Wirananggala, Nyoman Bendhesa
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Gabapentinoid dalam Strategi Analgesia Preemptif pada Mastektomi Radikal Termodifikasi: Tinjauan Naratif Pratana, Yolanda Jenny; Kurniajaya, I Gusti Agung Made Wibisana; Wirananggala, Nyoman Bendhesa
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 3 (2025): JATI Desember 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ztnjkq21

Abstract

Nyeri pascaoperasi tetap menjadi tantangan utama pada pasien kanker payudara yang menjalani prosedur Modified Radical Mastectomy (MRM), dengan prevalensi nyeri sedang hingga berat mencapai hampir 70%. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah penggunaan analgesia preemptif dengan agen gabapentinoid, seperti pregabalin dan gabapentin, yang bekerja menghambat sensitisasi sentral serta menurunkan konsumsi opioid. Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kedua agen tersebut dalam mengurangi nyeri pasca-MRM, memperpanjang durasi bebas nyeri, dan menekan kebutuhan analgesik tambahan. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci “pregabalin”, “gabapentin”, “preemptive analgesia”, “modified radical mastectomy”, dan “postoperative pain”, mencakup publikasi berbahasa Inggris dan Indonesia periode 2013–2024. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pregabalin dan gabapentin secara konsisten menurunkan skor nyeri Visual Analog Scale (VAS), memperpanjang waktu hingga permintaan analgesik pertama, dan mengurangi total konsumsi opioid pascaoperasi. Pregabalin dosis 150 mg menunjukkan efektivitas yang setara atau lebih baik dibandingkan gabapentin 900 mg, dengan onset kerja lebih cepat dan profil efek samping yang lebih ringan. Secara keseluruhan, gabapentinoid terbukti efektif dan aman sebagai bagian dari strategi analgesia multimodal pasca MRM, dengan pregabalin menunjukkan keunggulan farmakokinetik dan tolerabilitas yang lebih baik. Penelitian berskala besar dengan populasi homogen masih diperlukan untuk memperkuat rekomendasi klinis berbasis bukti.
Peran Gabapentinoid dalam Strategi Analgesia Preemptif pada Mastektomi Radikal Termodifikasi: Tinjauan Naratif Pratana, Yolanda Jenny; Kurniajaya, I Gusti Agung Made Wibisana; Wirananggala, Nyoman Bendhesa
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 3 (2025): JATI Desember 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ztnjkq21

Abstract

Nyeri pascaoperasi tetap menjadi tantangan utama pada pasien kanker payudara yang menjalani prosedur Modified Radical Mastectomy (MRM), dengan prevalensi nyeri sedang hingga berat mencapai hampir 70%. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah penggunaan analgesia preemptif dengan agen gabapentinoid, seperti pregabalin dan gabapentin, yang bekerja menghambat sensitisasi sentral serta menurunkan konsumsi opioid. Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kedua agen tersebut dalam mengurangi nyeri pasca-MRM, memperpanjang durasi bebas nyeri, dan menekan kebutuhan analgesik tambahan. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci “pregabalin”, “gabapentin”, “preemptive analgesia”, “modified radical mastectomy”, dan “postoperative pain”, mencakup publikasi berbahasa Inggris dan Indonesia periode 2013–2024. Hasil sintesis menunjukkan bahwa pregabalin dan gabapentin secara konsisten menurunkan skor nyeri Visual Analog Scale (VAS), memperpanjang waktu hingga permintaan analgesik pertama, dan mengurangi total konsumsi opioid pascaoperasi. Pregabalin dosis 150 mg menunjukkan efektivitas yang setara atau lebih baik dibandingkan gabapentin 900 mg, dengan onset kerja lebih cepat dan profil efek samping yang lebih ringan. Secara keseluruhan, gabapentinoid terbukti efektif dan aman sebagai bagian dari strategi analgesia multimodal pasca MRM, dengan pregabalin menunjukkan keunggulan farmakokinetik dan tolerabilitas yang lebih baik. Penelitian berskala besar dengan populasi homogen masih diperlukan untuk memperkuat rekomendasi klinis berbasis bukti.
Bad Lung Down Phenomenon During Spinal Positioning for Hip Hemiarthroplasty: A Case Report Putra, I Made Prema; Sudiantara, Putu Herdita; Aryawangsa, Anak Agung Ngurah; Wirananggala, Nyoman Bendhesa; Adistaya, Anak Agung Gde Agung; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Publication In-Press
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.80577

Abstract

Background: Position-dependent hypoxemia during spinal anesthesia positioning is uncommon but may pose safety concerns in older patients with unilateral lung disease.Case: An 84-year-old woman with a proximal femoral fracture and clinical radiographic features consistent with left-sided pneumonia was scheduled for bipolar hip hemiarthroplasty. Fracture-related pain and positioning limitations precluded the sitting position and right lateral decubitus, making the left lateral decubitus (LLD) position the only feasible option for spinal anesthesia. During LLD positioning, oxygen saturation dropped to 84-88% without dyspnea and promptly improved after returning to the supine position. Ancillary evaluation showed preserved biventricular systolic function (left ventricular ejection fraction 60%, TAPSE 19 mm), and no sonographic evidence of pulmonary edema. Spinal anesthesia was performed in the LLD position using 7.5 mg of 0.5% hyperbaric bupivacaine with 50 mcg intrathecal morphine. The surgery proceeded with a supine-position modification and remained hemodynamically and respiratory stable without intraoperative complications.Discussion: In unilateral pneumonia, placing the diseased lung in the dependent position can exacerbate ventilation perfusion mismatch and functional shunt, leading to reversible positional hypoxemia. Older adults may exhibit silent hypoxemia without overt dyspnea, so continuous monitoring during positioning for neuraxial anesthesia is crucial. In this case, the reproducible pattern of desaturation confined to the LLD position, with rapid improvement in supine and absence of cardiac decompensation or pulmonary edema, strongly supported a positional ventilation perfusion mechanism rather than primary cardiac failure or global ventilatory impairment.Conclusion: This case highlights the “bad lung down” phenomenon as a cause of silent, position-dependent hypoxemia during spinal positioning in an octogenarian with left-sided pneumonia. Early recognition of positional desaturation and simple modification of the operative position can help maintain intraoperative safety without abandoning regional anesthesia.