Hotmarlina, Evinta
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Memetakan Tantangan dan Peluang Pendidikan Agama Kristen dalam Masyrakat Majemuk di Era Disrupsi Digital Hotmarlina, Evinta
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 5, No 1: Pebruari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/sikip.v5i1.211

Abstract

Secara geografis Indonesia terdiri dari 17.760 pulau dan lebih dari 1340 suku. Setiap suku memiliki budaya dan keyakinan yang berbeda pula.  Keberagaman suku dan keyakinan tersebut sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Pengalaman masyrakat indonesia hidup dalam kemajemukan yang telah dimulai sejak lama, hendaknya tidak menjadi permasalahan, namun pada kenyataannya persoalan hubungan antar umat beragama masih terjadi, masalah ini sering disebut dengan isu SARA.  
Berpikir kritis sebagai praktik spiritual: Membingkai ulang pedagogi kolaboratif Kristen di era post-truth dan kecerdasan buatan generatif KaroKaro, Desire; Kus, Benjamin Kusworo; Hotmarlina, Evinta
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1096

Abstract

The post-truth era and the disruption of generative artificial intelligence (GenAI) have fundamentally transformed the epistemic landscape of higher education, exposing the limitations of cognitive-individual skill-based critical thinking paradigms. This conceptual study argues that the approaches of Ennis, Facione, and Paul-Elder are necessary but insufficient; they must be reframed as spiritual-communal practices rooted in intellectual virtues. Through interdisciplinary synthesis across virtue epistemology (Zagzebski, Baehr), Christian pedagogy (Palmer, Wolterstorff, Smith, Meek), collaborative learning, and GenAI studies in education, this paper proposes a five-layer Christian collaborative pedagogy model that treats the faith–skepticism tension as productive generative tension. Five derivative propositions are articulated as an empirical research agenda for Christian higher education in Indonesia. The primary contribution is a paradigm shift from apologetic-defensive or accommodationist Christian pedagogy toward an intellectually mature and theologically honest pedagogy—one that forms students to think critically because of—not despite—their faith.   Abstrak Era post-truth dan disrupsi kecerdasan buatan generatif (GenAI) mengubah lanskap epistemik pendidikan tinggi secara fundamental, mengungkap keterbatasan paradigma berpikir kritis berbasis keterampilan kognitif-individual. Studi konseptual ini berargumen bahwa pendekatan Ennis, Facione, dan Paul-Elder bersifat 'necessary but insufficient'; ia perlu dibingkai ulang sebagai praktik spiritual-komunal yang berakar pada kebajikan epistemik. Melalui sintesis lintas disiplin antara epistemologi kebajikan (Zagzebski, Baehr), pedagogi Kristen (Palmer, Wolterstorff, Smith, Meek), pembelajaran kolaboratif, dan studi GenAI dalam pendidikan, tulisan ini mengusulkan model pedagogi kolaboratif Kristen lima-lapis yang menjadikan tegangan iman–skeptisisme sebagai tegangan generatif yang produktif. Lima proposisi turunan diformulasikan sebagai agenda penelitian empiris untuk pendidikan tinggi Kristen Indonesia. Kontribusi utama adalah pergeseran paradigmatik dari pedagogi Kristen apologetik-defensif atau akomodasionis menuju pedagogi yang dewasa secara intelektual dan jujur secara teologis, membentuk mahasiswa untuk berpikir kritis justru karena—bukan meskipun—mereka beriman.