Karina Juniarti Utami
Universitas Islam Al-Azhar Mataram

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

High-Volume, Short-Duration Tourism: Fenomena Baru Industri Perhotelan dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah NTB Asri Rahmawati; Mery Afrianti; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.39-48

Abstract

Industri perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami transformasi struktural fundamental pasca-pandemi COVID-19. Penelitian ini menganalisis dinamika pemulihan hotel berbintang dan non-bintang periode 2021–2024 untuk mengidentifikasi kontribusi sektor perhotelan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder BPS NTB, penelitian menerapkan analisis CAGR terhadap tiga indikator: Jumlah Tamu Menginap (JTM), Rata-rata Lama Menginap (RLM), dan Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan JTM yang spektakuler pada hotel berbintang (CAGR 35,58%), dipimpin oleh hotel bintang 5 (66,44%) yang mengindikasikan fenomena “revenge travel”. Paradoks signifikan muncul pada RLM: hotel berbintang secara agregat mengalami kontraksi (-5,92%) sementara hotel non-bintang tumbuh positif (4,29%). Hotel non-bintang mencatat pertumbuhan TPK agresif (23,49%) dengan pencapaian absolut 1.019.211 tamu, yang mengonfirmasi “demokratisasi pembangunan pariwisata”. Temuan ini mengkonfirmasi evolusi menuju “Hospitality 4.0” yang dicirikan pariwisata bervolume tinggi berdurasi pendek. Polarisasi kinerja menguntungkan segmen luxury dan budget, sementara mid-range menghadapi tekanan kompetitif. Penelitian ini memvalidasi peran hotel sebagai sektor basis ekonomi NTB dan merekomendasikan pengembangan Master Plan Perhotelan 2025-2030 dengan strategi zonasi investasi berbasis segmen, program fasilitasi diferensial, dan implementasi sistem monitoring real-time. Diharapkan rekomendasi ini dapat mengoptimalkan kebijakan pembangunan sektor perhotelan yang berkelanjutan dan inklusif di NTB.
Implikasi Kesejahteraan dan Kesenjangan Digital: Analisis Kritis Disparitas Pertumbuhan Akses Telekomunikasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat Kurun Waktu 2014–2023 Lia Hartini; Baiq Yuniarti Aziza; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.49-59

Abstract

Transformasi digital telah menjadi pilar fundamental pembangunan global, namun kesenjangan digital antara perkotaan dan perdesaan tetap menjadi tantangan signifikan. Penelitian ini menganalisis anomali pertumbuhan akses telekomunikasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menantang pandangan konvensional tentang kesenjangan digital. Kesenjangan penelitian yang teridentifikasi adalah kurangnya studi empiris tentang pembalikan tren kesenjangan digital pada tingkat pertumbuhan dan analisis transisi dari kesenjangan akses ke kesenjangan pemanfaatan di konteks perdesaan Indonesia. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana tren anomali pertumbuhan telekomunikasi rumah tangga di perdesaan NTB yang melampaui laju pertumbuhan di perkotaan dapat dijelaskan secara teoretis dan empiris? Penelitian bertujuan melakukan analisis kritis terhadap paradoks pertumbuhan telekomunikasi rumah tangga di perdesaan NTB berdasarkan data sekunder dari BPS Provinsi NTB periode 2014–2023. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan studi kepustakaan, melakukan analisis komparatif-deskriptif data CAGR, sintesis kepustakaan, dan analisis tematik. Temuan menunjukkan laju pertumbuhan akses internet di perdesaan (21,89%) jauh melampaui perkotaan (10,34%), namun dengan pertumbuhan pengeluaran telekomunikasi yang relatif rendah (1,86%), mengindikasikan adopsi digital melalui jalur non-konvensional. Analisis mengungkap bahwa akselerasi digital di perdesaan didorong oleh intervensi kebijakan infrastruktur dan dorongan fungsional masyarakat yang memandang teknologi sebagai investasi untuk meningkatkan mata pencaharian. Kebaruan penelitian terletak pada presentasi NTB sebagai studi kasus yang membuktikan akselerasi digital perdesaan dapat melampaui perkotaan, menantang model difusi inovasi tradisional. Kesimpulan menunjukkan bahwa meskipun kesenjangan digital tingkat pertama sedang dijembatani, muncul tantangan baru berupa kesenjangan digital tingkat kedua terkait literasi dan pemanfaatan efektif. Rekomendasi mencakup penguatan literasi digital fungsional, pembangunan ekosistem digital terintegrasi, dan edukasi holistik untuk kesejahteraan sosial.
Sektor Pertanian Padi-Jagung Indonesia: Analisis Regulasi Bisnis dan Kinerja Berbasis CAGR 2020–2024 Yusriani Nurul Indah; Nadia Sheptia Anggy; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.27-37

