Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GAMBARAN FEAR OF INTIMACY PADA DEWASA AWAL DI JAKARTA Michiko, Runi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i2.35848

Abstract

Dewasa awal (18–29 tahun) merupakan tahap perkembangan, saat individu mulai membangun hubungan intim dengan individu lain (Arnet 2000). Pada satu sisi, tidak semua individu mampu menjalani tahap ini dengan optimal. Sebagian individu mengalami ketidaknyamanan ketika harus dekat secara emosional, kondisi ini disebut sebagai fear of intimacy. Fear of intimacy adalah kondisi saat individu merasa takut untuk menjalin kedekatan emosional dengan individu lain (Descutner & Thelen, 1991). Individu dengan kondisi ini cenderung menghindari situasi yang menuntut kedekatan atau menjauhi hubungan yang berpotensi menjadi intim. Pola tersebut biasanya berakar pada pengalaman awal bersama pengasuh di masa kanak-kanak (Bowlby, 1969). Ketakutan ini juga terlihat dalam berbagai fenomena, salah satunya adalah ghosting pada dewasa awal. Ghosting adalah fenomena ketika pelaku menghilang tanpa alasan yang jelas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan fear of intimacy pada dewasa awal di Jakarta. Penelitian ini memperoleh jumlah responden sebanyak 153 partisipan dengan jumlah 62 laki-laki dan 93 perempuan. Instrumen penelitian menggunakan Fear of Intimacy Scale (FIS) dan pengambilan data melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewasa awal di Jakarta berada pada tingkat fear of intimacy kategori sedang (69.7%). Dimensi tertinggi adalah emotional valence (65.6), kedua vulnerability (28.9), dan content (10.8). Temuan ini mengindikasikan adanya hambatan dalam membangun kedekatan, meskipun tidak pada taraf yang tinggi.
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KONSUMSI MAKANAN TRADISIONAL SEBAGAI BENTUK UPAYA BELA NEGARA Michiko, Runi; Gading, Yoanita Maria Putri Sekar; Sibuea, Rahel; Kumayas, Jacqualyne Gavrilla; Wijaya, Theresa Nadine; Dariyo, Agoes
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8867

Abstract

National defence is not limited to physical efforts but can also be strengthened through economic and cultural contributions, including the consumption of traditional food. Traditional dishes play a dual function: supporting the MSME sector and preserving cultural heritage. MSMEs account for 99% of business activities and contribute 60% to the national GDP. However, in the era of globalization, the consumption of traditional food has declined as people increasingly prefer non-traditional options influenced by trends, quality, and pricing. This situation shows the need for strategies that can maintain public interest in traditional cuisine. Using a qualitative approach with convenience sampling, this study explores Indonesians’ perceptions of traditional food. The interview results indicate that participants still consume traditional dishes in their daily lives, partly because these foods convey a sense of warmth and familiarity. All participants agreed that eating traditional food represents an act of national defence and a tangible expression of patriotism, a perspective that should be more widely understood by the public. Nonetheless, significant challenges remain, particularly in promoting traditional food to younger generations due to limited creative marketing and insufficient innovation. Therefore, more inventive efforts and broader support are needed to ensure traditional food remains appealing and relevant to society. ABSTRAK Bela negara tidak hanya berbentuk fisik melainkan juga melalui kontribusi ekonomi dan budaya yang diwujudkan melalui konsumsi makanan tradisional. Makanan tradisional memiliki peran ganda, yaitu sebagai penopang ekonomi UMKM dan melestarikan budaya bangsa. Data menunjukan bahwa UMKM mewakili 99% kegiatan bisnis dan berkontribusi 60% terhadap PDB, namun pada era globalisasi konsumsi makanan tradisional menurun. Masyarakat lebih memilih makanan non-tradisional yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tren, kualitas, dan harga. Maka dari itu diperlukan strategi agar makanan tradisional tetap diminati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan convenience sampling untuk mengetahui persepsi masyarakat Indonesia mengenai makanan tradisional. Hasil wawancara menunjukan bahwa partisipan masih mengonsumsi makanan tradisional sebagai makanan sehari-hari dengan beberapa alasan, salah satunya adalah dikarenakan rasa kehangatan yang diberikan dari makanan tradisional tersebut. Dengan mengkonsumsi hidangan tradisional, semua partisipan setuju bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara untuk membela negara sekaligus bentuk nyata cinta tanah air. Cara ini perlu diketahui oleh masyarakat luas. Namun, terdapat tantangan utama dalam mengenalkan makanan tradisional, khususnya kepada generasi muda, seperti kurangnya promosi kreatif dan terbatasnya inovasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya baru yang lebih kreatif serta dukungan dari berbagai pihak agar makanan tradisional semakin diminati oleh masyarakat luas.  
MEDIA SENI SEBAGAI SARANA MELEPASKAN STRES PARA IBU PKK CILINCING Michiko, Runi; Jacqualyne Gavrilla Kumayas; Syiefa Atharida Pertiwi; Denrich Suryadi
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 3 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i3.36759

