Aldiesa Ade Pritami
University of Lampung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Laporan Kasus: Space Occupying Lesion pada pasien dengan HIV Aldiesa Ade Pritami; Fitriyani Fitriyani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i1.pp61-69

Abstract

Abstrak: Space Occupying Lesion (SOL) didefinisikan sebagai setiap neoplasma, massa inflamasi atau parasit, hematoma, kista, maupun malformasi vaskular yang menyebabkan peningkatan volume di dalam ruang intrakranial. Human immunodeficiency virus/ acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) merupakan faktor predisposisi untuk beberapa infeksi oportunistik sistem saraf pusat (SSP). Laporan dari dunia Barat menunjukkan bahwa toxoplasmosis merupakan penyebab paling umum dari SOL SSP pada pasien AIDS, sementara di India, tuberkulosis menjadi etiologi paling umum. Di Indonesia, setiap pasien yang dicurigai mengalami infeksi otak dan menunjukkan gejala serta tanda klinis neurologi dengan onset subakut, kronis, persisten hingga menjadi progresif, maka harus dipikirkan infeksi tuberkulosis (TB) pada sistem saraf pusat. Artikel bertujuan untuk menegakkan dan mengkaji suatu kasus pada seorang pasien dengan diagnosis SOL dan HIV. Metode yang digunakan yaitu sebuah laporan kasus dengan sumber data yang diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang serta rekam medik. Dilaporkan, seorang wanita berusia 40 tahun dengan keluhan nyeri kepala dengan gejala yang menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial. Pasien sudah pernah menikah sebanyak dua kali. Pasien memiliki riwayat pengobatan TB paru dan sudah tuntas sejak 5 tahun SMRS. Pemeriksaan status neurologi didapatkan adanya parese saraf kranial N.VII dan N.XII, hiperefleksi pada refleks fisiologis patella dan achilles, dan kelemahan kekuatan motorik pada ekstremitas superior dan inferior. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan nilai elektrolit (natrium, kalium, kalsium) yang rendah. Pemeriksaan HIV menunjukkan hasil reaktif. Hasil CT scan kepala memberikan kesan adanya lesi hiperdens bulat multipel di subkortikal parietal bilateral, thalamus sinistra, cerebellum sinistra dengan edema perifokal minimal sekitarnya dengan diagnosis banding tuberkuloma, toxoplasma, metastasis serta tampak adanya atrofi cerebri. Hasil foto rontgen thorax pasien menunjukkan kesan adanya perbercakan samar di lapang tengah kanan dengan suspek bronkopneumonia. Pasien diberikan terapi farmakologis yang terdiri dari Dexamethason, omeprazole, paracetamol, KSR, asam folat, clindamycin, clonazepam, KCL, kotrimoksazol, kalsium laktat, vitamin B12, dan ondansetron. Pengobatan dengan ARV direncanakan 2 minggu setelah pasien dirawat inap.
Penatalaksanaan Holistik Pasien Laki-Laki Usia 42 Tahun dengan Gastritis Kronik Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga Aldiesa Ade Pritami; Aila Karyus
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v12i1.pp534-547

Abstract

Gastritis adalah penyakit yang dapat terkendali dengan menerapkan gaya hidup sehat serta manajemen stres yang baik. Gastritis masuk ke dalam sepuluh besar penyakit terbanyak di Provinsi Lampung pada tahun 2023 dengan jumlah kasus sebanyak 147.066 kasus. Meningkatnya prevalensi gastritis menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, karena dapat menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pelayanan dokter keluarga berbasis evidance based medicine dengan identifikasi faktor risiko, keluhan klinis, serta tatalaksana melalui pendekatan patient centered dan family approach. Studi ini adalah laporan kasus. Data primer diambil dari autoanamnesis, pemeriksaan fisik dan kunjungan rumah guna memperoleh data keluarga, data psikososial serta data lingkungan. Data sekunder diambil dari rekam medis pasien di puskesmas. Analisis dilakukan berdasarkan diagnosis holistik pada awal kunjungan, proses, dan akhir kunjungan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian didapatkan seorang pasien, Tn. N, 42 tahun, datang dengan keluhan mual, muntah, disertai nyeri ulu hati, mudah kenyang, serta rasa tidak nyaman setelah makan sejak 2 hari sebelumnya. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis dengan gastritis kronik. Faktor risiko internal meliputi pola makan yang buruk, merokok, dan persepsi yang salah mengenai gastritis. Faktor risiko eksternal meliputi kurangnya peran dan dukungan keluarga mengenai penyakit pasien, stres, dan keterbatasan ekonomi. Pada pasien dilakukan intervensi berupa edukasi menggunakan media poster. Setelah dilakukan intervensi didapatkan perubahan pengetahuan serta perubahan perilaku pasien. Diagnosis dan tatalaksana dilakukan secara komprehensif dan holistik berdasarkan teori dan penelitian terkini Kata kunci: diagnostik holistik, gastritis kronik, kedokteran keluarga