Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Transformation Form of Begawai Dance in the Cooking Ceremony Phenomenon at Gawai Ceremony of Talang Mamak Rian Indrasanjaya; Kasiyan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 40 No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v40i2.2906

Abstract

The Gawai Ceremony of the Talang Mamak tribe includes various communal practices that are considered mandatory by the community based on their traditional rules and beliefs. In the ceremony, the phenomenon of women’s cooking inspired a dance work entitled “Begawai.” Unfortunately, the creative process transformed cultural practices into dance, resulting in the loss of their original cultural identity. This study aims to describe 1) the Gawai ceremony of the Talang Mamak tribe, 2) the transformation of the phenomenon in the Gawai ceremony of the Talang Mamak tribe into the Begawai dance, and 3) the results of the creative process in the Begawai dance. This study uses a descriptive-qualitative methodology with a semiotic approach. The results showed that 1) the series of Gawai ceremonies consisted of Melekat Janji, Petang Mendaun, Menggantung Pauh-Pauh, Bunga Adat/dowry, Wedding Ceremony, Makan Beradat, Tiang Gelanggang, Mengadu Ayam, Acara Menyembang, and Ditegur Diajar. 2) In the Begawai dance, three transformation parts are identified: cockfighting, cooking, and traditional eating. 3) The creative process produced visuals: the cockfighting arena, cooking location, and the traditional dining atmosphere. The choreographer’s creative imagination inspired by cooking activities creates movements such as cutting, cleaning, scooping, stirring, and briding food. This research implies that the transformation experiences empirical gaps in cultural practices with a distinctive identity, so changing into a form of artistic activity in the creative process causes the loss of its cultural identity.
PENERAPAN BAHASA ISYARAT DALAM PEMBELAJARAN SENI TARI PADA ANAK TUNARUNGU Daryanti, Arina Tunjung; Kasiyan
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v6i2.225

Abstract

Anak tunarungu mengalami masalah pendengaran yang berpengaruh pada proses perkembangannya, sehingga dibutuhkan media untuk berkomunikasi. Bahasa isyarat digunakan sebagai alat komunikasi bagi anak tunarungu. Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) merupakan dua bahasa isyarat yang berkembang pada kalangan anak tunarungu di Indonesia. Dalam penerapannya guru seni tari mengembangkan kode-kode menggunakan bahasa isyarat yang disesuaikan dengan gerakan tari. Diharapkan anak tunarungu dapat mengikuti pembelajaran seni tari dengan menerapkan bahasa isyarat sehingga mempermudah mereka memahami materi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) penggunaan bahasa isyarat pada anak tunarungu, (2) proses pembelajaran seni tari pada anak tunarungu, dan (3) implementasi bahasa isyarat dalam pembelajaran seni tari pada anak tunarungu. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa isyarat selain untuk media komunikasi juga bisa sebagai tanda pada gerakan tari yang dilakukan baik itu untuk tanda mulai, tanda pergantian, maupun tanda berhenti. Ada empat tahapan yang dilakukan dalam pengimplementasian bahasa isyarat dalam pembelajaran seni tari yaitu (1) pengenalan, (2) klasifikasi, (3) oral, dan (4) bahasa isyarat.