Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis kadar feritin sebagai prediktor risiko Intrauterine Growth Restriction (IUGR) pada ibu hamil Komunitas Suku Anak Dalam di Kabupaten Tebo Jambi Fitri, Samnil Astuti; Agustina, Fitratur Rahmah; Ali, Jumaidi
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 6, No 3 (2025): Nopember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v6i3.2894

Abstract

Background: Intrauterine Growth Restriction (IUGR) is one of the leading causes of perinatal morbidity and mortality, particularly among vulnerable populations. Ferritin reflects iron storage and has the potential to serve as a predictive biomarker for IUGR, while socio-cultural factors influence maternal nutritional status and antenatal health behaviors.Objectives: This study aimed to analyze the relationship between ferritin levels and IUGR among pregnant women in the Suku Anak Dalam (SAD) community, and to explore the socio-cultural context that affects iron status and fetal growth.Methods: A mixed-methods study was conducted from July to August 2025 among 31 pregnant women from the Suku Anak Dalam (SAD) community in Tebo Regency, Jambi. Quantitative data were obtained through ferritin measurement using a Ferritin Rapid Test from capillary blood, while IUGR was identified based on fundal height, abdominal girth, and fetal heart rate. Qualitative data were collected through in-depth interviews and observations focusing on dietary practices, cultural beliefs, and access to health services.Results: Nineteen respondents (61,3%) had low ferritin levels (<15 ng/mL), and eight (25,8%) were categorized as having IUGR. Low ferritin levels were significantly associated with IUGR (p=0,02; OR=5,3; 95% CI: 1,1–24,5). Qualitative findings revealed limited dietary diversity, dependence on forest-based foods, and cultural practices that restricted antenatal care access, which indirectly increased the risk of IUGR.Conclusion: Low ferritin levels were significantly associated with an increased risk of IUGR, and socio-cultural factors exacerbated this condition through their influence on maternal nutrition and health behaviors among SAD pregnant women. Integrating simple ferritin screening with an understanding of the socio-cultural context may serve as an effective strategy for early screening and prevention in remote areas.
Profil status gizi lebih balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tuo Pasir Mayang Tahun 2025 Syahrial; Aldo Reskia Putra; Ega Rahmasuci; Ali, Jumaidi; Sabrina Rachel Assyifa; Yora Aghitya Khamel
BEMAS: Jurnal Bermasyarakat Vol 7 No 1 (2026): BEMAS: Jurnal Bermasyarakat
Publisher : LPPMPK- Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/bemas.v7i1.1980

Abstract

Masalah gizi lebih pada balita merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang terus meningkat di Indonesia dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak. Kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan pola konsumsi, pola asuh makan, dan gaya hidup keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil risiko gizi lebih pada balita berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tuo Pasir Mayang tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder dari aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPBGM). Populasi penelitian adalah seluruh balita yang tercatat pada bulan Agustus 2025 sebanyak 530 anak. Data dianalisis menggunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dan persentase untuk menggambarkan karakteristik status gizi balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi balita berisiko mengalami gizi lebih sebesar 14,5%. Dari kelompok balita berisiko gizi lebih tersebut proporsi berdasarkan jenis kelamin relatif seimbang, yaitu laki-laki 49,4% dan perempuan 50,6%. Berdasarkan kelompok umur, balita usia 24–59 bulan memiliki proporsi risiko tertinggi (49,3%), diikuti usia 6–23 bulan (42,9%) dan usia 0–5 bulan (7,8%). Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah kerja UPTD Puskesmas Tuo Pasir Mayang menghadapi beban risiko gizi lebih balita yang cukup tinggi, terutama pada kelompok usia di atas dua tahun. Oleh karena itu diperlukan penguatan upaya promotif dan preventif berbasis keluarga melalui edukasi gizi, peningkatan kapasitas kader, serta pemantauan pertumbuhan secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi puskesmas dan pemerintah daerah dalam merancang kebijakan dan intervensi pencegahan obesitas anak secara terintegrasi.