Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NASKAH DRAMA MATAHARI ½ MATI KARYA A. REGO SUBAGYO (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA) Astuti Dwi Utami; Aprillia Duwi Wulandari; Rochwati; Almanda Prameswari; Joko Purwanto
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 6 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Juni
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/v3i6.2384

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakterisasi dan konflik batin tokoh utama dalam naskah drama Matahari ½ Mati karya A. Rego Subagyo dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra, khususnya teori psikoanalisis Sigmund Freud. Drama ini mengangkat realitas kehidupan keluarga petani miskin yang mengalami tekanan ekonomi dan sosial akibat absennya figur ayah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data utama berupa naskah drama. Hasil analisis menunjukkan bahwa tokoh utama, Kardi, mengalami konflik batin yang kompleks yang mencerminkan dominasi aspek id, ego, dan superego secara bergantian. Dorongan id memunculkan sikap pasif dan pelarian dari kenyataan, ego berperan dalam pengendalian diri dan adaptasi terhadap realitas sosial, sedangkan superego memicu rasa tanggung jawab dan moralitas terhadap kondisi keluarga. Konflik batin ini menjadi gambaran konkret tentang dampak psikologis dari tekanan sosial dan ekonomi dalam keluarga marginal.
TANDA, SIMBOL, DAN MAKNA DALAM DRAMA LARAS KARYA DUKUT W.N. : ANALISIS SEMIOTIKA BERDASARKAN TEORI ROLAND BARTHES DAN CHARLES S. PEIRCE Almanda Prameswari; Joko Purwanto
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 6 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Juni
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/v3i6.2424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem tanda, simbol, dan makna dalam naskah drama Laras karya Dukut W.N. melalui pendekatan semiotika Roland Barthes dan Charles S. Peirce. Drama diposisikan bukan semata sebagai karya estetika, melainkan sebagai teks sosial yang mengandung wacana ideologis melalui struktur dramatik dan representasi simbolik. Teori Barthes digunakan untuk menafsirkan lapisan makna denotatif, konotatif, dan mitis, sedangkan teori Peirce dimanfaatkan untuk mengklasifikasikan tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis isi, berfokus pada dialog, gestur, dan properti panggung terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah tanda kunci seperti burung Laras dalam sangkar, tas milik suami, dan tindakan membakar memiliki fungsi simbolik sebagai representasi dominasi serta perlawanan terhadap struktur patriarkal. Makna yang muncul dalam teks bersifat dinamis dan terus-menerus dinegosiasikan melalui relasi kuasa dan konteks sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Laras merefleksikan ketidakadilan gender dan konflik domestik melalui sistem tanda yang kompleks, sehingga memperlihatkan bahwa drama dapat menjadi medium kritis untuk mendekonstruksi ideologi dominan dalam masyarakat kontemporer.
NEGOSIASI IDENTITAS HIBRIDA ‘NGAPAK JAKSEL’ DALAM KONTEN TIKTOK AKUN RAFLICHANIAG0: KAJIAN ALIH KODE DAN CAMPUR KODE Almanda Prameswari; Joko Purwanto
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/s5fbb458

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena sosiolinguistik berupa alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing) dalam ruang digital, dengan fokus pada konten kreator TikTok dengan nama akun raflichaniag0. Fenomena "Ngapak Jaksel" menjadi unik karena mempertemukan dialek regional (Jawa Banyumasan) dengan bahasa urban (Jakarta Selatan/Inggris). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk alih kode dan campur kode serta menganalisis bagaimana praktik tersebut merepresentasikan identitas budaya hibrida di media sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Data dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode terjadi pada level kata, frasa, dan klausa, sementara alih kode digunakan untuk penekanan emosional dan humor (punchline). Penggunaan dialek Ngapak berfungsi sebagai penanda otentisitas dan keakraban (fungsi afektif), sedangkan istilah Jaksel/Inggris merupakan bentuk adaptasi terhadap tren global. Simpulan penelitian menegaskan bahwa praktik kebahasaan ini bukan sekadar kemampuan multibahasa, melainkan strategi komunikatif untuk membangun identitas "Ngapak Jaksel" yang adaptif, fleksibel, dan hibrid di era digital. Kehadiran bahasa daerah di platform global membuktikan bahwa identitas lokal tetap memiliki daya tawar yang kuat dalam membentuk persona digital yang relevan dan unik bagi audiens modern.