Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH EKSTRAK DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT PADA REMAJA PUTRI ANEMIA Faridah, Salsabila Nur; Rahayu, Sri; Suwondo, Ari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 2 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i2.2971

Abstract

Adolescent girls often experience anemia, a condition in which red blood cell count or hemoglobin concentration falls below normal levels, especially during puberty. Globally, anemia affects 40% of children aged 6–59 months, 37% of pregnant women, and 30% of women aged 15–49 years. California papaya leaves (Carica papaya L.) are a nutritious vegetable that may help accelerate anemia reduction efforts. This study aimed to prove that administering papaya leaf extract at a dose of 800 mg/day affects hemoglobin and hematocrit levels in anemic adolescent girls. This true experimental study used a randomized pretest-posttest control group design. Conducted from December 1–20, 2024, at Junior High School 2 Balong, Ponorogo, Indonesia, it involved 46 anemic adolescent respondents who met the inclusion and exclusion criteria. They were divided into two groups: 23 participants in the intervention group, who received 800 mg of papaya leaf extract along with 60 mg of iron tablets, and 23 in the control group, who received only 60 mg of iron tablets for 14 days. Data processing was conducted using SPSS version 27, with statistical analysis performed using the parametric dependent T-Test and independent T-Test. The results showed that the intervention group experienced an average increase in hemoglobin levels of 0.444 g/dL and hematocrit levels of 0.39. In conclusion, administering 800 mg of papaya leaf extract significantly affects hemoglobin and hematocrit levels in anemic adolescent girls, supporting efforts to reduce anemia prevalence.
Gambaran Penggunaan Model Kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur Pravitasari, Prassanti Widya; Faridah, Salsabila Nur
Varians Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Varians Statistik Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63953/vjkm.v4i1.76

Abstract

Penggunaan model kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS) merupakan salah satu upaya penting dalam pengendalian kelahiran dan peningkatan kesehatan reproduksi. Pemilihan model kontrasepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor dan cenderung berbeda di setiap wilayah. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pasangan usia subur serta distribusi penggunaan metode kontrasepsi di Posyandu Melati 3, Kampung Paratag RT 03/RW 03, Desa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat berdasarkan usia, paritas, jenis kontrasepsi yang digunakan, lama penggunaan kontrasepsi, dan sumber informasi yang diperoleh responden. Waktu pelaksanaan riset dilakukan pada tanggal 7 November 2025.Riset ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 27 responden yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil riset menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden berada pada usia 20–35 tahun (66,7%) dan merupakan multipara (55,6%). Penggunaan model kontrasepsi didominasi oleh suntik (51,9%). Lama penggunaan kontrasepsi proporsi terbesar ≥1 tahun (66,7%), dan sumber informasi utama berasal dari tenaga kesehatan (55,6%). Kesimpulan riset ini menunjukkan bahwa penggunaan model kontrasepsi pada pasangan usia subur masih didominasi oleh model hormonal dan non MKJP yang cenderung dipilih karena kepraktisannya. Diperlukan peningkatan edukasi dan konseling mengenai model kontrasepsi jangka panjang untuk meningkatkan efektivitas program keluarga berencana.