Integritas pemimpin dewasa ini menjadi salah satu topik yang banyak dibicarakan dalam diskusi dan seminar oleh kalangan akademis dan pakar etika di berbagai belahan dunia. Gary Yukl mengatakan: “Diskusi mengenai kepemimpinan etis selalu melibatkan konsep integritas pribadi. Integritas pribadi adalah sebuah atribut yang membantu menjelaskan efektivitas kepemimpinan. Dalam penelitian lintas budaya mengenai ciri penting untuk kepemimpinan yang efektif, integritas hampir berada di puncak daftar dalam semua budaya yang dipelajari. Kebanyakan sarjana menganggap integritas menjadi sebuah persyaratan untuk kepemimpinan etis. Seiring dengan perkembangan dunia saat ini, segala bidang kehidupan membutuhkan pemimpin yang berkualitas. Kemajuan dalam bidang kepemimpinan sekuler tersebut berpengaruh pada kepemimpinan pastoral dalam gereja dan lembaga gereja di Indonesia. Hal ini disebabkan keterbukaan para pemimpin Kristen untuk mengadopsi konsep dan teori yang netral dari kepemimpinan sekuler untuk melengkapi kepemimpinan pastoral. Gembala adalah istilah yang dipakai oleh Alkitab bagi pemimpin pastoral yang terlibat dalam pelayanan di tengah-tengah jemaat Tuhan. Gembala merupakan salah satu karunia yang dianugerahkan Tuhan (Efesus 4:11). Karunia gembala diberikan kepada orang-orang tertentu. Tugas penggembalaan sangat erat kaitannya dengan relasi spiritual gembala dengan Tuhan, pemeliharaan kesehatan mental dirinya, interaksi sosial dengan jemaat, dan kesehatan fisik. Gereja membutuhkan seorang gembala yang mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Seorang gembala yang profesional mampu membawa gereja sampai ke tujuan utama visi dan misi gereja, yakni “teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala” (Efesus 4:15). Metode yang digunakan dalam penelitian ini Kuantitatif. Berdasarkan data penelitian, ditemukan Integritas Gembala Sidang Gereja Gereja Kristus Rahmani Indonesia Jemaat Injili Misi Agape Langkat.