Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Using Spent Used Cooking Oil As An Aromatic Lamp Marnida Yusfiani; Moondra Zubir; Ani Sutiani; Cynthia Crasela Siregar; Gita Dwi Ayu Ninzy Tampubolon; Vindy Yosensi Saragih; Caecilia Antonia Purba; Najwa Shauqiyah
Indonesian Journal of Chemical Science and Technology (IJCST) Vol. 8 No. 1 (2025): JANUARY 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ijcst.v8i1.68668

Abstract

The Carnot cycle consists of four processes: two isothermal and two adiabatic, which increase efficiency by regulating temperature. In contrast, the Rankine cycle overcomes Carnot's weaknesses by using steam heating and condensation. In addition, making candles from used cooking oil is an environmentally friendly innovation that processes waste into useful products. This process involves heating the oil to remove odors, mixing it with paraffin, and adding aromas. Making lamps from cans also utilizes used materials, demonstrating creativity in waste management. The 1:3 ratio (paraffin:oil), which is more oil-dominant, results in the fastest and most efficient burn, with the highest amount of candle mass burned after 40 minutes. This is suitable for applications that require rapid burning, such as in the creation of a moving nightlight that utilizes the Carnot cycle to convert heat into mechanical energy for movement. In contrast, the 3:1 ratio (paraffin:oil) produces a harder and more durable candle, with less mass burned, making it more suitable for long-term use and stable movement. The 1:2 and 2:1 ratios provide a balance between burn duration and light intensity, allowing them to be chosen based on specific needs.
TREN ANGKA SUNTING DI SUMATERA UTARA Amelia Rosalina Br Tarigan; Dhea Amanda Br Tarigan; Joy Novelika Pardede; Julina Francisca Panjaitan; Putri Karisa Br. Sembiring; Teresa Kalkuta Tambunan; Marnida Yusfiani
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga di bawah 14 persen pada tahun 2024 melalui berbagai strategi lintas sektor. Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi salah satu daerah yang berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan dan meraih penghargaan Kinerja Tahun Berjalan – Kategori Penurunan Stunting tingkat Provinsi Tahun 2024. Berdasarkan laporan Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Utara, angka prevalensi stunting di Sumut menurun dari 21,1 persen menjadi 18,9 persen. Atas capaian tersebut, pemerintah pusat memberikan penghargaan berupa insentif fiskal sebesar Rp 775 miliar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberhasilan tersebut melalui pendekatan deskriptif berbasis dokumentasi, dengan menyoroti strategi, hasil, serta tantangan dalam implementasinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan Sumut merupakan hasil sinergi lintas sektor, penguatan sistem pemantauan, dan komitmen pemerintah daerah. Namun demikian, masih terdapat tantangan dalam hal konsistensi data dan pemerataan capaian antarwilayah.
ANALISIS PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP TINGKAT KEDISIPLINAN PELAJAR SEKOLAH MENENGAH Andhini Wulandari; Andi Susanto Wa’ana; Dhea Danayla Matondang; Dion Pinter Rius Daeli; Putri Handayani Sinaga; Marnida Yusfiani
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media sosial merupakan salah satu bentuk perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan bagi pelajar dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mempengaruhi perilaku dan tingkat kedisiplinan pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas penggunaan media sosial terhadap tingkat kedisiplinan pelajar sekolah menengah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan analisis korelasional. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner daring kepada enam puluh pelajar dari beberapa sekolah menengah. Instrumen penelitian berisi pertanyaan mengenai frekuensi dan durasi penggunaan media sosial serta indikator kedisiplinan yang meliputi ketepatan waktu, kepatuhan terhadap aturan, dan tanggung jawab terhadap tugas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi linier sederhana untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berpengaruh negatif terhadap tingkat kedisiplinan pelajar. Pelajar yang menggunakan media sosial dalam waktu lama cenderung memiliki kedisiplinan yang lebih rendah dibandingkan dengan pelajar yang menggunakan media sosial dalam batas wajar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin rendah tingkat kedisiplinan pelajar sekolah menengah.