Abstract

Sektor pertanian Indonesia menghadapi kompleksitas regulasi bisnis dalam mencapai kinerja optimal produksi padi dan jagung sebagai komoditas strategis. Studi ini menganalisis efektivitas regulasi bisnis dan kinerja sektor pertanian padi-jagung Indonesia periode 2020–2024 berbasis CAGR. Kesenjangan penelitian teridentifikasi pada minimnya studi yang mengintegrasikan analisis regulasi bisnis dengan kinerja sektor menggunakan pendekatan kualitatif. Pertanyaannya: bagaimana efektivitas regulasi bisnis dalam mendukung kinerja sektor pertanian padi-jagung? Tujuan penelitian adalah menganalisis kerangka regulasi bisnis dan kinerja sektor berbasis CAGR, mengidentifikasi disparitas pertumbuhan, dan merumuskan rekomendasi optimalisasi. Metodologi menggunakan penelitian kepustakaan dengan analisis CAGR terhadap data time series BPS Indonesia dan tinjauan atas sejumlah publikasi ilmiah. Temuan mengungkapkan fenomena “Nasib Berlainan Padi dan Jagung”, di mana padi mengalami kontraksi (CAGR produksi -0,70%) sementara jagung menunjukkan ekspansi kokoh (CAGR produksi +4,02%). Analisis regulasi bisnis mengidentifikasi disparitas efektivitas yang memformulasikan konsep peningkatan produktivitas sebagai kompensasi penurunan luas panen. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan framework analisis multidimensi yang mengintegrasikan 10 dimensi regulasi bisnis dengan pengukuran kinerja berbasis CAGR. Kesimpulan menunjukkan efektivitas regulasi bisnis yang berbeda antarkomoditas dengan 7 dari 10 dimensi menunjukkan efektivitas superior pada sektor jagung. Aspek digitalisasi dan pemanfaatan IoT, Big Data, serta optimasi AI menjadi penting di era pertanian presisi agar dapat dicapai kesejahteraan petani. Direkomendasikan kepada pemerintah dan pemda melakukan adopsi reformasi sistem subsidi berbasis metrik kinerja, penguatan mekanisme kepatuhan regulasi bisnis, dan pembiayaan pengembangan inovatif berbasis matriks kinerja untuk keberlanjutan transformasi pertanian di Indonesia.
Mengapa Digital Gagal Menyerap Tenaga Kerja? Paradoks Nusa Tenggara Barat dan Model Ketenagakerjaan Adaptif Diana Apriilia; Neti Susilawati; Karina Juniarti Utami; Herie Saksono
ALETHEIA: Jurnal Sosial & Humaniora, Inovasi, Ekonomi, dan Edukasi Vol 2 No 1 (2025)
Publisher : Penerbit Indocamp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63892/aletheia.2.2025.61-70

Abstract

Transformasi digital yang diharapkan menjadi solusi pengangguran justru menghadapi kegagalan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Penelitian ini menganalisis paradoks penyerapan tenaga kerja era digital dengan tujuan mengembangkan model kebijakan ketenagakerjaan adaptif. Tujuannya adalah mengembangkan model kebijakan transformatif dengan analisis determinan keberhasilan penurunan TPT, penyebab ketahanan pengangguran urban, strategi diferensiasi kebijakan per daerah, dan model prediktif dampak transformasi digital pada TPT-TPAK. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi komparatif longitudinal periode 2017–2024, penelitian menganalisis data sekunder Badan Pusat Statistik (BPS) dengan perhitungan Compound Annual Growth Rate (CAGR) dan tipologi daerah berdasarkan nilai TPT-TPAK. Hasil menunjukkan tiga paradoks utama: (1) infrastruktur digital tinggi di perkotaan justru memiliki pengangguran persisten, (2) peningkatan TPAK tidak diimbangi penurunan TPT yang proporsional, dan (3) daerah ekonomi tradisional seperti Sumbawa Barat justru mencapai penurunan pengangguran signifikan (CAGR -6,99%). Dikembangkan Spatial-Adaptive Digital Employment Model (SADEM) yang mengintegrasikan strategi digital terdiferensiasi berbasis karakteristik wilayah dengan prinsip integrasi bertahap, pemanfaatan kearifan lokal, dan kombinasi efisiensi digital-ketahanan tradisional. Kesimpulannya, kegagalan penyerapan tenaga kerja bukan disebabkan teknologi melainkan implementasi yang mengabaikan konteks lokal. SADEM menawarkan solusi melalui strategi adaptif: demokratisasi keterampilan digital di perkotaan, peningkatan rantai nilai digital di pedesaan berperforma tinggi, dan revitalisasi sektor tradisional dengan teknologi tepat guna di daerah tertinggal.