Ahmad Supena
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kritik Sastra dalam Cerpen Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu karya Faisal Oddang: Suatu Pendekatan Sosiologi Sastra Eka Sri Pratiwi; Siti Muntapiroh; Ahmad Supena
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.1699

Abstract

Literary works serve as an effective medium for expressing critiques of social issues within a community. The short story Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu by Faisal Oddang portrays instances of oppression and violence experienced by the Tolotang minority group. This study aims to examine the various forms of social criticism present in the story through a sociological approach to literature. The research applies a qualitative descriptive method, with data gathered through literature review, close reading, and note-taking techniques. Content analysis is employed to interpret the data. The findings indicate that the short story addresses themes of authoritarian rule, dehumanization, systemic violence, information control, public resignation, and the erasure of cultural identity. The narrative reveals how power can function repressively, undermining both diversity and human dignity. As such, this story stands not only as a literary creation but also as a symbolic critique of oppressive power structures.
Perlawanan terhadap Kekuasaan dalam Novel “Si Anak Badai” Karya Tere Liye: Tinjauan Sosiologi Sastra Alya Ardna; Astria Novianti Nugroho; Ahmad Supena
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.1741

Abstract

Penelitian yang dipaparkan mengenai perlawanan terhadap kekuasaan dalam novel karya Tere Liye Si Anak Badai. Kajian sosiologi sastra yang mengupas bagaimana sikap Tokoh dan Pengarang yang menggambarkan perjuangan dan interaksi sosial. Kajian ini menjadi titik penting dalam penelitian sebab tidak hanya membahas masalah sosial saja tetapi bagaimana masalah sosial tersebut terjadi di lingkungan sekitar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan mengumpulkan data berupa analisis terhadap novel dan mengkaji fenomena sosial yang terjadi. Hasil dari penelitian menunjukkan terdapat dua poin penting dalam fenomena sosial yaitu, Interaksi sosial masyarakat manowa dan perjuangan Geng Si Anak Badai. Maka penelitian ini dengan hati-hati mengupas bagaimana fenomena sosial terjadi di negara Indonesia tetapi diungkapkan oleh pengarang yang menceritakan fenomena tersebut.
Karya Sastra sebagai Cermin Masyarakat: Analisis Sosiologis Cerpen Neka Karya Eep Saefulloh Fatah Sintia Agustin; Saffanah Dhiyaan; Ahmad Supena
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1745

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra untuk mempelajari cerpen Neka oleh Eep Saefulloh Fatah. Penelitian berfokus pada ranah teks yang menggambarkan perubahan sosial, politik, dan ideologis yang terjadi di Timor Leste setelah kemerdekaan. Sebagian besar kritikus dan pakar sastra berpendapat bahwa karya sastra tidak hanya merupakan produk budaya tetapi juga merupakan sarana estetika yang mengandung konstruksi nilai dan realitas sosial. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, analisis cerpen ini difokuskan pada tokoh, latar, konflik, dan narasi sebagai representasi hubungan antara kuasa, identitas, dan resistensi. Studi menunjukkan bahwa Neka berbicara tentang tujuh masalah utama: ketimpangan sosial-ekonomi, tekanan politik yang disebabkan oleh konflik identitas, kekerasan ideologis, keterasingan sosial, kekerasan berbasis gender, kritik terhadap hegemoni kekuasaan, dan ketegangan antara nasionalisme dan marginalisasi identitas lokal. Melalui cerita yang diceritakan oleh tokohnya, cerpen ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi alat untuk berpikir dan menentang sistem politik dan sosial yang menindas.