Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN STRATEGIS ATASE PERHUBUNGAN KONSULAT JENDERAL REPUBLIK INDONESIA (KJRI) JEDDAH DALAM IMPLEMENTASI KERJASAMA TRANSPORTASI DAN LOGISTIK INDONESIA – ARAB SAUDI DALAM KONTEKS MoU BILLATERAL: THE STRATEGIC ROLE OF THE TRANSPORTATION ATTACHE AT THE CONSULATE GENERAL OF THE REPUBLIC OF INDONESIA (KJRI) IN JEDDAH IN THE IMPLEMENTATION OF INDONESIA–SAUDI ARABIA TRANSPORTATION AND LOGISTICS COOPERATION WITHIN THE CONTEXT OF A BILATERAL MOU Madalia Faza; Zaky Ismail
Journal of Administration and International Development Vol. 5 No. 2 (2025): JAID: Journal of Administration and International Development
Publisher : Polteknik Imigrasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52617/jaid.v5i2.760

Abstract

Dengan meningkatnya kebutuhan mobilitas jemaah haji dan umrah serta peningkatan hubungan perdagangan kedua negara, kerja sama dalam bidang transportasi dan logistik antara Indonesia dan Arab Saudi terus berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran Atase Perhubungan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah dalam pelaksanaan kerja sama transportasi dan logistik Indonesia–Arab Saudi, mengidentifikasi masalah teknis dan diplomatik, dan menjelaskan bagaimana peran ini penting untuk memastikan implementasi kesepakatan kerja sama yang dituangkan dalam berbagai nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Metode kualitatif deskriptif digunakan, dan data dikumpulkan melalui observasi langsung selama magang, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Atase Perhubungan berpartisipasi secara aktif dalam koordinasi teknis penerbangan haji dengan Garuda Indonesia dan Saudia Airlines, pengawasan transportasi darat dengan perusahaan lokal Arab Saudi, dan memfasilitasi pengakuan sertifikasi pelaut Indonesia berdasarkan standar STCW. Namun, kerja sama ini masih menghadapi masalah seperti slot penerbangan yang terbatas, kemacetan lalu lintas selama musim haji, dan kualitas armada transportasi darat yang dimiliki Garuda Indonesia. Secara keseluruhan, kerja sama ini telah terbukti cukup berhasil dalam memastikan bahwa ibadah haji dan umrah berlangsung dengan lancar, memberikan kesempatan kerja bagi pelaut Indonesia, dan memperpendek rantai pasokan logistik bilateral. Peran Atase Perhubungan menunjukkan betapa pentingnya diplomasi teknis untuk menjalankan diplomasi ekonomi Indonesia di luar negeri.
THE INDONESIA GOVERNMENT’S NEGOTIATION WITH THE GOVERNMENT OF SAUDI ARABIA IN PURSUIT OF INCREASING THE HAJJ QUOTA FOR 2025 Madalia Faza
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 1 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18540091

Abstract

This study analyzes the negotiation strategies and dynamics between Indonesia and Saudi Arabia concerning the proposed increase in Indonesia’s Hajj quota for 2025. As background, the research is motivated by Indonesia’s consistently high demand for Hajj pilgrimage—which exceeds the annual quota determined by the Saudi government—and the inconsistent outcomes of previous diplomatic efforts. While Indonesia successfully secured additional quotas in 2023 and 2024, similar success was not achieved for the 2025 Hajj season. The study employs a descriptive qualitative approach, collecting data through in-depth interviews, official documents, reports from the Indonesian Ministry of Religious Affairs, and relevant media publications. Data analysis was conducted interactively using the Miles and Huberman model. The findings indicate that the negotiation dynamics for 2025 were shaped by three main factors. First, Saudi Arabia implemented a strict evaluation of infrastructural capacity, particularly in the Mina–Arafah area. Second, the changes in Indonesia’s governmental structure following the 2024 election affected the continuity of technical diplomacy. Third, the stipulations outlined in the Hajj MoU for 1447 H/2026 AD emphasize that additional quota allocations can only be granted if Indonesia’s technical and operational preparedness meets Saudi standards. From a theoretical perspective, using Oran R. Young’s negotiation framework, these dynamics reveal a shift from interest-based negotiations (as seen in 2023–2024) to constraint-based negotiations in 2025. As a result, Indonesia was granted additional quota only for Hajj officers, not for regular pilgrims. The study concludes that the effectiveness of Hajj diplomacy is contingent upon institutional strength, continuity of technical-level negotiations, and adaptive strategic capacity in responding to evolving Saudi policies.