Dewajani , Heny
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISA JUMLAH STAGE TEORITIS PADA KOLOM DISTILASI PABRIK PLASTICIZER Amalia, Yufrida; Erdiyanti, Fannania Setyo; Dewajani , Heny
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 1 (2019): February 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i1.9

Abstract

Proses finishing merupakan salah satu proses yang dilakukan di pabrik plasticizer dan bertujuan untuk mendapatkan hasil produk yang bebas dari pengotor. Pada proses ini digunakan steam distillation untuk memisahkan crude ester (produk) dari garam-garam hasil reaksi, sisa octanol, dan air. Selama ini di pabrik tersebut belum ada yang melakukan analisa jumlah stage secara teori pada kolom distilasi yang digunakan. Perhitungan jumlah stage diperoleh dari grafik menggunakan metode McCabe Thiele. Selanjutnya dibandingkan antara hasil secara teori dengan keadaan aktual pada pabrik. Jumlah stage pada kolom distilasi secara teoritis telah sesuai dengan kondisi aktual pabrik yaitu sebanyak 8 stage. Letak stage umpan secara teoritis pada stage ke- 5 tetapi pada kondisi aktual di pabrik terletak pada stage pertama.
STUDI LITERATUR PENGARUH JENIS KATALIS DAN SUHU REAKSI TERHADAP PROSES PIROLISIS GLISEROL MENJADI AKROLEIN Fadilah, Akh. Ifan Fitril; Dewajani , Heny
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.228

Abstract

Meningkatnya produksi biodiesel menghasilkan peningkatan gliserol sebagai produk samping sekitar 10% berat gliserol pada industri biodiesel. Gliserol dapat dikonversi menjadi bahan kimia bernilai tinggi seperti acetaldehid, akrolein, formaldehid, dan acetol. Berbagai metode dapat digunakan untuk konversi gliserol antara lain pirolisis dan steam gasifikasi. Proses pirolisis terjadi reaksi dehidrasi gliserol menghasilkan akrolein atau asetol sebagai produk reaksi utama tergantung kondisi reaksi dan permukaan asam katalis. Akrolein digunakan dalam kedokteran, pengolahan air, industri perminyakan sebagai biosida. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari kajian literatur dari beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengkonversi gliserol dan menentukan metode terbaik yang digunakan terhadap yield akrolein. Kajian dilakukan dengan membandingkan jenis katalis yang digunakan pada proses pirolisis serta suhu proses yang dilakukan peneliti sebelumnya. Hasil dari kajian literatur berupa kesimpulan untuk mengetahui kondisi optimal dalam menghasilkan akrolein dari pirolisis gliserol.
PEMBUATAN SABUN MANDI CAIR DARI MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN METODE HOT DAN COLD PROCESS Rachmawati, Masita; Dewajani , Heny
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.437

Abstract

Di era pandemi, menjaga kebersihan tubuh dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terpapar penyakit. Dalam menjaga kebersihan tubuh, sabun mandi cair sangat membantu untuk bisa secara maksimal membersihkan kotoran dan kuman di kulit. Sabun mandi cair dapat dibuat melalui proses saponifikasi antara minyak (trigliserida) dengan basa alkali berupa KOH. Tahapan pembuatan sabun mandi cair meliputi pembuatan soap base, pemanasan soap base, pelarutan soap base, dan penetralan serta penambahan zat aditif. Metode pembuatan soap base terdapat metode cold process dan hot process. Selain itu, jenis minyak dan konsentrasi basa alkali yang digunakan dapat beragam serta penambahan zat aditif, seperti pewarna dan pewangi. Pada penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan sabun mandi cair menggunakan minyak kelapa sawit dengan metode cold dan hot process lalu melakukan variasi konsentrasi KOH pada metode yang terbaik pada percobaan sebelumnya. Produk sabun mandi yang dihasilkan akan diuji terhadap parameter yang ada di SNI 06-4085-1996 Tentang Syarat Mutu Sabun Mandi Cair. Hasil penelitian menunjukkan produk sabun mandi yang terbaik dihasilkan dari metode hot process dengan menggunakan konsentrasi KOH 40% b/b memiliki tekstur soap base yang lebih lembut, lebih cepat memadat, memiliki pH 9, berbentuk cair kental, berbau khas, berwarna kuning jernih, memiliki rendemen sebesar 98%, viskositas 21,0121 cSt, dan massa jenis 1,0215 g/ml.
ANALISA EKONOMI PABRIK SABUN MANDI CAIR DARI VCO (VIRGIN COCONUT OIL) DENGAN KAPASITAS 16.000 TON/TAHUN Rusdi, Muhammad Zufar; Dewajani , Heny
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.415

