Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Distribusi Makna Idiomatik pada Kolom Komentar CNN Indonesia: Aplikasi Metode Agih Teknik Perluas Hutabarat, Gaby Gabriela; Basaria, Ida; Zega, Tasya Dwi L.S; Amalia, Vira
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4360

Abstract

Ungkapan idiomatik merupakan fenomena linguistik yang krusial dalam Bahasa Indonesia karena memiliki sifat non-komposisional, yakni makna keseluruhan tidak dapat diprediksi dari makna unsur pembentuknya secara langsung. Kompleksitas makna ini menuntut pendekatan analitis yang mampu mengungkap bagaimana idiom berperilaku dalam struktur sintaksis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya variasi tingkat keutuhan struktural idiom yang diyakini berhubungan dengan pola kedistribusian maknanya. Beberapa idiom menunjukkan makna yang sangat padu dan tidak dapat diuraikan, sementara idiom lain masih memungkinkan perluasan tertentu tanpa menghilangkan keidiomatisannya. Untuk menelaah fenomena tersebut, penelitian ini menerapkan metode agih dengan teknik perluas sebagai instrumen utama analisis. Data dikumpulkan secara purposif dari berbagai ungkapan idiomatik yang bersumber dari korpus teks media daring dan media sosial, sehingga mencerminkan penggunaan autentik dalam konteks komunikasi kontemporer. Teknik perluas internal dan eksternal digunakan untuk menguji bagaimana idiom merespons intervensi sintaksis yang dimasukkan ke dalam konstruksi kalimat. Hasil analisis mengungkap dua pola dominan kedistribusian makna idiomatik. Pertama, Distribusi Kaku (Holistik), yaitu ketika idiom tidak menerima perluasan internal dan maknanya muncul sebagai satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dari bentuk dasarnya. Kedua, Distribusi Fleksibel (Spesifik), yaitu ketika idiom tetap mempertahankan keidiomatisannya meskipun menerima perluasan eksternal untuk spesifikasi konteks, sehingga maknanya dapat dipersempit tanpa berubah secara fundamental. Temuan ini menegaskan bahwa teknik perluas merupakan pendekatan metodologis efektif untuk memetakan batas keidiomatisan, sekaligus memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kajian semantik dan sintaksis kontemporer Bahasa Indonesia.
Umpasa dan Nilai Budaya Mangalahat Horbo: Kajian Antropolinguistik Basaria, Ida; Hutabarat, Gaby Gabriela; Habeahan, Marta Erinda; Sembiring, Gressella Sesinta
Realisasi : Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain Vol. 3 No. 2 (2026): April: Realisasi : Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/realisasi.v3i2.1094

Abstract

This article examines umpasa as the determinant of the validity of the Mangalahat Horbo ritual and as a vehicle for transmitting the cultural values of the Batak Toba people from an anthropolinguistic perspective. Mangalahat Horbo is a buffalo sacrifice ritual that functions simultaneously as a cosmological, political, and linguistic event. This study employs a descriptive qualitative approach using three theoretical frameworks: Dell Hymes' (1974) SPEAKING model to analyze the ritual as a speech event, Roland Barthes' (1968) semiotics to dissect the denotative and connotative meanings of umpasa, and Kluckhohn's (1953) theory of cultural values and Sibarani's (2014) local wisdom theory to identify embedded cultural values. The findings reveal that umpasa operates on three simultaneous layers of meaning: pragmatic-performative, social-hierarchical, and cosmological-ecological. Umpasa is not merely an aesthetic ornament but a constitutive element of the ritual that shapes the social and cosmological reality of the Bius community. Eight cultural values are identified: communicative courtesy, adat knowledge transmission, self-restraint, collective responsibility, cultural preservation, cosmological reciprocity, distributive justice, and ecological harmony. This study affirms the urgency of anthropolinguistic documentation of Mangalahat Horbo before the Parhata masters of umpasa diminish further.