Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Urgensi Penerapan Prinsip Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik Kampus: Studi Kasus Kantin UIN Gusdur Aulin Hanani; Eska Rojwa Fauziah; Dewi Cahya Ningsih; Muhammad Jamal Aldin Al-Afqhoni At-Sauriy; Rissa Shofiani
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpb.v15i4.3617

Abstract

Penelitian ini mengkaji urgensi penerapan prinsip kesantunan berbahasa pada ruang publik non-formal kampus, dengan mengambil studi kasus di Kantin UIN Gusdur. Kantin ini berfungsi sebagai ruang interaksi dinamis berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, dosen, karyawan, dan pedagang. Fokus utama adalah menganalisis implementasi atau pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa, ditinjau dari empat kriteria: ketepatan bahasa, kelancaran, kesopanan, dan efektivitas komunikasi. Konsep efektivitas komunikasi dan kelancaran didasarkan pada prinsip kerja sama (cooperative principle) dari H. P. Grice. Sementara itu, kesopanan dan kepatuhan pada maksim penghargaan serta pemufakatan berakar pada prinsip kesantunan (politeness principle) oleh Geoffrey Leech. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan partisipatif moderat terhadap interaksi verbal transaksional. Hasil analisis menunjukkan bahwa komunikasi di Kantin UIN Gusdur secara umum berlangsung efektif, lancar, dan menjaga kesantunan. Meskipun terdapat penggunaan bahasa lisan yang sangat non-formal, seperti penyingkatan kata, penghilangan kata kerja, dan fenomena campur kode dan alih kode, hal ini justru berfungsi untuk meningkatkan keakraban sosial dan kelancaran komunikasi, sekaligus merefleksikan budaya lokal Pekalongan. Penggunaan sapaan hormat ("Bu," "Om") dan ungkapan lokal ("Monggo," "Maturnuwun," "Nak") menunjukkan kepatuhan yang kuat terhadap maksim penghargaan dan pemufakatan.
Fenomena Alih Kode dan Campur Kode dalam Interaksi Mahasiswa di Pekalongan Eska Rojwa Fauziah; Nadifa Nurul Aina; Dita Ayu Purwanti; Nazwa Mirda Maisari; Wirayudha Pramana Bhakti
Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya Vol. 3 No. 6 (2025): Desember : Morfologi : Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya
Publisher : Asosiasi Periset Bahasa Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/morfologi.v3i6.2465

Abstract

This study analyzes the sociolinguistic phenomena of code-switching and code-mixing in the academic context of students in Pekalongan, Central Java. As a region with diverse backgrounds dominated by the Pekalongan dialect (Ngapak Javanese), interactions between students create space for complex language dynamics. This study aims to identify variations, roles, and factors that cause code-switching and code-mixing in student interactions. The method applied is descriptive qualitative with data collection through inactive participant observation, recording, and in-depth interviews at various universities in Pekalongan. Data analysis is carried out through the steps of data reduction, data presentation, and verification using triangulation techniques. The results show that the application of language codes is divided into two categories: an internal category that includes Indonesian and regional languages (Javanese), and an external category that includes foreign languages (English or Arabic). Code-mixing can be found at the word, phrase, and clause levels. The main factors that drive this phenomenon include participants, conversation themes, situational circumstances, and the purpose of communication in building solidarity among group members (ingroup).  The Pekalongan dialect plays a crucial role as a means of communication to build closeness and demonstrate local identity, amidst the need to use formal language on campus. This research concludes that code-switching and code-mixing are not merely linguistic phenomena, but also ways in which students adapt socially to balance their cultural identity with academic demands.