Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN BPJS KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD PEKALONGAN Ghozi Kori Aqilla1; Frista Martha Rahayu; Ouve Rahadiani Permana; Bambang Wibiono
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i1.9463

Abstract

Latar Belakang : Mutu pelayanan BPJS diidentifikasi dimensi kualitas servis yaitu kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik sebagai dasar pelayanan yang berkualitas. Kepuasan pasien merupakan perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkan dengan kenyataanya. Tujuan : Mengetahui hubungan mutu pelayanan BPJS Kesehatan dengan kepuasan pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah di Pekalongan. Metode : Metode observasional analitik dengan desain Cross Sectional. Responden sebanyak 67 orang dipilih dengan teknik Stratified Random Sampling. Pengambilan data dengan pengisian kuesioner. Data didapat dan dianalisis dengan uji korelasi Chi Square dan Regresi Logistik. Hasil : Hasil analisis Bivariat didapatkan nilai p-value=0,000 (< 0,05) pada hubungan lima dimensi (Kehandalan, Daya Tanggap, Jaminan, Empati, Bukti Fisik) Mutu Pelayanan dengan Kepuasan Pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah di Pekalongan. Hasil analisis Multivariat didapatkan empati dengan nilai Exp(B) sebesar 45,966, bukti fisik dengan nilai Exp(B) sebesar 36,521, kehandalan dengan nilai Exp(B) sebesar 31,594, daya tanggap dengan nilai Exp(B) sebesar 17,540, dan jaminan dengan nilai Exp(B) sebesar 6,382. Kesimpulan : Terdapat hubungan Mutu Pelayanan BPJS Kesehatan dengan Kepuasan Pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pekalongan. Empati menjadi variabel yang memiliki hubungan paling dominan dengan kepuasan pasien. Kata Kunci : Mutu Pelayanan, Kepuasan Pasien, Dimensi Mutu Pelayanan. Background : BPJS service quality is identified by dimensions of Service Quality, namely reliability, responsiveness, assurance, empathy and physical evidence as the basis for quality services. Patient satisfaction is a patient's feeling that arises as a result of the performance of health services he gets after the patient compares it with what is expected with reality. Purposes : Knowing the relationship between the quality of BPJS Health services and patient satisfaction at the Inpatient Installation of the Di Pekalongan Regional General Hospital. Methods : Analytic observational method with Cross Sectional design. Sixty seven respondents were selected using the Stratified Random Sampling technique. Data collection was done by filling out a questionnaire. The data obtained were then analyzed using the Chi Square correlation test and Logistics Regression. Result : The results of the Bivariate analysis all obtained p-value = 0.000 (<0.05) in a five-dimensional relationship (Reliability, Responsiveness, Assurance, Attention, Physical Evidence) Quality of Service and Patient Satisfaction at the Inpatient Installation of the Di Pekalongan General Hospital. Multivariate analysis results obtained attention with an Exp (B) value of 45.966, physical evidence with an Exp (B) value of 36.521, reliability with an Exp (B) value of 31.594, responsiveness with an Exp (B) value of 17.540, and assurance with a value of Exp(B) is 6,382. Discussion : There is a relationship between BPJS Health Service Quality and Patient Satisfaction at the Inpatient Installation of the Pekalongan Regional General Hospital. Empathy is the variable that has the most dominant relationship with patient. Keywords : Service Quality, Patient Satisfaction, Dimensions of Service Quality
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO RIWAYAT KONTAK DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KUSTA DI PUSKESMAS SUKOLILO KABUPATEN PATI JAWA TENGAH Harefa Tirta Wijaya; Hikmah Fitriani; Maya Wahdini; Frista Martha Rahayu; Nina Roslina; Muhammad Risman
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 12 No 1 (2026): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang : : Penyakit Kusta atau lepra atau Morbus Hansen , merupakan penyakit yang disebabkan olehMycobacterium leprae. Kusta menyerang berbagai bagian tubuh diantaranya saraf tepi dan kulit. Beberapa faktordalam kejadian penyakit kusta adalah vaksinisasi BCG, riwayat kontak, lama kontak, jenis kelamin, kepadatanhunian, status ekonomi. Kusta ditularkan melalui kontak yang lama dengan penderita kusta dan masa inkubasipenyakit kusta itu sendiri 2-5 tahun. Perilaku hygiene memiliki hubungan yang bermakna pada penularan penyakitkusta. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk selalu memperhatikan kebersihan dirinya. Tujuan :Mengetahui hubungan faktor risiko riwayat kontak dan personal hygiene dengan kejadian kusta di PuskesmasSukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah. Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan analitikobservasional retrospektif dengan desain case-control. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposivesampling. Hasil : Hasil analisis yang didapat adalah p-value yang diperoleh adalah untuk faktor kontak (p = 0,001< 0,050 , r = 0,792 ), kebiasan cuci tangan (p = 0,001 < 0,050), r = 0,687 ), kebiasaan ganti pakaian ( p = 0,001 <0,050 , r = 0,687 ), didapatkan adanya hubungan dengan kejadian kusta sedangkan kebiasaan mandi menunjukan( p =1,000 > 0,050 , r = 0,000 ), didapatkan tidak berhubungan. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermaknaantara riwayat kontak dan personal hygiene ( kebiasaan cuci tangan dan kebiasaan ganti pakaian ) dengan kejadiankusta.Kata Kunci : Kusta, Fakto Kontak, Personal Hygiene ( Kebiasaan Cuci tangan, Kebiasaan Mandi, KebiasaanGanti Pakaian ).ABSTRACTBackground: Leprosy or leprosy or Morbus Hansen, is a disease caused by Mycobacterium leprae. Leprosyattacks various parts of the body including peripheral nerves and skin. Several factors in the incidence of leprosyare BCG vaccination, contact history, length of contact, gender, occupancy density, economic status. Leprosy istransmitted through prolonged contact with leprosy sufferers and the incubation period of leprosy itself is 2-5years. Hygiene behavior has a significant relationship on the transmission of leprosy. Therefore, it is importantfor a person to always pay attention to his personal hygiene.. Objective: To determine the relationship betweencontact history and personal hygiene risk factors with the incidence of leprosy at the Sukolilo Public HealthCenter, Pati Regency, Central Java. Methods: This research is a retrospective descriptive and analyticalobservational study with a case-control design. Sampling was done by purposive sampling. Results: The resultsof the analysis obtained are the p-value obtained is for the contact factor (p = 0.001 < 0.050 , r = 0.792 ), handwashing habits (p = 0.001 < 0.050), r = 0.687 ), habit of changing clothes (p = 0.001 < 0.050 , r = 0.687 ), itwas found that there was a relationship with the incidence of leprosy while bathing habits showed (p = 1.000 >0.050 , r = 0.000), it was found to be unrelated. Conclusion: There is a significant relationship between contacthistory and personal hygiene (hand washing habits and changing clothes) with the incidence of leprosy.Keywords: Leprosy, Contact Facts, Personal Hygiene (Handwashing Habits, Bathing Habits, Changing Habits)