Istnan Hidayatullah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ETIKA MULTI-RELIGIUSITAS MENURUT ISLAM Istnan Hidayatullah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 1 No. 1 (2024): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/9phvyt35

Abstract

Artikel ini membahas etika multi-religiusitas perspektif ajaran Islam. Tulisan ini berangkat dari fenomena aktual di mana kehidupan masyarakat yang beragam keyakinan rentan mengalami gesekan, polemik, hingga konflik berdarah. Penyebabnya tentu karena kekosongan etika yang menjadi landasan untuk hidup damai berdampingan. Penulis lalu mencari ruang-ruang yang memungkinkan konstruksi etik dari spirit ajaran Islam. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan hermeneutik dan sosiologis. Hasilnya, Islam merupakan agama yang sejak mula sangat terbuka dan menerima keragaman sebagai sebuah realitas sosial. Ajaran Islam merupakan ajaran yang menganggap perbedaan sebagai sebuah rahmat. Karena merupakan sebuah rahmat, maka tidak boleh ada dominasi yang mengekslusi keyakinan lain. Di sini, akhlak, yang notabene merupakan misi utama ajaran Islam, harus menjadi isu yang mengarustama dalam kehidupan multi-religiusitas. Islam harus menjadi lokomotif terciptanya tatanan masyarakat yang rukun kendati dibayang-bayangi perbedaan keyakinan.
KONSEP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FRIEDRICH WILLHELM NIETZSCHE Moh. Hidayat; Saude; Istnan Hidayatullah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 1 No. 2 (2024): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/jxecex72

Abstract

Setiap masa memiliki caranya sendiri untuk bagaimana menempatkan manusia dan masyarakatnya dalam jalur-jalur yang tepat. Setiap perubahan yang terjadi selalu dimulai dari kenyataan bahwa cara-cara yang lama sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Dalam kerangka ini, penulis menyelami pemikiran Friedrich Willhelm Nietzsche tentang filsafat manusia terkhusus konsepnya tentang manusia unggul (ubermensch). Bagi Nietzsche, ubermensch merupakan sebuah dorongan untuk menjadi manusia yang bermental tuan dengan kehendak akan berkuasa dan berani melintasi kehidupan ini tanpa ada paksaan dari keyakinan apapun. Tawaran Nietzsche tentang manusia unggul (ubermensch) merupakan bagian penting bagi kehidupan sosial karena mampu memfilter term kebenaran yang menipu. Dari kesimpulan yang diperoleh, Nietzsche manganjurkan agar kita menerima realitas secara utuh, sebab menerima kebenaran dan kesalahan adalah bagian dari realitas hidup. Dan pada akhirnya menghasilkan manusia yang berkehendak berdasarkan dorongan dirinya untuk menghadapi realitas dengan berani dan apa adanya.
ANSWERING THE CLIMATE CRISIS BY REDESIGNING SCIENTIFIC BUILDINGS BASED ON THE UNIFICATION OF EPISTEMOLOGY AND AXIOLOGY (A Study of al-Farabi's Philosophy): MENJAWAB KRISIS IKLIM DENGAN MERANCANG ULANG BANGUNAN ILMIAH BERDASARKAN PENYATUAN EPISTEMOLOGI DAN AXIOLOGI (Studi tentang Filsafat al-Farabi) Istnan Hidayatullah; Kamridah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qbpp8871

Abstract

Abstract This article explores ideas for addressing the climate crisis by redesigning the structure of knowledge based on the integration of epistemology and axiology from the philosophical perspective of Al-Farabi. This article aims to address gaps in studies regarding the reconstruction of scientific knowledge in the context of confronting the climate crisis from an Islamic philosophical perspective. To date, no research has specifically examined how Al-Farabi’s philosophy contributes to the construction of knowledge grounded in the integration of epistemology and axiology. This article is the result of qualitative research on Al-Farabi’s works as well as other works from journal articles, conference proceedings, books, and online literature discussing the issues of knowledge reconstruction and the climate crisis. Al-Farabi’s views were examined using a descriptive-analytical method with a hermeneutic approach. The research findings indicate that Al-Farabi’s philosophy addresses the issue of unifying epistemology and axiology through the concept of the active intellect (al-aql al-fa’al). Furthermore, Al-Farabi recommends that the study of knowledge be comprehensive, ranging from partial knowledge (juziyat) to universal knowledge (kyulliyat). This recommendation is intended to ensure that the knowledge acquired is holistic rather than merely theoretical. Such holistic knowledge will guide attitudes in practice so that the effects of science do not harm the environment but, on the contrary, help to protect and preserve it. Moreover, Al-Farabi also posits that ethics must be integrated into science. This fusion of holistic knowledge and ethics reflects the unification of the epistemology and axiology of knowledge. This study contributes to the fields of Islamic philosophy, interdisciplinary studies, and contemporary scientific and ecological research..