Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Teknologi Deteksi Wajah Menggunakan Metode You Only Look Once Version 5 untuk Sistem Keamanan Rumah Anisah Nabilah; Madyono; Mochamad Yusuf Alif Candra
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 4 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v29i2.1266

Abstract

Keamanan rumah merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga keselamatan penghuni dari ancaman kejahatan. Dalam upaya pengamanan hampir 24 jam teknologi yang dapat kita andalkan adalah kamera CCTV. Perkembangan teknologi semakin pesat dari zaman ke zaman, Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan sistem keamanan adalah dengan menggunakan teknologi deteksi wajah yang di gabungkan dengan teknologi kamera CCTV. Pengenalan wajah ini akan merespon wajah tidak di kenal dengan membunyikan buzzer sebagai penanda terdapat orang asing yang masuk ke wilayah penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pengawasan keamanan. YOLOv5, yang dikenal dengan kecepatan dan akurasi tinggi dalam mendeteksi objek, diaplikasikan untuk mendeteksi wajah pada rekaman video atau gambar yang diambil oleh kamera pengawas (CCTV). Dalam penelitian ini, dilakukan pelatihan model dengan dataset wajah yang beragam dan diterapkan pada berbagai kondisi pencahayaan serta sudut pengambilan gambar. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa YOLOv5 mampu mendeteksi wajah dengan tingkat akurasi yang tinggi dan kecepatan yang memadai untuk diterapkan pada sistem pengawasan pada CCTV. Diharapkan sistem ini dapat menjadi solusi efektif dalam meningkatkan sistem keamanan, dengan kemampuan deteksi wajah yang lebih cepat dan presisi tinggi, serta potensi untuk diterapkan pada perangkat pengawasan cerdas.
Klasifikasi Gambar: Membedakan Lukisan Buatan Manusia dan AI dengan CNN M. Bahrul Subkhi; Ahmad Bagus Setiawan; Mochamad Yusuf Alif Candra
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 4 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v30i4.1284

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam menghasilkan karya seni yang menyerupai buatan manusia, sehingga diperlukan metode yang efektif untuk membedakan kedua jenis lukisan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model Klasifikasi Gambar yang mampu membedakan antara lukisan buatan manusia dan lukisan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) dengan arsitektur VGG19. Dalam penelitian ini, model dilatih selama 10 epoch dengan hasil yang menunjukkan peningkatan akurasi dan penurunan nilai loss secara signifikan dari waktu ke waktu. Pada epoch pertama, model mencapai akurasi awal sebesar 95.89% dengan nilai loss 0.1166 dalam waktu pelatihan 852 detik. Akurasi terus meningkat pada epoch-epoch berikutnya, mencapai 96.88% pada epoch kedua dengan penurunan nilai loss menjadi 0.0518, meskipun waktu pelatihan sangat singkat, hanya 1 detik. Pada epoch keempat dan keenam, model mencapai akurasi sempurna 100% dengan nilai loss yang sangat rendah, masing-masing 0.0213 dan 0.0379, serta waktu pelatihan hanya 1 detik. Namun, terdapat inkonsistensi pada waktu pelatihan yang bervariasi antara 1 detik hingga 853 detik. Secara keseluruhan, model menunjukkan kinerja yang baik dengan peningkatan akurasi dan penurunan nilai loss. Namun, akurasi sempurna pada beberapa epoch dapat menunjukkan tanda-tanda overfitting, dimana model terlalu menyesuaikan dengan data pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan model dapat melakukan generalisasi dengan baik pada data baru. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya termasuk validasi waktu pelatihan, evaluasi overfitting, dan pengujian model dengan data baru untuk memastikan kemampuan generalisasi.