Abstract

Sabun cair merupakan produk yang strategis karena saat ini masyarakat modern cenderung menyukai produk yang praktis dan ekonomis. Sabun merupakan garam natrium dari asam lemak yang berasal dari lemak hewani atau minyak nabati. Dalam pembuatan sabun banyak sekali jenis minyak yang dapat digunakan sebagai bahan baku, contohnya adalah minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan VCO. Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar kedua di dunia dan hal ini menjadi peluang untuk pengembangan kelapa menjadi aneka produk yang bermanfaat, salah satunya adalah Virgin Coconut Oil (VCO). VCO memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku utama sabun mandi cair karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan kulit. Pendirian pabrik sabun mandi cair dengan bahan baku VCO diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan kebersihan dan memenuhi kebutuhan sabun masyarakat Indonesia. Pabrik direncanakan didirikan di Gresik, Jawa Timur dengan kapasitas produksi 16.000 ton/tahun dan beroperasi selama 345 hari/tahun, 24 jam per hari. Hasil analisa ekonomi menunjukkan bahwa Total Capital Investment (TCI) yang dibutuhkan sebesar Rp 30.445.740.189,79, dan Total Production Cost (TPC) sebesar Rp. 619.493.036.350. Laba kotor sebesar Rp 23.075.935.677,95, dan laba bersih sebesar Rp 16.208.154.974,57. Laju pengembalian modal (ROI) sebesar 53,2362 dan jangka waktu pengembalian modal (POT) selama 1,539 tahun. Breakeven Point (BEP) sebesar 54,1956%, Shutdown Point (SDP) pada 8.366,938 kg/tahun, dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 85,1087%.
STUDI KINERJA TERMAL ROTARY DRYER PADA PROSES GRANULASI INSEKTISIDA DI INDUSTRI PESTISIDA DENGAN PENDEKATAN SIMULASI ASPEN PLUS Pambudi, Setyo Rian; Dewajani , Heny; Akmal, Ahmad Syofiyuddin
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 4 (2025): December 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i4.7773

Abstract

Rotary dryer merupakan alat penting dalam proses granulasi insektisida di industri pestisida, terutama untuk menurunkan kadar air produk agar sesuai standar mutu. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja termal rotary dryer pada unit produksi insekttisida dengan kapasitas 1,5 ton/jam melalui pendekatan neraca massa, neraca energi, dan simulasi Aspen Plus. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi langsung di lapangan (data aktual) dengan mengamati kinerja alat saat beroperasi dalam periode tertentu. Tahapan penelitian meliputi pengambilan data, perhitungan neraca panas, serta evaluasi efisiensi alat sedangkan untuk simulasi pada Aspen Plus memasukan data lapangan, melakukan simulasi dengan memilih pallet rotary dryer pada Aspen Plus kemudian melihat hasil simulasi dan melakukan evaluasi efisiensi rotary dryer. Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi suhu dan flowrate bahan, sedangkan untuk variable terikatnya adalah neraca massa dan neraca panas pada alat rotary dryer.  Efisiensi ditentukan dari perbandingan antara panas masuk dan panas keluar rotary dryer, hasilnya digunakan untuk menilai apakah rotary dryer telah beroperasi secara optimal. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan efisiensi pengeringan dan efisiensi panas menggunakan data aktual dan hasil simulasi. Dari hasil perhitungan manual, efisiensi pengeringan diperoleh sebesar 82,32% dan efisiensi panas sebesar 94,23%. Sedangkan hasil simulasi menunjukkan efisiensi pengeringan sebesar 85,68%.