ABSTRAK Fenomena Gelombang Korea (Hallyu) telah mendorong penyebaran budaya Korea Selatan ke berbagai aspek kehidupan di Indonesia, salah satunya melalui kuliner atau K-Food. Media daring memiliki peranan penting dalam membentuk dan menyebarkan diskursus mengenai tren K-Food, tidak hanya sebagai produk makanan, melainkan juga sebagai simbol gaya hidup, modernitas, dan komoditas global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi K-Food dalam pemberitaan media daring di Indonesia dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis dari Norman Fairclough. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan sumber data berupa lima artikel berita dari media daring nasional, yaitu Kompas.com, Kumparan.com, CNN Indonesia, IDN Times, dan Detik Food. Analisis ini dilakukan melalui tiga dimensi dalam pendekatan Fairclough, yaitu analisis teks, praktik diskursif, dan praktik sosio-kultural. Hasilnya menunjukkan bahwa media Indonesia cenderung merepresentasikan K-Food secara positif melalui pilihan diksi yang afirmatif didukung dengan legitimasi data ekonomi, sehingga membingkai K-Food sebagai tren global yang modern dan menguntungkan. Di level praktik diskursif, teks lebih didominasi oleh sumber institusional dari Korea Selatan dengan minimnya penyajian suara kritis atau perspektif lain seperti industri kuliner Indonesia, pengamat budaya lokal, atau UMKM. Sementara itu, pada level praktik sosio-kultural, K-Food diposisikan sebagai simbol modernitas dengan nilai ekonomi tinggi. Diskursus K-Food mencerminkan dominasi budaya global Korea Selatan yang diperkuat oleh globalisasi, konsumerisme, dan strategi gastrodiplomasi.