Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ALTERNASI ANTIBIOTIK: METODE KURATIFALTERNATIF ANTIBIOTIK PENYAKIT OPHTHALMIA NEONATORUM AKIBAT INFEKSI BAKTERI NEISSERIA GONORRHOEAE Andi Rassya Daffa Islami, Shaneisha Ophelya, Khansa Alivia Syajidah, Muhammad Maulana, Rani Himayani
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 2 No. 2 April (2025): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ophthalmia neonatorum (ON) merupakan konjungtivitis neonatal yang parah serta kondisi yang mengancam penglihatan. Ophthalmia neonatorum disebabkan oleh bakteri diplokokus gram negatif Neisseria gonorrhoeae. N. gonorrhoeae dimasukkan ke dalam daftar 12 patogen yang dimana resistensi obat pada patogen-patogen tersebut dianggap sebagai ancaman serius bagi kesehatan global. Mekanisme resistensi bakteri N. gonorrhoeae pada beta-laktam adalah dengan menargetkan enzim-enzim tertentu yang berperan dalam sintesis peptidoglikan, komponen penting pada dinding sel bakteri. Literatur review ini menggunakan metode narrative review dengan berbagai artikel jurnal yang didapatkan dari sumber data daring yaitu PubMed, Google Scholar, dan ResearchGate. Pemilihan jurnal menetapkan filter batasan tahun yaitu dari tahun 2015 sampai tahun 2025 yang berhubungan dengan tujuan. N. gonorrhoeae telah dilaporkan mengalami resistansi terhadap berbagai antibiotik seperti penisilin, tetrasiklin, dan fluoroquinolon. Untuk kasus yang diduga mengalami kegagalan pengobatan dengan seftriakson, pedoman pengobatan tahun 2021 dari Centers for Disease Control (CDC) di Amerika Serikat merekomendasikan mempertimbangkan pengobatan dengan satu dosis gentamisin 240 mg secara intramuskular dan satu dosis azitromisin 2 g secara oral. Selain itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa monocaprin adalah agen antimikroba yang menjanjikan untuk digunakan dalam mengatasi ophthalmia neonatorum akibat gonokokus. Monocaprin, kombinasi azitromisin dengan antibiotik lain, seperti gentamisin, menunjukkan potensi dalam meningkatkan efektivitas terapi serta menekan perkembangan resistensi dari N. gonorrhoeae penyebab ophthalmia neonatorum.
EDUKASI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI YANG TEPAT KEPADA IBU BALITA DI POSYANDU SIMBARINGIN DESA SIDOSARI Daulay, Suryani; Yuningrum, Hesti; Angraini, Dian Isti; Islami, Andi Rassya Daffa; Rahmani, Adrina Rizka
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3532

Abstract

Masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode emas bagi tumbuh kembang anak. Pada usia 6 bulan, ASI tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga diperlukan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik dari sisi waktu, jumlah, frekuensi, maupun kualitas kandungan gizinya. Pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan seperti stunting, wasting, dan kekurangan energi maupun zat gizi mikro lainnya. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu balita mengenai pentingnya pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik dari segi waktu pemberian, jenis makanan, maupun kandungan gizinya. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman, sikap, praktik, meningkatkan literasi tentang pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyampaian materi dan diskusi. Sasaran dalam kegiatan ini adalah 20 ibu balita Posyandu Simbaringin, Desa Sidosari. Materi penyuluhan yang diberikan mencakup materi tentang pentingnya pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik dari segi waktu pemberian, jenis makanan, maupun kandungan gizinya. Diskusi dilakukan setelah penyampaian materi selesai dilaksanakan. Penyuluhan yang dilakukan terbukti efektif meningkatkan pemahaman tentang pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat
Karakteristik Pasien Kanker Nasofaring di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2023-2024 Islami, Andi Rassya Daffa; Lusina, Septia Eva; Wibawa, Fatah Satya; Windarti, Indri
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1073

Abstract

Pendahuluan: Kanker Nasofaring (KNF) merupakan neoplasma yang umum di Asia Tenggara dan erat kaitannya dengan infeksi Epstein–Barr virus (EBV). Secara global terdapat sekitar 120.434 kasus, dengan Asia sebagai penyumbang terbesar mencapai 100.298 kasus. Variasi angka kejadian antarwilayah menunjukkan peran faktor lingkungan dan genetik dalam perkembangan penyakit ini. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional dan analisis univariat ini menggunakan metode total sampling dari 85 rekam medis pasien di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek yang terkonfirmasi histopatologi KNF, pada periode Januari 2023 hingga Desember 2024. Hasil: Hasil menunjukkan mayoritas pasien adalah usia dewasa (19–59 tahun) (84,7%) , berjenis kelamin laki-laki (69,2%), dan memiliki tipe histopatologi tidak berkeratin tidak berdiferensiasi (tipe IIb) paling dominan (77,6%). Pasien banyak terdiagnosis pada stadium lanjut, dengan persentase tertinggi pada stadium IVA (21,2%). Metastasis Kelenjar Getah Bening (KGB) tercatat pada 17,6% pasien. Pembahasan: Dominasi pasien laki-laki kemungkinan dipengaruhi faktor biologis, paparan lingkungan, dan kebiasaan hidup berisiko. Tipe histopatologi tidak berkeratin terutama yang tidak berdiferensiasi mencerminkan pola wilayah endemik Asia dan berkaitan dengan infeksi Epstein–Barr virus. Mayoritas kasus terdiagnosis pada stadium lanjut akibat gejala yang tidak spesifik. Simpulan: Pasien didominasi oleh laki-laki dewasa, dengan tipe karsinoma tidak berkeratin tidak berdiferensiasi tipe IIb, dan terdiagnosis pada stadium lanjut