Winahyuningsih, M. Heni
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fungsi Tari Gunungsari Kalibagoran di Masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas Suryaningsih, Suryaningsih; Winahyuningsih, M. Heni; Anggraeni, Agustin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i2.13660

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan fungsi tari Gunungsari Kalibagoran di masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Tari Gunungsari Kalibagoran adalah tari tradisional tunggal putri gaya banyumasan. Penelitian terkait fungsi tari ini mencakup tiga elemen pokok yakni objek tari Gunungsari Kalibagoran, masyarakat Kalibagor, dan teori fungsi. Persoalan fungsi diselesaikan dengan teori Robert K. Merton yang menyatakan fungsi ke dalam dua kategori yaitu fungsi manifest yakni akibat atau konsekuensi positif yang tampak dan fungsi latent yakni akibat atau konsekuensi positif yang tersembunyi. Fungsi latent walaupun tersembunyi namun terus mengikuti dan suatu saat dapat muncul dan menjadi penjaga keutuhan dalam suatu masyarakat. Merton tidak menyebutkan secara spesifik fungsi tari, maka dalam penelitian ini teori fungsi Merton dibantu oleh konsep Kraus untuk memudahkan kategorisasi fungsi tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi manifest dalam tari Gunungsari Kalibagoran ialah bentuk tarinya, berfungsi sebagai hiburan, dan berfungsi sebagai pekerjaan. Fungsi latent atau fungsi yang tersembunyi dalam tari tersebut yakni fungsi konseptual (nilai sosial, nilai historis, nilai kesuburan, dan nilai estetis), fungsi kontinyuitas atau keberlangsungan tari, fungsi pemelihara sistem kelas sosial, serta fungsi penguat identitas bagi masyarakat Banyumas.The Function of the Gunungsari Kalibagoran Dance in the Community of Kalibagor Village, Kalibagor District, Banyumas RegencyThis article describes the functions of the Gunungsari Kalibagoran dance within the community of Kalibagor Village, Kalibagor Subdistrict, Banyumas Regency. The Gunungsari Kalibagoran dance is a traditional solo female dance in the Banyumasan style. The research on the functions of this dance encompasses three key elements: the dance as an object, the Kalibagor community, and functional theory. The issue of function is analyzed using Robert K. Merton's theory, which categorizes functions into two types: manifest functions, which are visible positive outcomes, and latent functions, which are hidden positive outcomes. Latent functions, although concealed, persist and may emerge to serve as a unifying force within society. Since Merton does not explicitly address dance functions, this research integrates Merton's functional theory with Kraus's concepts to categorize dance functions. The findings reveal that the manifest functions of the Gunungsari Kalibagoran dance include its form, its role as entertainment, and its economic function as a livelihood. The latent functions of the dance include conceptual functions (social, historical, fertility, and aesthetic values), the continuity of the dance tradition, its role in maintaining the social class system, and its reinforcement of Banyumas's communal identity.
BENTUK PENYAJIAN BEKSAN AJI SAKA YASAN SRI SULTAN HB KA-10 PADA UYON-UYON HADILUHUNG 1 FEBRUARI 2021 DI KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT Suprobo, Warih Sungging; Winarti, Tutik; Winahyuningsih, M. Heni
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17922

Abstract

ABSTRAKBeksan Ajisaka merupakan salah satu tarian Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 yang terilhami dari Serat Ajisaka. Serat tersebut merupakan pemaknaan dari aksara Jawa yang berisi ajaran luhur kehidupan manusia di dunia, yakni tindakan hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia kepada Tuhan. Penciptaan Beksan Ajisaka mengalami proses intermedialitas yang berawal dari Serat Ajisaka kemudian menjadi sebuah wujud sajian karya tari. Pijakan garap Beksan Ajisaka adalah tari klasik gaya Yogyakarta, yang dikembangkan dari konsep beksan sekawanan (4 orang), namun dibawakan dua pasang sehingga menjadi delapan orang sebagai Wadya. Ditambah dengan dua orang penari sebagai tokoh Ajisaka sehingga keseluruhan penari berjumlah sepuluh orang. Sepuluh orang penari Beksan Ajisaka merepresentasikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10. Beksan Ajisaka yang disajikan dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung tanggal 1 Februari 2021 bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Manis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdurasi kurang lebih 50 menit. Penyajian Beksan Ajisaka ini merupakan sajian yang paling utuh dan lengkap, karena pada perjalanan selanjutnya ada pemangkasan durasi pertunjukan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tekstual untuk menganalisis bentuk penyajian dan makna yang terkandung dalam Beksan Ajisaka.ABSTRACTBeksan Ajisaka is one of the dances of the Yogyakarta Palace created by Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 which was inspired by Serat Ajisaka. The fiber is the meaning of the Javanese script which contains the noble teachings of human life in theworld, namely the act of relationship between fellow humans and human relationships with God. The creation of Beksan Ajisaka experienced an intermediacy process starting from Serat Ajisaka which later became a form of presentation of dance works. The footing of Beksan Ajisaka is a Yogyakarta-style classical dance, which was developed from the concept of a flock of people (4 people), but performed by two pairs so that it became eight people as Wadya. Coupled with two dancers as Ajisaka figures, the total number is ten people. Ten Beksan Ajisaka dancers represent the throne of Sri Sultan Hamengku Bawono Ka- 10.Beksan Ajisaka is a dance presentation with the concept of bedhayan by adapting some of the essence of the Yogyakarta style bedhaya 9 dance concept with different visual development and meaning. In the presentation, Beksan Ajisaka packaged the development of the existing Yogyakarta style tradition such as dance movements, floor patterns, accompaniment, clothing, and the form of the presentation. The form of dance movements, floor patterns, accompaniment and clothing are symbolic messages of the Sultan that will be conveyed through the form of presentation of Beksan Ajisaka.