Transformasi digital telah menjadi pilar fundamental pembangunan global, namun kesenjangan digital antara perkotaan dan perdesaan tetap menjadi tantangan signifikan. Penelitian ini menganalisis anomali pertumbuhan akses telekomunikasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menantang pandangan konvensional tentang kesenjangan digital. Kesenjangan penelitian yang teridentifikasi adalah kurangnya studi empiris tentang pembalikan tren kesenjangan digital pada tingkat pertumbuhan dan analisis transisi dari kesenjangan akses ke kesenjangan pemanfaatan di konteks perdesaan Indonesia. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana tren anomali pertumbuhan telekomunikasi rumah tangga di perdesaan NTB yang melampaui laju pertumbuhan di perkotaan dapat dijelaskan secara teoretis dan empiris? Penelitian bertujuan melakukan analisis kritis terhadap paradoks pertumbuhan telekomunikasi rumah tangga di perdesaan NTB berdasarkan data sekunder dari BPS Provinsi NTB periode 2014–2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan studi kepustakaan, melakukan analisis komparatif-deskriptif data CAGR, sintesis kepustakaan, dan analisis tematik. Temuan menunjukkan laju pertumbuhan akses internet di perdesaan (21,89%) jauh melampaui perkotaan (10,34%), namun dengan pertumbuhan pengeluaran telekomunikasi yang relatif rendah (1,86%), mengindikasikan adopsi digital melalui jalur non-konvensional. Analisis mengungkap bahwa akselerasi digital di perdesaan didorong oleh intervensi kebijakan infrastruktur dan dorongan fungsional masyarakat yang memandang teknologi sebagai investasi untuk meningkatkan mata pencaharian. Kebaruan penelitian terletak pada presentasi NTB sebagai studi kasus yang membuktikan akselerasi digital perdesaan dapat melampaui perkotaan, menantang model difusi inovasi tradisional. Kesimpulan menunjukkan bahwa meskipun kesenjangan digital tingkat pertama sedang dijembatani, muncul tantangan baru berupa kesenjangan digital tingkat kedua terkait literasi dan pemanfaatan efektif. Rekomendasi mencakup penguatan literasi digital fungsional, pembangunan ekosistem digital terintegrasi, dan edukasi holistik untuk kesejahteraan sosial.