Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Asas Iudex Non Ultra Petita dalam Kasus Wanprestasi dan Implikasinya pada Hak, Kewajiban, dan Etika Beracara Eka Nurhikmah; Tobing, Daniel Christian P.L.; Aulia, Zahwa; Sadina, Amanda Sela; Richella, Audrianna; Selvina, Rina; Gracia, Jesslyn Huga; Djaja, Nelvina; Jessyln, Michell; Ginting, Yuni Priskila
Jurnal Fakta Hukum Vol 4 No 1 (2025): September
Publisher : LPPM UNIVERSITAS Pertiba Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58819/jfh.v4i1.187

Abstract

Dalam perkembangan praktik peradilan perdata masih ditemukan adanya tindak pelanggaran terhadap asas Iudex Non Ultra Petita Partium, khususnya dalam perkara wanprestasi, yang menimbulkan perdebatan mengenai batas kewenangan hakim dalam memutus perkara. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman hukum terhadap asas tersebut melalui analisis terhadap Putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 268/Pdt.G/2024/PN Smg. Penelitian menggunakan metode pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus dengan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asas Iudex Non Ultra Petita Partium menegaskan batas kewenangan hakim secara normatif dan etis, serta berfungsi sebagai mekanisme pengendali terhadap potensi pelampauan kewenangan dalam putusan perdata. Selain itu, asas ini juga menjamin keseimbangan hak dan kewajiban antara penggugat dan tergugat, serta menuntut profesionalitas kuasa hukum dalam menjaga etika beracara. Dengan demikian, penerapan asas ini secara konsisten dan berintegritas menjadi dasar bagi terwujudnya peradilan yang adil, profesional, dan bermartabat.
STATE ADMINISTRATIVE COURT AND THE PROTECTION OF RELIGIOUS HUMAN RIGHTS THROUGH GOOD GOVERNANCE PRINCIPLES Richella, Audrianna; Darmawan, Christian Indra; Jesslyn, Michelle
EKSEKUSI Vol 8, No 1 (2026): Eksekusi : Journal Of Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/je.v8i1.39453

Abstract

ABSTRACT This study examines the effectiveness of the State Administrative Court (Peradilan Tata Usaha Negara/PTUN) in protecting religious human rights through the application of good governance principles (AAUPB). The urgency of this research lies in the gap between normative legal guarantees and empirical realities, particularly when final and binding court decisions (inkracht) are not implemented. This study analyzes the role of PTUN and the factors behind the ineffectiveness of its decisions. Using a qualitative literature-based approach, this research reviews legal doctrines, regulations, and cases such as GKI Yasmin and HKBP Filadelfia. The findings show that PTUN decisions are often hindered by maladministration, legal evasion, and administrative resistance, including delays and contradictory actions. Structural limitations and socio-political pressures further weaken enforcement. In conclusion, the protection of religious human rights remains largely formal. Strengthening enforcement mechanisms and consistent application of AAUPB are necessary to ensure effective legal protection. Keywords: State Administrative Court, Maladministration, Legal evasion, Religious human rights ABSTRAK Penelitian ini mengkaji efektivitas Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dalam melindungi hak asasi manusia di bidang kebebasan beragama melalui penerapan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AAUPB). Urgensinya terletak pada kesenjangan antara hukum secara normatif dengan realitas, khususnya ketika putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) tidak dilaksanakan. Penelitian ini menganalisis peran PTUN serta faktor penyebab tidak efektifnya putusan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kepustakaan melalui analisis doktrin hukum, peraturan, dan kasus GKI Yasmin serta HKBP Filadelfia. Hasil menunjukkan bahwa putusan PTUN sering terhambat oleh maladministrasi, penyelundupan hukum, dan resistensi administratif seperti penundaan dan kebijakan yang bertentangan, serta diperparah oleh faktor struktural dan sosial-politik. Kesimpulannya, perlindungan HAM masih bersifat formal. Diperlukan penguatan eksekusi putusan dan penerapan AAUPB secara konsisten agar hukum berjalan efektif. Kata Kunci: Peradilan Tata Usaha Negara, Maladministrasi, Penyelundupan hukum, Hak asasi manusia