Abstract

Cilincing subdistrict, located in Cilincing District, North Jakarta City. Cilincing subdistrict has a family welfare promoter that does activities for children and women. Family welfare promoters consist of housewives who spare their time between family and duties for humanity. As a mother that is also active in family welfare promotion, they experience mental pressure such as stress. Stress is an impact for taking care of family and  welfare promoter activities.. The purpose of this activity is to improve the mental health of family welfare promoters. The number of our respondents was 13 people. The measuring instrument used was the Perceived Stress Scale Version 10 (PSS-10). Based on PSS-10 data processing, the result was 19, which means they experience moderate stress. In dealing with stress, material about stress and doing art activities was given to express the emotion. This humanity project was carried out for 18 days, from Tuesday, February 18, 2025, to Tuesday, April 15, 2025. On 18 February we followed and observed their activities. The intervention was carried out within 2 meetings. The intervention was carried out in 2 meetings on Tuesday, April 8, 2025, by providing a pretest, material on stress, and painting. Then the second meeting on Tuesday, April 15, 2025, by providing material on emotional management, painting, and a posttest. The results showed that there was no significant decrease in stress level, with the mean score decreasing only slightly from 19 to 18.5, which still falls within the moderate range. Therefore, it can be concluded that the activity implemented was not effective. Factors contributing to this ineffectiveness included a lack of cooperation, insufficient rapport, limited understanding of the activity’s objectives, and time to conduct the activity, which led to PKK members being unwilling to open up to the project facilitators.   ABSTRAK Kelurahan Cilincing yang terletak di Kecamatan Cilincing, kota Administrasi Jakarta Utara memiliki  beberapa kegiatan salah satunya program PKK yang banyak melakukan kegiatan pemberdayaan bagi Anak dan Perempuan. PKK Kelurahan Cilincing terdiri dari para ibu rumah tangga yang membagi waktu antara keluarga dan tugas kemanusiaan. Sebagai ibu dan juga aktif di kegiatan PKK, maka para ibu mengalami tekanan mental tersendiri, yaitu stres. Stres tersebut merupakan dampak tanggung jawab rumah tangga dan sekaligus juga tanggung jawab menjadi anggota PKK. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesehatan mental ibu - ibu PKK. Jumlah responden adalah 13 orang. Alat Ukur yang digunakan adalah  Perceived Stress Scale Versi 10 (PSS-10). Berdasarkan olah data PSS-10, didapatkan hasil mean sebesar 19  yang memiliki arti bahwa ibu - ibu PKK mengalami kondisi stress tingkat sedang. Dalam mengatasi stres tersebut dilakukan penyampaian materi mengenai stres dan melakukan aktivitas seni sebagai tempat untuk mengekspresikan emosi. PKM dilaksanakan selama 18 hari pada Selasa 18 Februari 2025 sampai dengan Selasa 15 April 2025. Tanggal 18 Februari mengikuti kegiatan PKK dan mengobservasi. Aktivitas seni dilakukan dalam 2 pertemuan pada hari Selasa 8 April 2025 dengan pemberian pretest, materi mengenai stres, dan melukis. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa 15 April 2025 dengan pemberian materi mengenai pengelolaan emosi, melukis, dan posttest. Hasilnya ditemukan  tidak ada penurunan tingkat stres dari mean sebesar 19 menjadi 18.5 dan masih dalam taraf sedang sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak efektif. Kurangnya kerjasama, rapport, kurangnya pemahaman terhadap tujuan kegiatan, dan waktu untuk melaksanakan kegiatan sehingga para ibu anggota PKK tidak terbuka kepada pelaksana PKM.