p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sawerigading Aksara
Kristina Marta Noviance
Sanata Dharma University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penanda Fatis Sosial-Politik: Perspektif Pragmatik Diskursif-Integratif Epistemologis Kristina Marta Noviance; R. Kunjana Rahardi
SAWERIGADING Vol 31, No 1 (2025): Sawerigading, Edisi Juni 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i1.1536

Abstract

The objective of this study is to describe the findings on the forms, pragmatic meanings, and functions of phatic markers in sociopolitical internet media, using an epistemologically-based discursive-integrative pragmatic perspective. The data consist of manifestations of forms, pragmatic meanings, and functions of phatic markers in sociopolitical discourse on internet platforms. The substantive data sources are sociopolitical texts containing phatic markers across various online platforms. The data collection method employed is the observation method, using recording and note-taking techniques. Data collection concluded upon the identification of clear classifications and types of data ready for appropriate analysis methods and techniques. The technique applied in the analysis is the comparative relationship technique. This study has produced the following findings: (1) The markers “Come On,” “Yes, Right?” and “Nah” to express the intention to convince; (2) The markers “I apologize inwardly”, “I appreciate”, and “Please…” to build an image and power relations; (3) The markers “Yes, right!”, narrative repetition, and personalization of reality to frame the narrative of optimism; (4) The markers “Nah”, “I am sure”, and “Yes” to express the intention of optimism; (5) The markers “Mr. President”, Causal Structure, and Digital Diction “Banget” as strategies for legitimization, rationalization, and audience adaptation; (6) The phatic markers “If You Can”, “99.9 Percent”, and “Can’t Live Him Back” as strategies for modulation, rationalization, and emotionalization in leadership representation.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil riset bentuk, makna pragmatik, dan fungsi penanda fatis sosial-politik media internet dalam perspektif pragmatik diskursif-integratif berbasis epistemologis. Data berupa manifestasi bentuk, makna pragmatik, dan fungsi penanda fatis sosial-politik dalam media internet. Sumber data substantif penelitian ini adalah teks-teks sosial-politik yang mengandung penanda-penanda kefatisan dalam berbagai platform internet. Metode pengumpulan data yang diterapkan adalah metode simak dengan teknik rekam dan catat. Metode analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode analisis padan ekstralingual. Metode analisis padan ini lazim disebut sebagai metode kontekstual. Selanjutnya teknik yang diterapkan dalam rangka analisis data tersebut adalah teknik hubung banding. Penelitian ini telah menghasilkan temuan-temuan berikut ini: (1) Penanda “Come On,” “Iya, Kan?” dan “Nah” untuk menyatakan maksud meyakinkan; (2) Penanda “Mohon maaf lahir batin”, “Saya apresiasi”, dan “Silakan…” untuk membangun citra dan relasi kekuasaan; (3) Penanda “Iya, kan!”, pengulangan naratif, dan personalisasi realitas untuk membingkai narasi optimisme; (4) Penanda “Nah”, “Saya yakin”, dan “Ya” untuk menyatakan maksud optimis; (5) Penanda “Bapak Presiden”, Struktur Kausal, dan Diksi Digital “Banget” sebagai strategi legitimasi, rasionalisasi, dan adaptasi Audiens dalam Pidato Sri Mulyani; (6) Penanda Fatis Sosial-Politik “Kalau Bisa”, “99,9 Persen”, dan “Nggak Bisa Hidupkan Dia Kembali” sebagai Strategi Modulasi, Rasionalisasi, dan Emosionalisasi dalam Representasi Kepemimpinan.
Politeness, Power, and Identity in Podcast Discourse: an Emic Discursive Pragmatic Analysis of Digital Talk Kristina Marta Noviance; R. Kunjana Rahardi
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4951.82-97

Abstract

Podcast communication has evolved into a significant site of digital public discourse, where norms of politeness are no longer fixed but are continuously negotiated and redefined within dynamic interactions. This study aims to analyze politeness practices in podcast discourse by examining how politeness is constructed, interpreted, and negotiated in relation to power relations and identity formation among speakers. This research employs a qualitative design using an integrative discursive pragmatic approach grounded in an emic–epistemological perspective. The data consist of utterances from naturally occurring podcast interactions. The data sources are selected podcast episodes featuring interactions between hosts and guests. Data were collected through observation methods, employing recording and note-taking techniques. Data analysis was conducted using discursive pragmatic analysis, involving data reduction, categorization of politeness strategies, interpretation of interactional and sociocultural contexts, and meaning-making based on participants’ emic perspectives. The findings reveal that politeness in podcast discourse functions not only to maintain interpersonal harmony but also to assert authority, expertise, and social identity. Speakers with higher symbolic power tend to control interactional norms, while less dominant participants adjust their politeness strategies accordingly. Furthermore, discrepancies between actual politeness practices and conventional theoretical models indicate that politeness is highly contextual and dynamic within digital environments. The implications of this study highlight the need to develop more context-sensitive and adaptive politeness theories in digitally mediated communication, particularly within discursive pragmatics. This research also contributes to fostering more inclusive communication practices and opens avenues for further studies across diverse podcast genres, marginalized speaker groups, and cross-cultural contexts. AbstrakKomunikasi podcast telah berkembang menjadi ruang penting dalam wacana publik digital, di mana norma kesantunan tidak lagi bersifat tetap, melainkan dinegosiasikan dan didefinisikan ulang dalam interaksi yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik kesantunan dalam wacana podcast dengan menyoroti bagaimana kesantunan dikonstruksi, ditafsirkan, dan dinegosiasikan dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan dan pembentukan identitas penutur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan pragmatik diskursif integratif berbasis perspektif emik–epistemologis. Data penelitian berupa tuturan dalam interaksi podcast yang diperoleh dari rekaman podcast autentik (naturally occurring data). Sumber data berasal dari beberapa episode podcast yang memuat interaksi antara host dan narasumber. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis pragmatik diskursif, dengan tahapan reduksi data, kategorisasi strategi kesantunan, interpretasi konteks interaksional dan sosiokultural, serta penafsiran makna berdasarkan perspektif emik partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan dalam wacana podcast tidak hanya berfungsi menjaga keharmonisan interpersonal, tetapi juga menjadi sarana untuk menegaskan otoritas, keahlian, dan identitas sosial. Penutur dengan kekuasaan simbolik lebih tinggi cenderung mengontrol norma interaksi, sedangkan partisipan yang kurang dominan menyesuaikan strategi kesantunannya. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan antara praktik kesantunan aktual dengan model teoretis konvensional, yang menunjukkan bahwa kesantunan bersifat kontekstual dan dinamis dalam ruang digital. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan teori kesantunan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap media digital, khususnya dalam kajian pragmatik diskursif. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik komunikasi yang lebih inklusif serta membuka peluang penelitian lanjutan pada berbagai genre podcast, kelompok marjinal, dan konteks lintas budaya.