Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relasi Manusia Dengan Gawai Perspektif Enframing Martin Heidegger Thoriq Baihaqi Firdaus
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 2 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi modern berkembang begitu pesat, hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Aktifitas manusia berkelindan dengan gawai, misalnya berbelanja, belajar, bepergian, dan bertemu, semua itu bisa dilakukan dengan satu alat. Hal tersebut menjadikan manusia memiliki ketergantungan pada penggunaan gawai. Tujuan penelitian ini untuk memberikan wawasan yang kritis dan mendalam tentang relasi manusia dengan gawai. Metode penelitian yang digunakan adalah kepustakaan dengan menggunakan analisis filsafat Martin Heidegger tentang enframing. Hasil penelitian ini adalah gawai memiliki pengaturan-pengaturan teknis yang memasukkan manusia ke dalam kerangka kerjanya, ke dalam ‘bingkainya’, sehingga manusia dipakai dalam sistem tersebut. Sejauh enframing terus beroperasi, relasi manusia dengan teknologi khususnya gawai, menjadi relasi yang reduktif. Gawai tidak menciptakan keterbukaan terhadap realitas; melainkan, justru membuat selubung baru yang menutupi manusia dan realitas. Akibatnya manusia menjadi terasing dari dirinya sendiri, sesama dan dunia realitas. Manusia ‘dibingkai’ oleh gawai dalam bentuk menjadi pengguna, penonton, penikmat, dan pelanggan yang ditaklukan melalui serangkaian instruksi teknologis dalam algoritma. Manusia yang mengalami keterbingkaian dalam gawai perlu menyikapi secara kritis untuk menembus batas ‘bingkai’ serta membuka kemungkinan kreatif dalam mengalami dunia.
Dinamika Pers dalam Keberpihakan Politis di Indonesia Thoriq Baihaqi Firdaus
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 5, No. 2, Desember 2025 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v5i2.7233

Abstract

Abstrak. Perjalanan pers Indonesia dari era perjuangan kemerdekaan hingga pascareformasi telah mengalami banyak pergolakan. Sebagai media pemberitaan dan penyebaran informasi, pers memiliki tanggung jawab sosial untuk senantiasa memberikan hasil yang akurat kepada masyarakat. Namun, perjalanan pers belum mencerminkan keakuratan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketidakakuratan pers dalam keberpihakan media dan bias pemberitaan dengan pendekatan sembilan elemen jurnalisme. Riset ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan telaah kritis pustaka untuk memperoleh penjelasan dan penafsiran ulang yang akurat atas fenomena masa lalu. Dinamika pers di Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga pascareformasi telah mengalami banyak perubahan orientasi. Pers selalu terikat dengan konteks zaman, baik yang dipengaruhi oleh ideologi pemerintah yang berkuasa maupun kepentingan ekonomi pemilik media. Pers dikendalikan oleh kepentingan ideologi-ekonomi, karena pers dapat menyebar luaskan opini yang membentuk kesadaran dan nilai masyarakat. Keberpihakan tersebut berujung pada bias pemberitaan yang dapat mengakibatkan kesalahpahaman dan penyebaran berita bohong. Untuk menghindari dua hal tersebut, perlu adanya acuan dalam peningkatan kualitas pemberitaan serta penyajian informasi berdasarkan fakta dan kebenaran peristiwa. Dengan ini, acuan yang dapat meningkatkan kualitas pers adalah sembilan elemen jurnalisme. Sembilan elemen jurnalisme dapat menjadi standar bagi wartawan serta lembaga pers supaya profesional dalam menyampaikan informasi dan berita. Abstract. The journey of the Indonesian press from the era of the independence struggle to the post-reform period has experienced many upheavals. As a media for reporting and disseminating information, the press has a social responsibility to consistently provide accurate results to the public. However, press trips do not yet reflect accuracy of the information. This study aims to analyze press inaccuracies in media partiality and reporting bias using the nine elements of journalism approach. This study uses a qualitative-descriptive method with a critical review of literature to obtain accurate explanations and reinterpretations of past phenomena. The dynamics of the press in Indonesia from pre-independence to post-reform era have experienced many changes in orientation. The press is always tied by the context of the times, whether influenced by the ideology of ruling government or the economic interests of media owners. The press is controlled by ideological-economic interests, because the press can disseminate opinions that shape public awareness and values. Such partiality leads to biased reporting which can lead to misunderstandings and the spread of fake news. To avoid these two things, there needs to be a reference for improving the quality of news reporting and presenting information based on facts and truth of events. With this, the reference that can improve the quality of the press is the nine elements of journalism. The nine elements of journalism can be a standard for journalists and press institutions to be professional in conveying information and news.