Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Komposisi Limbah Malam Batik dan Biochar Baglog Jamur terhadap Kualitas dan Emisi Biokokas Mahfudhillah, Hamim Thohari; Santika, Siti Azzahra; Islamiah, Adeecha Cinta
Jurnal Teknologi Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi
Publisher : Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah malam batik dan limbah baglog jamur tiram memiliki potensi tinggi sebagai bahan baku energi alternatif berbasis biomassa. Limbah malam batik mengandung karbon dengan nilai kalor mencapai ±42 MJ/kg, sedangkan limbah baglog jamur memiliki kandungan lignoselulosa tinggi yang berfungsi sebagai perekat alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi limbah malam batik terhadap kualitas dan emisi biokokas berbasis limbah baglog jamur hasil pirolisis. Limbah baglog jamur dipirolisis pada suhu 350–400°C selama tiga jam, kemudian dicampur dengan limbah malam batik dalam variasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% dengan total massa masing-masing 100 gram. Proses pengepresan dilakukan menggunakan mesin Leybold-Heraeus Compact MDP 10-1 dengan tekanan 2 ton. Karakterisasi biokokas meliputi uji proksimat (kadar air, kadar abu, volatile matter, dan fixed carbon), nilai kalor menggunakan Parr-6400 Calorimeter, serta emisi gas buang menggunakan KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan komposisi limbah malam batik meningkatkan nilai kalor dari 20,37 MJ/kg (P10) menjadi 27,31 MJ/kg (P50). Kadar abu menurun dari 30,2% menjadi 24,88%, sedangkan volatile matter meningkat dari 16% menjadi 26,5%. Emisi CO dan HC menurun signifikan, mendekati nol pada campuran ≥20%. Dengan demikian, penambahan limbah malam batik mampu meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi polutan, sehingga biokokas hasil pirolisis layak dikembangkan sebagai bahan bakar ramah lingkungan pengganti kayu bakar untuk sektor industri kecil.   Keywords: alternative energy, bio-coke, batik wax waste, exhaust emissions, mushroom baglog, pyrolysisf
Pengaruh Komposisi Limbah Malam Batik terhadap Kualitas dan Emisi Bio-Kokas dari Biochar Baglog Jamur : Bahasa Inggris Mahfudhillah, Hamim Thohari; Santika, Siti Azzahra; Islamiah, Adeecha Cinta
Casuarina: Jurnal Teknik Lingkungan Vol 3 No 2 (2026): CEEJ APR 2026
Publisher : LRI Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/ceej.v3i2.4991

Abstract

Batik wax waste and oyster mushroom baglog waste have high potential as raw materials for biomass-based alternative energy. Batik wax waste contains carbon with a calorific value of approximately 42 MJ/kg, while mushroom baglog waste has a high lignocellulose content that functions as a natural adhesive. This study aimed to determine the effect of varying the composition of batik wax waste on the quality and emissions of pyrolyzed mushroom baglog waste-based bio-coke. Mushroom baglog waste was pyrolyzed at 350–400°C for three hours, then mixed with batik wax waste in varying concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, and 50%, with a total mass of 100 grams each. The pressing process was carried out using a Leybold-Heraeus Compact MDP 10-1 machine with a pressure of 2 tons. Bio-coke characterization included proximate tests (moisture content, ash content, volatile matter, and fixed carbon), calorific value using a Parr-6400 Calorimeter, and exhaust emissions using a KOENG KEG-500 Automotive Gas Analyzer. Results showed that increasing the composition of batik wax waste increased the calorific value from 20.37 MJ/kg (P10) to 27.31 MJ/kg (P50). Ash content decreased from 30.2% to 24.88%, while volatile matter increased from 16% to 26.5%. CO and HC emissions decreased significantly, approaching zero at mixtures of ≥20%. Thus, the addition of batik wax waste can improve energy efficiency and reduce pollutant emissions, making pyrolysis-derived bio-coke suitable for development as an environmentally friendly fuel to replace firewood in the small industrial sector.