Ophthalmia neonatorum (ON) merupakan konjungtivitis neonatal yang parah serta kondisi yang mengancam penglihatan. Ophthalmia neonatorum disebabkan oleh bakteri diplokokus gram negatif Neisseria gonorrhoeae. N. gonorrhoeae dimasukkan ke dalam daftar 12 patogen yang dimana resistensi obat pada patogen-patogen tersebut dianggap sebagai ancaman serius bagi kesehatan global. Mekanisme resistensi bakteri N. gonorrhoeae pada beta-laktam adalah dengan menargetkan enzim-enzim tertentu yang berperan dalam sintesis peptidoglikan, komponen penting pada dinding sel bakteri. Literatur review ini menggunakan metode narrative review dengan berbagai artikel jurnal yang didapatkan dari sumber data daring yaitu PubMed, Google Scholar, dan ResearchGate. Pemilihan jurnal menetapkan filter batasan tahun yaitu dari tahun 2015 sampai tahun 2025 yang berhubungan dengan tujuan. N. gonorrhoeae telah dilaporkan mengalami resistansi terhadap berbagai antibiotik seperti penisilin, tetrasiklin, dan fluoroquinolon. Untuk kasus yang diduga mengalami kegagalan pengobatan dengan seftriakson, pedoman pengobatan tahun 2021 dari Centers for Disease Control (CDC) di Amerika Serikat merekomendasikan mempertimbangkan pengobatan dengan satu dosis gentamisin 240 mg secara intramuskular dan satu dosis azitromisin 2 g secara oral. Selain itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa monocaprin adalah agen antimikroba yang menjanjikan untuk digunakan dalam mengatasi ophthalmia neonatorum akibat gonokokus. Monocaprin, kombinasi azitromisin dengan antibiotik lain, seperti gentamisin, menunjukkan potensi dalam meningkatkan efektivitas terapi serta menekan perkembangan resistensi dari N. gonorrhoeae penyebab ophthalmia neonatorum.
Copyrights © 2025