dalam Penilaian Istitha'ah Kesehatan Jamaah Haji Lansia dengan Sindrom Metabolik dan Komorbiditas : Sebuah Laporan Kasus Olivia, Virgi; Suci, Andini Nurul; Hamad, Uwaist Ghozi; Muhammad, Aan Tri Lutfi; Aima, Halida Hasyati
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol3.iss1.art11

Abstract

Latar BelakangIbadah haji memerlukan kondisi kesehatan optimal untuk memastikan calon jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik. Penilaian kesehatan calon jamaah menjadi salah satu langkah esensial, terutama pada lansia dengan penyakit penyerta. Dokter memiliki peran sentral dalam menilai status istitha'ah, memberikan edukasi kesehatan, serta merancang intervensi yang mendukung kebugaran fisik jamaah. Presentasi KasusSeorang perempuan berusia 77 tahun menjalani pemeriksaan kesehatan rutin untuk penilaian istitha'ah. Riwayat penyakit pasien mencakup Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Hipertensi Grade 2. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 160/99 mmHg dengan hasil tes enam menit berjalan sejauh 255 meter, yang termasuk kategori "kurang sekali". Pemeriksaan penunjang menunjukkan HbA1C 8%, trigliserida 338 mg/dl, serta radiologi dengan gambaran kardiomegali. Pasien didiagnosis sindrom metabolik dengan komplikasi kardiomegali dan ditetapkan dalam kategori istitha'ah dengan pendampingan obat. PembahasanPendekatan manajemen pasien meliputi tatalaksana promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Promosi kesehatan mencakup edukasi terkait pola hidup sehat, seperti peningkatan aktivitas fisik dan diet rendah gula serta garam. Tatalaksana kuratif dilakukan dengan pemberian antihipertensi, terapi insulin, dan hipolipidemik. Intervensi holistik ini dirancang untuk mengoptimalkan kesehatan pasien dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Simpulan Kesiapan kesehatan jamaah haji, terutama lansia dengan komorbiditas, memerlukan pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, sosial, dan psikologis. Peran dokter sangat penting dalam memastikan kesehatan jamaah tetap optimal, melalui edukasi, tatalaksana, dan dukungan berkesinambungan untuk mendukung kesuksesan ibadah haji. Kata kunci : Istitha'ah kesehatan, Sindrom metabolik, Diabetes Mellitus Tipe 2, Hipertensi, Pendekatan holistik
Literature Review: Pemanfaatan Chatbot Berbasis Kecerdasan Buatan Dalam Mendukung Kesehatan Mental Aima, Halida Hasyati
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i12.62605

Abstract

Pemanfaatan kecerdasan buatan telah dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang kesehatan mental. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah penggunaan C Ketimpangan akses layanan kesehatan mental global dan stigma sosial mendorong pencarian solusi inovatif. Pemanfaatan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) menawarkan pendekatan yang mudah diakses, praktis, dan hemat biaya untuk mendukung kesejahteraan mental. Tujuan: Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas, durasi interaksi optimal, serta kelebihan dan kekurangan chatbot AI sebagai intervensi kesehatan mental. Metode: Penelitian ini merupakan literature review sistematis naratif. Pencarian dilakukan di database PubMed (2014-2024) dengan kata kunci terkait AI chatbot dan intervensi kesehatan mental digital. Delapan artikel penelitian empiris (terutama Randomized Controlled Trial atau RCT) yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kritis. Hasil: Chatbot (seperti XiaoE, Minder, MISHA, dan Vitalk) terbukti efektif secara signifikan dalam mengurangi gejala depresi, kecemasan, dan stres pada populasi tertentu seperti mahasiswa, tenaga kesehatan, dan individu dengan kondisi kronis. Durasi interaksi yang lebih panjang (misalnya 8 minggu pada Vitalk) cenderung memberikan efek yang lebih signifikan. Kelebihan utamanya meliputi aksesibilitas 24/7, personalisasi, dan lingkungan yang tidak menghakimi. Namun, keterbatasan seperti empati yang terbatas, potensi respons yang tidak kontekstual, serta isu privasi dan etika tetap menjadi tantangan. Kesimpulan: Chatbot AI merupakan alat pelengkap (komplementer) yang berpotensi besar untuk mendukung kesehatan mental, khususnya dalam pencegahan dan intervensi dini. Rekomendasi untuk penelitian ke depan mencakup pengembangan chatbot yang lebih responsif secara emosional, studi longitudinal untuk melihat efek jangka panjang, serta penyusunan regulasi dan panduan etika yang jelas.