Annisa Ul Aliyah, Tri Rahmawati,
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Nilai-nilai estetika dalam tradisi nyadran di dusun blambangan, desa gedangan, kecamatan cepogo, kabupaten boyolali Annisa Ul Aliyah, Tri Rahmawati,
Indonesian Journal of Muhammadiyah Studies (IJMUS) Vol. 3 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Muhammadiyah Studies
Publisher : Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62289/ijmus.v3i2.45

Abstract

Tradisi nyadran merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang yang dilaksanakan masyarakat Jawa, setiap bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini juga dipahami sebagai ziarah kubur ke makam para leluhur yang sudah meninggal. Tradisi nyadran memiliki nilai estetika dalam pelaksanannya. Nilai estetika dalam tradisi nyadran merupakan symbol atau makna yang berkaitan dengan keindahan atau segala sesuatu yang dipandang indah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, karena sumber data dan informasi didapatkan dari hasil wawancara dan observasi. Tradisi nyadran memiliki beberapa nilai estetika. Pertama, mengangkat tangan saat berdoa yang maknanya adalah mengarahkan doa ke langit sebagaimana sholat mengarah ke kiblat. Kedua, masyarakat membawa makanan untuk kenduri yang melambangkan kebersamaan diantaranya ada ingkung ayam sebagai bentuk doa terbaik bagi manusia agar dapat meniru perilaku ayam. Ayam tidak melahap semua makanan yang diberikan padanya, melainkan hanya memilih makanan yang baik, dan tidak makan yang buruk. Manusia diharapkan dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan dalam hidupnya. Ketiga, nyekar yang memiliki symbol hubungan akrab antara ahli waris dengan leluhur. Keempat, tradisi nyadran dilaksanakan di bulan Sya’ban menjelang Ramadhan yang bermakna sebagai sarana instropeksi atau perenungan diri. Kelima, membersihkan makam leluhur atau bubak sebagai bentuk bakti kepada leluhur