The development of Arabic literature during the Jahiliyyah period represents an important phenomenon reflecting the cultural dynamics, values, and social structure of pre-Islamic Arab society. This study aims to analyze the characteristics, social functions, and historical roles of Jahiliyyah literature in shaping the collective identity of Arab communities. This research employs a qualitative method with a descriptive approach through library research, examining various historical sources and classical literary texts, particularly poems by prominent poets. The data were analyzed using data reduction, interpretation, and thematic conclusion techniques. The findings reveal that Jahiliyyah literature was predominantly characterized by qasidah poetry, which addressed themes such as tribal pride, warfare, nomadic life, and emotional expressions including love and sorrow. Beyond its aesthetic function, literature also served as a medium of social communication, a tool for political legitimization, and a means of transmitting moral values and cultural norms. Furthermore, the strong oral tradition positioned literature as a form of collective archive, despite its limitations in documentation. In conclusion, Jahiliyyah literature not only laid the foundation for classical Arabic literature but also remains relevant for analysis through modern literary theories in understanding the relationship between language, culture, and power. ABSTRAK Perkembangan sastra Arab pada masa Jahiliyah merupakan fenomena penting yang merepresentasikan dinamika budaya, nilai, dan struktur sosial masyarakat Arab pra-Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik, fungsi sosial, serta peran historis sastra Jahiliyah dalam membentuk identitas kolektif masyarakat Arab. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi pustaka terhadap berbagai sumber historis dan teks sastra klasik, khususnya puisi karya penyair terkemuka. Analisis dilakukan menggunakan teknik reduksi data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra Jahiliyah didominasi oleh puisi berbentuk qasidah yang mengangkat tema kebanggaan suku, peperangan, kehidupan nomaden, serta ekspresi emosional seperti cinta dan kesedihan. Selain berfungsi sebagai ekspresi estetis, sastra juga berperan sebagai media komunikasi sosial, alat legitimasi politik, serta sarana transmisi nilai moral dan norma budaya. Temuan lain menunjukkan bahwa tradisi lisan yang kuat menjadikan sastra sebagai arsip kolektif masyarakat, meskipun memiliki keterbatasan dalam aspek dokumentasi. Kesimpulannya, sastra Jahiliyah tidak hanya menjadi fondasi bagi perkembangan sastra Arab klasik, tetapi juga tetap relevan untuk dianalisis melalui perspektif teori sastra modern dalam memahami relasi antara bahasa, budaya, dan kekuasaan.