KEADAAN ANGKATAN KERJA DI PROVINSI SUMATERA UTARA PADA TAHUN 2024 : ANALISIS TINGKAT PARTISIPASI, PENGANGGURAN, DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR Dian Sipayung; Juwita Nasution; Oktania Situmorang; Oktavianti Sitorus; Teresia Hutauruk; Marnida Yusfiani
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitiaan ini bertujuan untuk menganalisis keadaan angkatan kerja di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2024 dengan meninjau tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK),tingkat pengangguran terbuka (TPT),serta penyerapan tenaga kerja berdasarkan sektor dan status formal/informal.Data yang digunakan berasal dari publikasi Badan Pusat Stastik Provinsi Sumatera Utara (BPS Sumut) hasil survei Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) bulan Agustus 2024.Hasil menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja mencapai sekitar 8,181 ribu orang (meningkat dibanding tahun sebelumnya),TPAK meningkat sebesar 0,30 poin presentase ,dan TPT tercatat sebesar 5,60%.Pekerja yang bekerja berjumlah sekitar 7,723 ribu orang,dengan sektor perdangangan besar dan eceran menjadi sektor yang mengalami peningkatan tenaga kerja terbesar (91 ribu orang).proporsi pekerja formal mencapai 42,65% dari total pekerja.Analisis regresi logit mengindikasikan bahwa pendidikan yang lebih tinggi,lokasi perkotaan,dan jenis kelamin laki laki secara signifikan menurunkan peluang menjadi penganggur.Rekomendasi kebijakan antara lain peningkatan pelatihan vokasi,perluasan lapangan kerja formal,serta pengembangan sektor perdangangan dan jasa di Sumatera Utara.   Kata kunci: Angkatan kerja,TPAK, TPT
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGANGGURAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA Diah Kumala Sari; Diana Febiola Simatupang; Juleha Dwi Ayu Andini; Keisya Amira Zaini; Putri Namira Nugroho; Marnida Yusfiani
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 12 (2025): Desember 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengangguran merupakan permasalahan ekonomi yang kompleks karena tidak hanya mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan kesempatan kerja, tetapi juga menjadi indikator penting bagi stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Sumatera, tingkat pengangguran masih relatif tinggi meskipun pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan tren positif, sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel ekonomi dan sosial, seperti tingkat pendidikan, pertumbuhan ekonomi, upah minimum regional, serta jumlah angkatan kerja terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Sumatera Utara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi linier berganda. Data penelitian terdiri atas data sekunder yang diperoleh dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS) serta data primer yang dihimpun melalui survei daring menggunakan Google Form sebagai upaya mendukung dan memperkuat hasil analisis statistik. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman empiris mengenai variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran serta menjadi landasan dalam penyusun kebijakan ketenagakerjaan dan pembangunan ekonomi daerah yang lebih efektif dan berkelanjutan
Analisis Kuantitatif Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Potensi Putus Kuliah di Kalangan Mahasiswa Alyaa Defitri; Tiara Fasri; Amelia putri; Pitta uli mariyola sirait; Puji Rahayu Peronika Sihaloho; Marnida Yusfiani
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena putus kuliah di kalangan mahasiswa masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan mahasiswa berhenti kuliah, meliputi faktor ekonomi, akademik, motivasi belajar dan dukungan keluarga, serta faktor sosial-lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring kepada 44 responden mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Data primer dianalisis dalam bentuk persentase dan dibandingkan dengan hasil temuan dari tiga penelitian sebelumnya, yaitu Khoiriyah et al. (2021), Umar et al. (2025), dan Moesarofah (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan penyebab paling dominan dengan 84,1% responden menyatakan kesulitan finansial sebagai alasan utama berhenti kuliah. Faktor motivasi dan dukungan keluarga menempati urutan kedua (79,5%), diikuti oleh faktor akademik (76,4%) dan sosial-lingkungan (72,7%). Temuan ini menunjukkan bahwa permasalahan putus kuliah bersifat multidimensional, di mana aspek ekonomi sering menjadi pemicu awal yang diperkuat oleh lemahnya dukungan akademik, sosial, dan motivasional. Penelitian ini merekomendasikan perlunya kebijakan preventif dari perguruan tinggi dan pemerintah melalui beasiswa berbasis kebutuhan, layanan konseling akademik, serta penguatan dukungan keluarga dan sosial mahasiswa.