Meningkatnya penggunaan ChatGPT dalam aktivitas akademik di Indonesia turut memunculkan masalah baru, yaitu kecenderungan pengguna menerima informasi tanpa melakukan validasi. Banyak penelitian sebelumnya hanya menyoroti persepsi atau kemudahan penggunaan, namun belum mengkaji secara mendalam bagaimana interaksi dengan ChatGPT dapat memengaruhi pola berpikir serta kemampuan pengguna dalam memeriksa keakuratan informasi. Celah penelitian ini menunjukkan perlunya analisis empiris mengenai dampak kognitif penggunaan AI generatif. Penelitian ini menganalisis pengaruh interaksi dengan ChatGPT terhadap pola berpikir dan praktik validasi informasi melalui survei terhadap 50 responden serta pengujian eksperimen pada ChatGPT dan Gemini. Survei menggunakan skala Likert, pilihan ganda, dan jawaban terbuka untuk mengetahui intensitas penggunaan, kecenderungan berpikir kritis, dan perilaku verifikasi. Hasil menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT dianggap membantu dan mudah dipahami, konsistensi verifikasi responden cenderung menurun ketika jawaban tampak logis. Pengujian prompt pada dua platform AI menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu menyediakan sumber ilmiah yang dapat diverifikasi secara langsung, bahkan beberapa di antaranya bersifat sekunder. Hal ini mempertegas adanya risiko misinformasi apabila pengguna tidak memiliki kebiasaan validasi yang kuat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi intens tanpa verifikasi dapat membentuk pola berpikir instan dan cepat percaya, sedangkan pengguna yang melakukan cross-check menunjukkan pola berpikir lebih reflektif dan kritis. Penelitian ini penting dilakukan untuk menekankan perlunya literasi evaluatif pada pengguna serta perlunya pengembangan sistem AI yang lebih transparan, akurat, dan mendukung proses validasi informasi.