Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keterampilan berbicara sebagai komponen utama dalam literasi lisan yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka. Literasi lisan, khususnya keterampilan berbicara, memiliki peran strategis dalam membangun kompetensi komunikasi, berpikir kritis, serta penguatan karakter peserta didik melalui ekspresi verbal yang terstruktur dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang berfokus pada pemetaan indikator keterampilan berbicara serta implementasinya dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur terhadap guru dan siswa yang terlibat dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berbicara dalam Kurikulum Merdeka tidak hanya diposisikan sebagai tujuan pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana pembentukan literasi kritis, kolaboratif, dan reflektif. Peserta siswa menunjukkan peningkatan dalam kejelasan artikulasi, keberanian berbicara, serta relevansi isi tuturan ketika pembelajaran mengintegrasikan aktivitas lisan berbasis proyek atau diskusi. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan literasi lisan sangat ditentukan oleh rencana pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif dan otentik siswa. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan perlunya pelatihan guru dalam pengembangan strategi pembelajaran berbasis lisan, sedangkan makna sosialnya menyentuh pentingnya keterampilan berbicara dalam memperkuat budaya dialogis di lingkungan sekolah