Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGAMATAN KESESUAIAN TATA GUNA LAHAN DI SUB KAWASAN 2 MANGGARAI JAKARTA SELATAN Carina, Nina; Angelita Natasya; Putri Mentari Supit; Angel Stevany
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i1.33985

Abstract

Since it was still called Batavia, Jakarta has been the center of government. The strategic location of Jakarta with its port has for centuries made this city grow and develop continuously. All changes and developments occur quickly, both planned and unplanned. For this reason, the Jakarta City Government created Urban Design Guidelines (UDGL) to guide all development directions towards a better Jakarta. The relocation of the National Capital to Kalimantan will result in DKI Jakarta being transformed into DK Jakarta; the center of the national economy and a global city. Transportation system support to overcome congestion has been implemented and continues to be planned in various ways, such as providing various integrated public transportation systems, to developing city areas that are oriented towards public transportation systems commonly known as TOD (Transit Oriented Development). Manggarai Station is the busiest station in Jabodetabek and is planned to become a central station. Thus, the Manggarai area is one of the locations that will be developed as a TOD. Unfortunately, the Manggarai area does not have UDGL. Using the descriptive identification method obtained through direct observation in the field and comparing it with the land use contained in the Detailed Jakarta Spatial Plan and Land Use Theory, findings, suggestions, and recommendations were obtained to be used for DCKTRP as consideration in preparing the Manggarai Area UDGL in the future. Observations on the suitability of land use in Sub Region 2 are an inseparable part of the 3 observations carried out in the Manggarai Area. ABSTRAK Sejak masih bernama Batavia, Jakarta telah menjadi pusat pemerintahan. Letak kota Jakarta yang strategis dengan pelabuhannya selama berabad-abad menjadikan kota ini tumbuh dan berkembang terus menerus. Segala perubahan dan perkembangan terjadi dengan cepat, baik terencana maupun tidak terencana. Untuk itu, Pemerintah Kota Jakarta membuat Pedoman Rancang Kota (PRK) atau Urban Design Guidelines (UDGL) untuk memandu segala arah pembangunan menuju Jakarta yang lebih baik. Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan akan mengakibatkan DKI Jakarta menjelma menjadi DK Jakarta, yaitu kota yang menjadi pusat perekonomian nasional dan kota global. Dukungan sistem transportasi untuk mengatasi kemacetan telah dilaksanakan dan terus direncanakan dengan berbagai cara, seperti penyediaan berbagai sistem transportasi umum yang terintegrasi, hingga pengembangan kawasan kota yang berorientasi pada sistem transportasi umum atau biasa dikenal dengan TOD (Transit Oriented Development). Stasiun Manggarai merupakan stasiun tersibuk di Jabodetabek dan direncanakan menjadi stasiun sentral. Dengan demikian Kawasan Manggarai menjadi salah satu lokasi yang akan dikembangkan sebagai TOD. Sayangnya, saat ini kawasan Manggarai belum memiliki PRK. Dengan metode identifikasi deskriptif yang diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan membandingkannya dengan tata guna lahan yang tertuang pada Rencana Detail Tata Ruang Jakarta serta teori Tata Guna Lahan pada Kawasan TOD, diperoleh temuan, saran dan rekomendasi untuk dijadikan bahan pertimbangan oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP) dalam penyusunan PRK Kawasan Manggarai kedepannya. Pengamatan kesesuaian tata guna lahan di Sub Kawasan 2 merupakan satu bagian tak terpisahkan dari 3 pengamatan yang dilakukan di Kawasan Manggarai.
DESAIN PERANCANGAN SISTEM PENCAHAYAAN BUATAN PADA COFFEE SHOP UNTUK MEMENUHI KENYAMANAN VISUAL PENGUNJUNG DAN EFISIENSI ENERGI Widia Sari; Angel Stevany; Endah Setyaningsih; Titin Fatimah
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (IN PRESS)
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/r1fz1281

Abstract

Pencahayaan buatan merupakan elemen krusial dalam menciptakan suasana ruang yang nyaman dan fungsional, terutama pada ruang publik seperti coffee shop yang mengandalkan atmosfer sebagai daya tarik utama. Penulisan makalah ini bertujuan untuk merancang sistem pencahayaan buatan yang mampu memenuhi kenyamanan visual pengunjung melalui pendekatan desain yang mempertimbangkan intensitas cahaya, distribusi jumlah lampu, suhu warna, serta integrasi estetika dengan interior. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah studi literatur dan analisis pembuatan coffee shop yang telah diterapkan sebelumnya. Fokus utama diarahkan pada aspek intensitas cahaya, distribusi pencahayaan, suhu warna, serta penempatan dan jenis armatur yang sesuai dengan fungsi ruang. Hasil perancangan ini menunjukkan bahwa sistem pencahayaan buatan pada area café indoor, kasir, dan dapur telah memenuhi standar iluminasi berdasarkan perhitungan yang melibatkan koefisien penggunaan (Kp) dan depresiasi (Kd). Penerapan intensitas dan temperatur warna yang sesuai, serta distribusi cahaya yang merata, mampu menciptakan suasana ruang yang mendukung aktivitas sosial, kerja, dan relaksasi. Selain itu, sistem ini juga terbukti efisien secara energi dengan densitas daya yang rendah. Oleh karena itu, direkomendasikan penggunaan lampu LED dengan CRI ≥ 80 (SNI 6197-2020), penyesuaian suhu warna sesuai fungsi ruang, penerapan layered lighting, integrasi desain pencahayaan dengan interior untuk memastikan pencapaian pencahayaan yang optimal. Desain sistem pencahayaan ini diharapkan menjadi acuan dalam menciptakan pengalaman ruang yang optimal bagi pengunjung coffee shop sekaligus mendukung aspek fungsional dan estetika interior.